Laporan Dana Alam Sedunia (WWF) yang dirilis Rabu (08/02) mengatakan perusahaan Indonesia Asia Pulp & Paper bertanggung jawab atas sejumlah besar kerusakan hutan di Sumatera.
Selanjutnya WWF mendesak berbagai perusahaan dan konsumen Amerika berhenti membeli produk yang merusak hutan tropis Indonesia. Demikian tulis situs Jakarta Globe.
"Kami mendapatkan dua merek yang dijual di Amerika Serikat - Paseo dan Livi - dibuat dari kertas Asia Pulp & Paper (APP), perusahaan yang sangat bertanggung jawab atas kerusakan hutan di Sumatra dibandingkan perusahaan lainnya."
Paseo adalah salah satu merek tisu terkenal di Indonesia. Produknya termasuk tisu toilet, serbet makan, serbet dapur dan tisu wajah.
"Hanya tersisa sekitar 400 harimau Sumatera dan kurang dari 2800 gajah Sumatera di alam bebas, habitat ini sangat penting untuk kelangsungan hidup spesies tersebut. Industri pulp, kertas dan kelapa sawit bertanggung jawab untuk sebagian besar penggundulan hutan di Sumatera," tulis laporan tersebut.
Lebih jauh situs Jakarta Globe menulis Oasis, distributor Amerika untuk produk-produk Paseo di sana, mengeluarkan pernyataan di situs mereka berjudul "Oasis Mengundang Kerjasama Industri Barang Kebutuhan Sehari-hari AS Dalam Mengaudit Keberlanjutan Produk Tisu Asal Indonesia."
Saran konstruktif
"Semua ingin kepastian bahwa produk yang mereka beli dari Indonesia memenuhi standar-standar sertifikasi yang diakui secara internasional dan tidak merusak sumber daya alam berharga di negara itu," kata CEO Oasis, Philip Rundle dalam suratnya kepada para pengusaha ritel yang dipasang di situs mereka.
"Tidak ada perusahaan yang sempurna, dan umpan balik yang konstruktif dari berbagai LSM dan pemegang saham lainnya memang diperlukan bagi perusahaan apa saja untuk dapat terus meningkatkan operasinya. Desakan bertindak terhadap produk Indonesia, apalagi tanpa dicek terlebih dahulu, tidaklah konstruktif," kata Rundle.
Laporan WWF juga menyebut himbauannya kepada APP agar menjadi perusahaan yang sepenuhnya berbasis perkebunan dan agar menghentikan pembukaan hutan alam.
Menurut laporan, saat ini beberapa perusahaan eceran Amerika yang menjual produk APP telah menghentikan kerjasama mereka. Mereka mengikuti jejak perusahaan lain termasuk Disney, Tiffany & Co dan Staples.
APP merupakan bagian dari Grup Sinar Mas yang menjual produknya di lebih dari 65 negara. Demikian Jakarta Globe.






















WWF dan LSM Barat munafik... Freeport hancurin Papua cengar-cengir aja..
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.