Bagaimana proyek bantuan asing bisa berhasil? Salah satu resepnya mungkin bisa diperoleh di Balongsari. Maklum di sana proyek-proyek itu dibangun dari bawah, atas kehendak warga. Jadi bukan diturunkan dari atas.
Bantuan Belanda untuk Balongsari yang warganya terbantai pada tahun 1947, mencakup dua proyek utama. Itulah kredit mikro yang sudah berlangsung sejak 2010 dan pembangunan fasilitas yang masih harus dimulai. Anggarannya mencapai 1,2 juta euro, dipecah menjadi 850 ribu untuk fasilitas dan sisanya, 350 ribu euro untuk proyek mikro kredit ini.
LSM Belanda Hivos menangani kredit mikro ini, bekerjasama dengan dua koperasi, masing-masing Kominda (Koperasi Mitra Kedua) sebagai pengawas dan Komara (Koperasi Masyarakat Rawagede) sebagai pelaksana. Baik Panca Pramudya dari Hivos maupun Suparta, pemimpin Komara merasa puas dengan proyek kredit mikro yang mereka kelola.
Dilihat motivasinya
Ada tiga jenis koperasi yang sekarang berkembang di Balongsari. Pertama koperasi simpan pinjam menggunakan sistem germin, kedua perdagangan tabung LPG kepada warung-warung kecil dan ketiga koperasi pertanian.
Menurut Panca Pramudya, semua anggota koperasi simpan pinjam sistem gremin adalah para ibu. “Mereka dikumpulkan,” demikian Panca, “ada yang beranggotakan lima orang, ada pula enam orang”. Dari sini akan muncul center. “Satu centre terdiri 25 sampai 30 orang atau lima sampai enam kelompok”.
Menurut Panca pada awalnya mereka dikumpulkan setiap minggu untuk dilatih, untuk dilihat motivasinya. “Kalau memang menunjukkan itikad baik dan motivasi bagus, setelah lima kali latihan, mereka bisa menerima kucuran kredit”. Pada putaran pertama ini kucuran mencapai satu sampai dua juta rupiah.
Kredit itu diangsur dalam 52 minggu atau 30 minggu, melalui pertemuan kelompok yang diadakan tiap minggu. Begitu lunas, mereka bisa mengajukan pinjaman tahap kedua. Menurut Panca, kredit tahap kedua ini bisa dalam jumlah yang sama, bisa pula lebih kecil kalau konduitenya tidak baik, tapi bisa juga lebih besar.
Tanggung renteng
Ciri khas sistem gremin ini adalah tanggung jawab bersama. “Jadi tanggung renteng gitulah,” tutur Panca. Kalau dari lima orang ini satu tidak jalan, maka dia akan ditanggung oleh empat orang yang lain. “Jadi kelompok yang beranggotakan lima orang ini bisa saling mengingatkan dan saling menegur supaya temannya tidak main-main”.
Dalam hitungan Suparta, nasabah koperasi kreditnya sudah mencapai 1700 orang, dan buru-buru ditegaskannya ini bukan jumlah akhir. “Kita masih mengembangkan nasabah. Di lapangan kita merekrut nasabah-nasabah yang memang belum mendapatkan kredit dari pihak lain. Syaratnya mereka harus bersedia mengikuti cara-cara germin”.
Menjawab pertanyaan anggota parlemen Belanda, September lalu, Menteri Muda Kerjasama Pembangunan Belanda menyatakan anggota koperasi simpan pinjam ini mencapai 1000 orang. Targetnya 2000 orang. Panca Pramudya dari Hivos optimis jumlah itu akan bisa dicapai. Bahkan menurutnya Komara akan menjadi lembaga yang mandiri.
Lagi pula kegiatan Komara berkembang pada dua cabang lagi, itulah perdagangan tabung LPG dan koperasi pertanian. Menjelaskan cara kerja perdagangan tabung LPG, menurut Suparta, Komara bertindak sebagai pangkalan agen LPG. “Lalu kita mentransfer LPG itu ke warung-warung kecil, jadi warung, bukan ke perorangan”.
Suparta setuju kalau dalam ini koperasinya disebut bertindak sebagai grosir. “Tapi kita sistemnya dikirim langsung ke warung-warung kecil yang lebih dekat kepada masyarakat,” tambahnya. Sejak mulai Juli 2010, sekarang sudah 70 warung yang berlangganan gas pada Komara. “Mereka memperoleh keringanan paling sedikit Rp. 4000, kalau dibandingkan dengan harga eceran,” tutur Panca.
Pasti ada masalah
Proyek terbaru Komara yang dengan antusias diungkapkan baik oleh Suparta, ketuanya, maupun oleh Panca Pramudya dari Hivos adalah kredit usaha pertanian. Baru diluncurkan Desember lalu, nasabah kredit ini sudah mencapai 200 orang. “Tiap satu hektar sawah bisa menerima kredit Rp. 2 juta,” tutur Suparta yang menunjuk bahwa kredit itu digunakan untuk membeli pupuk atau membayar upah penggarap.
Penerima kredit ini adalah pemilik sawah atau petani penggarap. Biasanya mereka menggarap sawah pemiliknya dengan sistem bagi hasil. Karena baru dimulai musim tanam kemarin, masih belum jelas apakah benar-benar berhasil. Tetapi Suparta optimis, bahkan dia sudah tidak sabar lagi menanti panen yang akan berlangsung satu setengah bulan lagi.
Keberhasilan ini tidaklah berarti Komara bebas masalah. “Kalau namanya kredit,” tutur Suparta, “pasti ada masalah”. Dia merasa untung masalahnya masih di bawah tolenransi, di bawah lima persen. Di sinilah manfaat sistem gremin, tunjuk Suparta, karena kegagalan satu anggota akan ditanggung anggota lain.
Keberhasilan Komara baru akan terbukti kalau kelak Hivos bisa melepasnya. Panca Pramudya menunjuk, karena sudah sejak 2010, fokus kegiatan sekarang bukan lagi modal, tapi menguatkan manajemen. Panca melihat anggota sudah mempunyai kesadaran dan rasa memiliki koperasi. “Itu yang akan terus dikuatkan, supaya mereka jadi lembaga mandiri”, demikian Panca Pramudya.
Pemimpin Komara Suparta sementara itu sudah siap dengan proyek berikutnya, itulah kredit peternakan untuk membeli induk sapi. Di Balongsari sudah ada beberapa warga yang berhasil dengan peternakan sapi.

























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.