Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Els Boerhof di India
Avatar Johan van Slooten
Map
Andhra Pradesh, India
Andhra Pradesh, India

"Kisah Muluk Sering Mempesonakan"

Diterbitkan : 6 Desember 2010 - 6:46pm | Oleh Johan van Slooten (Foto Els Boerhof)
Diarsip dalam:

Masalah yang dihadapi kredit mikro di India merupakan kelanjutan akibat sangat pesatnya pertumbuhan sektor ini, kata Els Boerhof, dari perusahaan Belanda, Goodwell Investments, yang melakukan investasi pada usaha pelayanan kredit mikro.

Dua mitra bisnis mereka di India, terkena imbasan krisis ini. Dua perusahaan tersebut kini belum berani memberi pinjaman baru, menunggu situasi kembali normal.

Andhra Pradesh
Di negara bagian Andhra Pradesh, pemerintah merupakan penyedia kredit terbesar. Belum lama berselang, pemerintah menyatakan akan menindak tegas penyedia kredit malafide. Bunga pinjaman dari pemberi kredit seperti itu biasanya sangat tinggi, dan mereka sering menggunakan cara kekerasan, jika peminjam tidak mampu melunasi hutang.

Pemerintah menerbitkan kebijakan baru ini menyusul sejumlah kasus bunuh diri di kelompok masyarakat miskin yang merasa putus asa, terutama di kalangan petani. Jika panen gagal, atau karena sebab lain, mereka tidak punya uang untuk melunasi hutang.

Sebenarnya tidak ada data yang menunjukkan bahwa angka kasus bunuh diri meningkat. Namun, mengingat sebentar lagi akan berlangsung pemilu, pemerintah tampaknya memutuskan sekarang saat yang tepat untuk bertindak.

Goodwell Investments
Els Boerhof, dari perusahaan Goodwell Investments, baru saja kembali dari India. Ia menghadiri konferensi besar tahunan mengenai kredit mikro, dengan tema pokok, krisis saat ini.

Menurut Els Boerhof, berbagai berita negatif mengenai kredit mikro bukan berarti kegagalan sistem pinjaman pada pengusaha kecil. "Malah, saya pikir, krisis saat ini akibat keberhasilan sistem kredit mikro," katanya.

"Jika suatu sektor usaha berkembang sangat pesat, pengusaha malafide pun akan tertarik untuk ikut memetik keuntungan. Selain itu, kredit mikro atas dasar komersial, saat ini sudah menjadi saingan berat bagi kredit dari pemerintah, yang mendapat banyak dana subsidi. Tentu pemerintah tidak senang melihat perkembangan seperti itu. Niat pemerintah untuk menindak tegas pengusaha malafide, sebagian, juga merupakan reaksi atas perkembangan tersebut."

Cita Ideal
Perusahaan tempat Els Boerhof bekerja sudah beberapa tahun bertindak sebagai penyedia kredit di beberapa Negara Dunia Ketiga, seperti India, Ghana dan Nigeria. Bertolak dari gagasan ideal, tapi menerapkan pendekatan bisnis.

Els Boerhof sudah melihat akan datangnya masalah ini sejak beberapa waktu lalu. Terutama di negara bagian, Andhra Pradesh, tempat transaksi kredit mikro terbanyak di India.

"Perkembangan yang sedemikian pesat memancing munculnya sekian banyak pengusaha baru. Mereka membujuk calon peminjam dengan berbagai cerita muluk. Banyak orang terjebak oleh bualan seperti itu, dan menanda-tangani kontrak pinjaman yang mencekik leher mereka. Memang, cerita muluk sering membuat orang terpesona."

Penyimpangan
Di India, Goodwell Investments berusaha tidak berhubungan dengan pengusaha malafide. "Kami hanya mau bekerja-sama dengan perusahaan yang juga menghargai prinsip moral dan etika. Memang, dua mitra usaha kami di Andhra Pradesh ikut terpukul oleh krisis saat ini. Namun, saya yakin, mereka tidak melakukan penyimpangan. Karena, kami mengikuti sepak terjang mereka dengan cermat," kata Els Boerhof.

Caranya bagaimana? "Sebelum kami melibatkan diri, kami terlebih dulu menyepakati kode etik. Yaitu pedoman yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, mengenai tata-cara memberi pinjaman pada kalangan miskin, secara jujur dan transparan. Selanjutnya, kami juga ikut duduk di badan seperti Dewan Komisaris. Jadi, kami bisa berhubungan langsung dengan lapisan pelaksana."

Menurut Els Boerhof, dua mitra yang terimbas krisis, nyaris tidak menerima pembayan cicilan hutang dari pelanggan mereka. "Pejabat pemerintah, secara ilegal, menghambat ruang gerak mereka di daerah pedesaan. Rata-rata, mereka hanya mendapat sekitar tigapuluh persen, dari jumlah cicilan pengembalian yang seharusnya mereka terima."

Apakah perlu menyediakan kucuran dana tambahan? Els Boerhof: "Jika perlu membuat ketentuan pembayaran cicilan baru, agar kegiatan usaha bisa berjalan lagi, kami terbuka untuk itu. Jika diperlukan, kami bisa menyediakan dana tambahan. Tapi, hanya jika pemerintah setempat menyediakan aturan main yang jelas."

Upaya Baru
Keadaan ribuan warga miskin India, yang sekaligus meminjam uang ke sana ke mari memang payah, kata Els Boerhof. "Tunggakan kredit mikro bukan penyebab tunggal krisis ini. Jika panen gagal, dan petani miskin tidak bisa melunasi hutang, siapa sebenarnya yang salah? Alam, atau pemberi kredit? Untunglah, sektor ini sekarang sedang giat melakukan berbagai upaya baru. April 2011 nanti, akan didirikan suatu lembaga, tempat untuk melaporkan semua kontrak pinjaman mikro. Dengan demikian, pemberi kredit akan mengetahui, jika calon pelanggan mereka sudah mempunyai hutang di tempat lain."

Pemerintah India menyatakan, bulan Januari mendatang mereka akan menerbitkan ketentuan baru. Padahal, sektor ini membutuhkan penanganan yang jauh lebih cepat. Suatu kebutuhan yang memang pada tempatnya, kata Els Boerhof, "... selama tidak ada yang berubah, yang menjadi korban adalah kalangan pengusaha kecil."

Sikap Bersama Lembaga Belanda
Krisis kredit mikro di India Selatan, juga mengimbas beberapa lembaga Belanda, seperti Triodos Bank, Oikocredits dan perusahaan penanam modal, Goodwell Investments. Tiga lembaga ini mempunyai mitra lembaga penyedia kredit di negara bagian Andhra Pradesh.

Krisis saat ini, bagi mereka bukan kejutan. "Sudah sejak beberapa waktu lalu, kami memperingatkan adanya berbagai penyimpangan," kata Els Boerhof dari Goodwell Investments. "Sebagai sesama lembaga Belanda, kami memang tidak berhubungan langsung satu sama lain. Tapi, sikap kami sama. Kami mendukung kode etik dan visi masa depan yang sama."

Belum ada berita bahwa lembaga Belanda ikut menderita akibat krisis di India ini. Namun, hal ini memang menjadi sumber kekhawatiran kami, kata Frank Streppel, ajun direktur Triodos Investment Management. "Pemberian kredit harus lebih memperhatikan peluang perkembangan peminjam."

Oikocredits belum lama ini menyelenggarakan pertemuan dengan 80 lembaga pemberi kredit, yang aktif di India. "Dalam pertemuan tersebut, prinsip menyediakan perlindungan bagi peminjam merupakan tema penting," kata salah seorang jurubicara lembaga ini. "Kami mempromosikan prinsip pentingnya melindungi kepentingan peminjam. Melindungi kelompok peminjam dari kalangan pemberi pinjaman malafide."

 

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET