Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Myrtille van Bommel
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Korban Perdagangan Manusia Diperas

Diterbitkan : 2 Februari 2012 - 5:20pm | Oleh Myrtille van Bommel (Foto: ANP)
Diarsip dalam:

Soal perdagangan manusia, polisi Henk Werson kebetulan saja mendapatinya tahun 1995. Ketika itu ia heran karena para korban tutup mulut terus. Tapi sekarang dia tahu mengapa: mereka terjerat ketergantungan dan pemerasan. "Jala yang fatal",  itulah judul buku Werson yang menulis tentang pengalamannya.

Saat menyidik pembunuhan yang kemungkinan akan berlangsung, Werson menemukan jaringan prostitusi tahun 1995. Perempuan diapaksa menjual diri dan diancam dengan kekerasan luar biasa. Dan semuanya itu tidak pernah cukup, simpul Werson saat menyadap pembicaraan telpon antara Andrej dan "Samantha":

Andrej: “Say, mungkin aja utangmu udah lunas, tapi penghasilanku menciut. Aku nggak bisa terima itu. Jangan lupa kamu dari mana, dasar pelacur. Payudaramu penghasilanmu, dan kalau itu berkurang, aku paku payudaramu. Supaya kamu digantung dengan rantai yang ditusukkan di putingmu. Ngerti?”

Ketika melalui penyadapan berikutnya Werson dengar bahwa ancaman itu memang dilaksanakan, ia bersama rekannya lamgsung bertindak. Perempuan-perempuan tersebut ditangkap dan diinterogasi. Werson beranggapan mereka senang dibebaskan dan akan bersedia buka mulut.

Tapi perempuan-perempuan itu menyangkal semuanya dan mengaku tidak dipaksa menjadi pelacur. Werson bingung.

Proses pembelajaran
Tapi sekarang dia lebih mengerti. “Walaupun kami tahu mereka dipukuli, uangnya dirampas dan sebagainya. Awal-awalnya mereka selalu membela pihak pedagang manusia. Mereka berkata: itu salah saya.”

Korban perdagangan manusia menjadi trauma. Pribadi mereka dirampas, kekerasan adalah kaidah mereka dan rasa kemanusiaan tampak lenyap. Tapi perempuan-perempuan yang bekerja ilegal di Belanda juga sangat tidak percaya polisi. Mereka berasumsi polisi itu korup.

Ketenangan
Kini Werson dan rekan-rekannya memakai cara lain untuk memancing kisah perempuan-perempuan itu. Dalam cara ini, nomor satu adalah kepercayaan.

"Mereka harus diberi ketenangan. Jangan mengejar-ngejar pernyataan. Jadi kami pertama-tama menjelaskan semua peraturan kepada korban perdagangan manusia. Kami membuat mereka berpikir dan mengadakan kontak secara berkala. Mereka bimbang: saya harus cerita atau tidak?”

Cerita beda-beda
Tapi tetap sulit, kata Werson. Kalau sampai jadi kasus pidana, maka perempuan yang sudah trauma itu harus berulangkali menceritakan kisahnya. Kerapkali ceritanya tidak konsisten. Alhasil, pihak pembela pedagang manusia bisa menuduh sang korban tidak kredibel, tidak bisa dipercaya.

Karena itu Werson mendukung pemeriksaan psikis sang korban secara standar. Dengan demikian penilaian kesaksiannya bisa lebih mudah.

Pemeriksaan pelaku
Polisi juga lebih sering mencari bukti terhadap pelaku. Kalau mau lihat sinyal-sinyalnya, perdagangan manusia itu kelihatan, kata Werson
.
“Pria yang memukul dan merampas uang pelacur. Maka dia menggunakan kekerasan untuk meraih penghasilan yang baru saja didapatnya dari kliennya. Jadi yang harus dipertanyakan: apa yang sudah diketahui tentang orang itu? Menurut saya tidak terlalu sulit.”

Tapi, tambahnya, kami hanya bisa bertindak kalau semua instansi, mulai dari kotamadya sampai dengan dinas kesehatan bersedia melapor kalau melihat sinyal-sinyalnya.
 

Bantuan korban perdagangan manusia di Belanda: Saat penyidikan, yustisi mencari bukti tambahan terhadap pelaku. Sang korban – kebanyakan ilegal – ditampung.
 
Para korban berhak tinggal di Belanda selama tiga bulan (Peraturan B9). Kalau bersedia kerjasama dalam proses pidana, izin tinggal bisa diperpanjang. Jika pelaku dihukum, maka sang korban mendapat izin tinggal untuk waktu yang tak ditentukan.
 
Siapa saja yang tidak termasuk peraturan ini, akan dipulangkan ke negeri asal. Di sana mereka akan mendapat perawatan lanjutan. Itu sudah disepakati dengan Belanda.

Korban perdagangan manusia berasal dari Eropa Tengah dan Timur, Afrika, Asia dan Amerika Latin. Werson enggan menyebut jumlah mereka.   

 

Diskusi

Anonymous Mutty 4 Februari 2012 - 12:32pm / Indonesia

Soal perdagangan manusia dan korban wanita terbesar didunia, aku rasa di Indoesia. TKW dan TKI adalah fakta perdagangan manusia secara nyata dalam skala kapal tengker ke berbagai negara sampai jutaan. Akhirnya semuanya menjadi korban seksual majikan sambil kembali ke Jawa dengan membawa serta anak yang telah berusia 1 dan 2 tahun dan ada dalam kandungan. Jadi Indonesia, adalah negara no.1 didunia pedagang wanita terbanyak didunia.

Anonymous 4 Februari 2012 - 11:31am / Indonesia

Baru baru ini, ada seorang penulis dari Inggris, menceritrakan tentang Atlantis yang hilang di Indonesia. Dia mencoba memperlihatkan beberapa aneka ragam bentuk pegunungan yang miripna sama dengan PIRAMID di Mesir dan dalam dugaannya, itulah sejarah Indonesia yang telah berusia 1000 tahun. Gunung gunung itu berada di Jawa barat dan kini termasuk dalam penelitian arkiologi untuk menggali mencari pembuktian sejarahnya Indonesia itu. Semoga ditemukan pembuktian bahwa, Indonesia itu berada di Jawa dengan segala gunungnya. Semoga kerajaan Mataram dan Majapahit bisa terungkap sebagai sejarah Jawa kuno dan Indonesia ditempatkan sebagai penggantinya.

Anonymus 2 Februari 2012 - 6:31pm

Pantat semontok itu kalau terlihat di Jakarta, pasti kantor DPR dan MPR di Senayang tutup karena semua anggotanya lagi berkunjung menjenguk para bidadari bidadari malam yang mempesonakan dan menawan semua mata. Untung tidak di Jakarta, bisa bisa tap tap MPR dan UUD 1945 serta pancasila dijadikan semacam wacana kegemaran pria hidung belang.

Marzuki Males 3 Februari 2012 - 4:37pm / Indonesia

Siapa yang bilang bahwa di Indonesia tidak ada wanita penghibur? Walikota Bogor saja menikahi seorang gadis manis yang telah menjadi isteri kedua walikota dimaksud beberapa waktu berlalu. Hampir semua babe babe kelas berduit, semuanya mempunyai wanita pendamping. sering mereka berkunjung ke Eropa, dan aku temui diremang merah malam di Amsterdam, ternyata seorang anggota pemerintahan yang siap beradu taji dengan bidadari mulus dan penuh senyum. Pak mentri ini, katakan saja begitu, tak tahan lagi rasa rindu dendamnya atas prakarsa menarik bidadari malam itu, akirnya, pintupun dibukakan dan simentri itupun masuklah dan berceritra sepuasnya. Selesai ceritra, pak mentri ini, keluar dengan perasaan yang tak terbilang kenangnya. Katanya" tahun depan aku kembali lagi" dan lebih lama tinggal di Amsterdam. Sayonara mester Indonesia kata bidadari malam Amsterdam itu kepada sang mentri dari Jakarta itu.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET