Perundingan dalam KTT Iklim di Copenhagen berjalan terlalu lambat. Demikian disampaikan oleh Sekretaris Eksekutif PBB untuk masalah iklim, Ivo de Boer. Kemajuan yang ada masih terlalu sedikit.
Menurut de Boer tempo perundingan harus naik apabila ingin dicapai kesepakatan Jumat (18/12) mendatang. Pada hari itu 120 pemimpin negara akan datang untuk berunding. Menurut Menteri Denmark yang memimpin KTT, Connie Hedegaard, masih banyak perbedaan pendapat mengenai peraturan lingkungan. Masalah penurunan emisi CO2 juga masih rumit.
Khawatir
Sementara itu Kanselir Jerman Angela Markel juga menyatakan khawatir dengan lambatnya perundingan. Pernyataan ini disampaikannya setelah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Berlin. Menurut Markel tidak tersedia banyak waktu lagi. Ia berseru kepada negara berkembang untuk memberikan 'sumbangan konstruktif' terhadap perundingan.
Senin lalu (14/12) para pemimpin Afrika meninggalkan perundingan. Mereka tidak setuju dengan pelepasan Protokol Kyoto. Dalam protokol tersebut negara berkembang tidak diwajibkan untuk menurunkan emisi CO2. Negara-negara kaya menginginkan perjanjian baru terutama karena Amerika Serikat tidak meratifikasi Protokol Kyoto.
Presiden SBY menyatakan kesempatan yang sekarang terbuka di Copenhagen harus segera dimanfaatkan. Ia mengakui negara berkembang harus melakukan lebih banyak lagi untuk menurunkan tingkat emisi CO2. Kesepakatan di Copenhagen menurut SBY sangat dibutuhkan agar bisa diterapkan tahun depan.


















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.