Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Klaas den Tek
Map
Amsterdam, Belanda
Amsterdam, Belanda

Kriminalitas di Balik Etalase Red Light District Amsterdam

Diterbitkan : 19 Oktober 2011 - 11:24am | Oleh Klaas den Tek (RNW)
Diarsip dalam:

Daerah lampu merah Amsterdam sama sekali tidak indah seperti di dongeng-dongeng. Sebaliknya, wilayah ini sarang perdagangan manusia. Anggota dewan kotapraja Lodewijk Asscher sudah bertahun-tahun meneliti dunia penganiayaan dan eksploitasi tersembuyi ini. “Kita harus menghapus citra romantis Red Light District.”

Bagi banyak wisatawan kawasan lampu merah adalah tempat harus dikunjungi ketika datang ke Amsterdam. Tujuannya, tentu saja, melihat-lihat pekerja seksual yang merayu pelanggan dari balik etalase. Red Light District adalah simbol kebebasan di Belanda, simbol toleransi seks dan narkoba.

Prostitusi
Anggota dewan kotapraja Amsterdam Lodewijk Asscher (37) secara politik bertanggung jawab atas Red Light District. Asscher menggaungkan suara yang “tidak Belanda” – Menurutnya, merupakan kekeliruan nasional bahwa akses ke prostitusi dimasukkan ke dalam konsep kebebasan, kebahagiaan dan toleransi. Menurut Asscher, masalah prostitusi sangat dianggap remeh.

Asscher: "Di balik etalase rumah bordil, kriminalitas besar terjadi. Para pekerja seksual dieksploitasi habis-habisan. Paspor mereka disita. Mereka punya hutang fiktif kepada mucikari yang harus mereka lunasi dengan cara melacur. Mereka dianiaya jika tidak bekerja keras.”

Gusur

Pada 2005 Asscher mengusulkan dalam bukunya Nieuw Amsterdam untuk menghapus prostitusi etalase dan menangani perdagangan perempuan di kotanya. Sekarang politikus sosial demokrat itu sudah lima tahun jadi anggota dewan kotapraja Amsterdam. Ia politikus berpengaruh dan sering dijuluki calon pemimpin partai sosial demokrat PvdA di parlemen Belanda, de Tweede Kamer.

Sebagai anggota dewan kotapraja, Asscher telah memberlakukan beberapa kebijakan untuk menekan prostitusi etalase. Misalnya, Amsterdam membeli rumah-rumah dari para mucikari seks. Februari tahun ini sekitar 60 rumah tak lagi jadi markas prostitusi. Kotapraja menggusur semua tempat itu. Etalase-etalase rumah bordil dan coffeeshop akan jadi horeca dan toko-toko “biasa” di masa depan.

Bordil
Tetap saja, 50-90% pekerja seksual tidak bekerja sebagai pelacur dengan sukarela di belakang etalase. Demikian perkiraan polisi Amsterdam. Itu juga berlaku untuk bordil-bordil legal yang punya izin kotapraja. Ini masalah yang rumit dan sulit, kata Asscher mengakui.

Asscher: “Amat sulit menanganinya, ini membuat polisi dan kehakiman frustasi. Hukumannya juga seringkali terlalu ringan. Lagipula hampir tidak ada kemarahan publik dan kontrol sosial. Beberapa waktu lalu kami berurusan dengan seorang mucikari yang memperkerjakan 110 perempuan dengan kekerasan. Namun masyarakat baru marah ketika lelaki itu kabur.”

Beberapa minggu ke depan Senat merundingkan undang-undang prostitusi. Di masa depan PSK harus berumur minimal 21 tahun, dan bukan lagi 18. Dan melakukan hubungan seksual dengan PSK yang tinggal di Belanda secara ilegal, akan dihukum. Sekarang atau tidak sama sekali, kata Asscher. Jika tidak bisa diatur, larangan bordil harus kembali diterapkan.

Asscher: “Ini kesempatan terakhir. Prostitusi sudah 10 tahun legal di Belanda. Hal ini harus ditangani dengan sangat keras. Di Swedia pelarangan bordil justru berakibat positif: berkurangnya perdagangan manusia. Dan perbudakan di Belanda kan seharusnya sudah lama punah.”

Prostitusi Legal

Pada 2000 pemerintah Belanda memutuskan menghapus larangan bordil. Untuk beroperasi rumah-tumah bordil harus memiliki izin kotapraja, yang dimaksudkan agar posisi PSK lebih baik. Dengan dokumen resmi, PSK tidak akan tergantung kepada mucikasi mereka. Namun penghapusan larangan malah membuat perdagangan perempuan ilegal makin parah.

Diskusi

Sundari Williams 19 Oktober 2011 - 12:42pm

Tempat favorit turis2 Indonesia yang datang ke negeri Belanda; mulai dari orang2 kaya, pejabat hingga anggota DPR/D.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET