Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 11 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Redaksi Indonesia
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Kontroversi Jalan Daendels

Diterbitkan : 9 Agustus 2010 - 12:18pm | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: Wikimedia Commons)
Diarsip dalam:

Jalan Daendels adalah jalan yang dibangun atas perintah Gubernur Jenderal Belanda Herman Willem Daendels yang menjadi penguasa Hindia Belanda antara tahun 1808 hingga 1811.

Jalan Daendels merentang sepanjang 1000 km menyusuri bagian utara pulau Jawa dan sebagian besarnya menyusuri pantai laut Jawa. Karena itu, jalan ini kemudian lebih dikenal sebagai jalan pantura, akronim dari pantai utara.

Jalan Daendels saat ini menjadi jalur paling penting di pulau Jawa. Apalagi, jalan tersebut menghubungkan ujung barat pulau Jawa di pantai Anyer hingga hampir ujung timur pulau Jawa di Panarukan, Situbondo. Saat ini, jalan tersebut juga menjadi jalur terpendek untuk melintasi pulau Jawa. Sehingga, jalan Daendels menjadi jalur favorit bagi lalu lintas barang dan manusia di Jawa.

Letaknya yang menyusuri pantai utara pulau Jawa memberinya nilai strategis. Di sepanjang jalur yang dilalui jalan Daendels, terdapat puluhan pelabuhan besar dan kecil. Mulai pelabuhan internasional seperti Tanjung Priok di Jakarta, Tanjung Perak di Surabaya hingga pelabuhan pendaratan ikan nelayan tradisional di Tuban dan Panarukan.

Selain itu, di sepanjang jalan Daendels pula ada ribuan pabrik besar, menengah dan kecil. Mulai industri berat seperti Semen dan Pupuk di Gresik, pabrik baja di Cilegon dan Lamongan hingga industri kecil terasi di Palang, Tuban.

Awalnya, jalan tersebut dimaksudkan Daendels sebagai jalur mobilisasi tentara antara Batavia dan Surabaya untuk pertahanan pulau Jawa dari serangan Inggris. Selain itu, jalur tersebut juga digunakan untuk jalur pos dan penumpang.

Menurut catatan, pada tahun 1810 Daendels memerintahkan membeli 200 ekor kuda untuk melayani angkutan pos dan penumpang di sepanjang jalur itu. Hingga kini pun, jalan Daendels masih merupakan jalur angkutan barang dan jasa yang belum tergantikan dan belum ada pesaingnya di pulau Jawa.

Namun, dibalik peran strategis jalan Daendels selama 200 tahun terakhir, pembangunan jalan Daendels juga mendapat reaksi keras dari para aktivis dan intelektual. Sebab, jalan tersebut dibangun dengan mengorbankan rakyat Jawa.

Daendels menekan penguasa lokal untuk membangun atau memperlebar jalan yang sudah ada dengan target sekian kilometer dan dalam waktu satu tahun seluruh jalur trans Jawa itu harus sudah selesai. Jika gagal memenuhi target, penguasa lokal tersebut beserta para pekerjanya akan dibunuh dan kepalanya digantung di kanan- kiri jalan yang sedang dibangun.

Akibatnya, para penguasa lokal mengerahkan rakyatnya untuk bekerja keras tanpa imbalan. Sehingga, banyak diantara mereka yang menjadi korban kelaparan. Selain itu, serangan malaria juga menjadi pembunuh kedua setelah kelaparan.

Menurut sumber Inggris, 12.000 orang tercatat tewas dalam pengerjaan proyek raksasa itu. Tapi, jumlah korban sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

Pembangunan jalur yang sejak beroperasi pada tahun 1809 hingga hari ini menjadi jalur utama mobilisasi barang dan penumpang di pulau Jawa pun menjadi kontroversi. Di satu sisi, peran strategisnya hingga hari ini belum tergantikan. Sementara di sisi lain, pembangunannya telah mengorbankan ribuan nyawa yang menurut sastrawan Pramoedya Ananta Toer adalah genosida manusia Jawa.

Oleh: Prayogi R Saputra

Artikel ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi. Demi menjaga keaslian, artikel diterbitkan tanpa proses editing dari redaksi. Dalam beberapa kasus, Ranesi hanya mengubah judul untuk keperluan teknis. Isi dan format di luar tanggung jawab Ranesi.


 

Diskusi

Haryo 16 Desember 2011 - 1:19pm / Indonesia

belanda sangat lah kejam, 350 th kita di jajah, berapa generasi saj tuh, tp anehnya ketika ada orng belanda datang, kita sambut dengan meriah, bahkan para cewek tuh matanya ijo, aneh-aneh, sebaiknya kita gantung orang belanda tiap tanggal 17 agustus

Haryo 16 Desember 2011 - 1:19pm / Indonesia

belanda sangat lah kejam, 350 th kita di jajah, berapa generasi saj tuh, tp anehnya ketika ada orng belanda datang, kita sambut dengan meriah, bahkan para cewek tuh matanya ijo, aneh-aneh, sebaiknya kita gantung orang belanda tiap tanggal 17 agustus

Arogan 18 April 2011 - 9:19am / Indonesia

Dizaman Daendles 1800 itu, nama Indonesia tidak ada, yang ada ialah Jawa. Nah sekarang, Indonesia itu ada dan terus membuat berbagai peraturan dan hukum, seakan mau menentang segala keputusan international tentang hukum laut dan hukum international lainnya. Now, now, now, ini juga ada sedikit kemiringan dalam urusan hukum di Indonesia kalau begini jadinya. Dipaksakan agar dunia mendengar tuntutannya, sementara pemerintahnya melanggar dan melawan semua ketentuan hukum international, jangan dibicarakan. Aaa, ini benar benar ayam beranak bebe. Tipu lagi tentang hukum. Jadi hukum mana yang benar, hukum Juanda atau hukum international? Tipu lagi, tipu lagi.

Martin S 10 Agustus 2010 - 6:37pm / Indonesia

Inggris melihat malaka dan serawak sangatlah strategis dalam jalur perdagangan, maka dicipluklah wilayah itu dari jajahan Belanda. Setelah malaka dan serawak dicaplok Inggris dari tangan Belanda, dikarenakan gubernur Mr X yang berkuasa waktu itu kurang cakap alias telmi. Maka dikirimlah penggantinya gubernur jendral HW Deandels untuk mengatur siasat bin strategi menghadapi expansi Inggris. Lantas dibuatlah jalan poros Jawa antara Anyer sampai Panarukan. Jalan Panarukan sampai Banyuangi diteruskan oleh Rafles. Ba+bel=Belanda. H O R A S

manusia 30 April 2011 - 9:04am / Indonesia

Tapi pada waktu itu, nama Indonesia sudah ada atau belum? lalu darimana datangnya nama itu untuk mencapai seluruh Hindia belanda? Apa persetujuannya? Dimana persetujuannya dan kapan persetujuannya?

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET