Senin (31/10) Radio Nederland Wereldomroep, RNW, bersama Vrije Universiteit Amsterdam meluncurkan ‘Kompas Pemilu' online untuk pemilihan parlemen di Maroko.
Kompas Pemilu ini tidak ada sangkut pautnya dengan partai apapun, dan membantu elektorat menentukan pilihan mereka di arena politik. Kompas Pemilu tersedia di www.bosala.nl. Pengunjung situs itu bisa memilih versi Arab atau versi Prancis.
Pemilihan parlemen Maroko berlangsung 25 November. Seusai pemilihan, raja menyerahkan posisinya sebagai kepala pemerintah kepada perdana menteri. Tapi raja tetap sebagai kepala negara.
Peka
Kompas Pemilu ini peka di Maroko yang demokrasinya baru tumbuh. Terutama karena pemerintah di Rabat menerapkan undang-undang pemilu yang melarang semua jajak pendapat dua minggu sebelum digelarnya pemilihan.
Pemred RNW Rik Rensen menjelaskan: "Walaupun Kompas Pemilu bukan jajak pendapat, organisasi-organisasi media di Maroko selaku rekan kerja kami tidak berani menghubungkan nama mereka dengan proyek kami di periode tertentu itu. Mereka takut melanggar undang-undang."
André Krouwel, direktur ilmiah Kompas Pemilu dan pakar politik Vrije Universiteit Amsterdam, menambahkan:
"Dalam pekerjaan ilmiah kami, kami melihat bahwa perubahan demokratis di Maroko lebih bersifat kosmetik ketimbang bersifat mendasar. Partai-partai politik sangat berhati-hati dan tidak jelas soal pendapatnya. Mereka tahu batas-batas kebebasan berpolitik di Maroko, yaitu berdasarkan ketakutan akan perpecahan. Padahal perpecahan justru harus menjadi inti pemilihan."
Kompas Pemilu
Kompas Pemilu ingin merangsang keterlibatan elektorat Maroko dan membantu mereka membuat analisa pribadi tentang lanskap politik. Pertanyaan-pertanyaan dan pendapat disusun bersama pakar-pakar politik Maroko berdasarkan dokumen-dokumen resmi dan pendapat-pendapat jelas partai politik atau ucapan para pemimpinnya.
Netral
Kompas Pemilu independen dan tidak punya ikatan dengan partai, calon atau pemerintah. Instrumen online ini dirancang sedemikian rupa supaya menjamin kenetralan penuh dan transparan. Kompas Pemilu buatan Belanda ini sudah dipakai di 34 negara, termasuk Turki, Kanada dan belum lama ini Tunisia.





















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.