Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Dina Wiyasti
Map
Den Haag, Belanda
Den Haag, Belanda

Komisaris Eropa Akrab dengan Pejabat Indonesia

Diterbitkan : 5 Oktober 2011 - 11:30am | Oleh Dina Wiyasti (RNW)
Diarsip dalam:

Neelie Kroes, Komisaris Eropa untuk portfolio Agenda Digital, pada tahun 80- dan 90-an memiliki hubungan dekat dengan pejabat tinggi pemerintah Indonesia. Hubungan mereka sangat akrab sampai membuat khawatir perdana menteri Belanda yang menjabat saat itu, Ruud Lubbers. Ini dikatakannya dalam biografi Neelie Kroes yang terbit hari ini. Demikian tulis harian Belanda, Spits, Rabu (05/10).

Pelobi Handal
Neelie Kroes menjalankan perannya sebagai pelobi bisnis dengan handal. Tidak salah, tentu saja, bahkan dalam perannya sebagai politikus. Apa yang baik bagi perusahaan Belanda, pastinya juga baik bagi Pemerintah Belanda. Walaupun putri pengusaha ini akhirnya memilih berkarier dalam politik, namun dia tidak pernah melupakan akar bisnisnya.

Sebelum Neelie Kroes menjabat sebagai Komisaris Eropa (awalnya sebagai salah satu kandidat pesaing, kemudian sebagai wakil kepala Agenda Digital), ia telah terlebih dahulu mencetak karier politik di negara asalnya; Anggota Parlemen tahun 1971, Menteri Muda serta akhirnya Menteri Pekerjaan Umum dan Perairan di bawah Perdana Menteri Ruud Lubbers.

Di masa-masa itulah dia mulai menjalin hubungan dengan para penguasa di dalam dan luar Belanda, termasuk Indonesia. Dia diketahui berhubungan baik dengan keluarga Bacharuddin Jusuf Habibie, mantan presiden Indonesia. Habibie, doktor desain dan konstruksi pesawat terbang jebolan Jerman ketika itu masih menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi di bawah pemerintahan Presiden Suharto.

Tante Tien
Zaman ini adalah masa ketika praktik korupsi merajalela di Indonesia. Masa ketika ibu negara dijuluki "Tante Tien," atau "Nyonya 10 persen" karena kehidupannya yang akrab dengan uang pelicin, tulis harian Spits.

Neelie seringkali berada di ranah abu-abu antara publik dan swasta. Jalan hidupnya juga banyak diwarnai oleh wilayah abu-abu ini, yang juga menyebabkannya tahu lebih banyak, mendapatkan kekuasaan lebih banyak, serta lihai memanfaatkannya," kata Lubbers. "Dan ya begitulah. Kombinasikan hal itu dengan keberanian mengambil risiko, enggan berhati-hati dalam bisnis dan sedikit mengambil jarak dengan hal-hal sensitif. Dia benar-benar berdiri di perbatasan."

Ini terutama terjadi di Indonesia.

Fokker
Harian Spits lebih jauh menulis mantan suami Neelie, Bram Peper, menceritakan dalam biografi sang komisaris bahwa hubungan campur aduk politik dan personal juga terjadi dalam perihal Fokker, Swarttouw dan Indonesia. "Neelie bilang sendiri ke saya."

Frans Swarttouw adalah teman lama Kroes yang tahun delapan puluhan menjadi direktur produsen pesawat Fokker. Dia ingin sekali produknya masuk ke Indonesia. Neelie bisa berperan di situ. Lalu terbentuklah berbagai kesepakatan saat itu antara Fokker dan pemerintah Indonesia.

Kemarin juga diketahui bahwa Pangeran Bernhard, bahkan setelah dilarang, tetap melakukan lobi bagi perusahaan Belanda. Neelie Kroes, teman akrab sang pangeran, memintanya di awal tahun sembilan puluhan untuk melobi di Indonesia.

Saat itu Soeharto sempat berseteru dengan menteri Pronk perihal penumpasan pemberontakan di Timor Timur. Belanda bahkan sampai mengancam akan menghentikan pemberian bantuan pembangunan. Dengan lobi, industri Belanda ingin mengirimkan pesan bahwa tidak semua orang di Belanda setuju dengan apa yang dilakukan Pronk. Demikian tulis harian Spits.

Diskusi

Evie W 6 Oktober 2011 - 2:43pm

Penulisan warta di atas merupakan contoh produk terjemahan yang penerjemahnya kurang/tidak menguasai ketatabahasaan bahasa Indonesia. Hm, sangat disayangkan ...

Papuan People Congress 2011 6 Oktober 2011 - 6:02am

Support Papuan People Congress 2011 - http://bit.ly/rhG6Kc

Tomas 6 Oktober 2011 - 5:05am / Anti Orba

Iya..yaa kapan yaa Keluarga Cendana pencopet duit trilyunan rakyat ini bisa mampus dan hartanya bisa disita????????????????????????/

Nurdin 5 Oktober 2011 - 11:20pm

Syukurlah karena Tante Tien Soeharto sudah mampus. Tapi anak cucu dan konco konconya masih saja memiliki sifat Tante Tien, apakah tidak memngganggu persahabatan dengan Neeelie Kroes seperti mantan Mentri Pronk dengan Soeharto? Ibu Nelie, berhati hatilah dengan Indonesia, karena KKN itulah budayanya dan tipu daya itulah kebiasaannya. Awas, tukang copetnya banyak sekali ibu Neelie. Apa lagi kalau rogo saku, itu lebih lihai lagi. Kalau sudah tau bahwa, itu rumahnya penyamun, buat apa kesitu? Itu namanya cari gara gara. Bisa bisa semua uang IMF amblas semuanya.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET