Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.
Anung Karyadi sudah mulai mendengarkan Ranesi ketika masih dikenal sebagai Radio Hilversum. “Saya masih ingat di radio kuno bapak saya, Ralin merknya, gelombang-gelombang itu bukan nomor, tapi nama kota. Jadi Ranesi dikenal dengan nama Hilversum. Ada satu gelombang short wave di situ tertulis Hilversum.”
Revolusi besar-besaran
Kelak Anung Karyadi yang bertahun-tahun bergiat di Walhi dan Transparancy International sering menjadi narasumber Ranesi. Ia amat menyayangkan keputusan menutup Ranesi. Menurut pengamatannya pers bebas di Indonesia menimbulkan revolusi besar-besaran.
Media meluap, ada di mana-mana, tapi kebebasan pers tetap terancam. Masih seperti ketika Orde baru. Tetap banyak penganiayaan dan pembunuhan wartawan.
Ada masalah baru menurut Anung Karyadi: “Semula benar-benar terbuka, pasar terbuka, persaingan terbuka. Ini mengundang pemilik-pemilik modal besar. Akhir-akhir ini modal besar mengerucut terutama pada kekuatan politik.”
Dengan demikian media besar sekarang dikuasai oleh kelompok-kelompok politik. Jadi, kebebasan pers memiliki implikasi lain.
“Sayang sekali Indonesia dalam kondisi yang di banyak tempat kebebasan pers terancam ditinggalkan,” sambung Anung. Media dipakai oleh kekuatan politik. “Media yang seharusnya mewakili publik, paling tidak kalau dia media penyiaran, memakai frekuensi publik, ini tidak terjadi, karena media menjadi wakil kepentingan kelompok.”
Posisi strategis
Walaupun masih ada media asing lain di Indonesia menurut Anung, Ranesi punya posisi strategis, informasinya lebih akurat dan lebih netral. Kalau keadaan seperti sekarang dibiarkan, maka menurutnya, seolah-olah media yang dikuasai kepentingan politik itulah yang benar.
“Ranesi bisa menjadi penyeimbang, manakala media dikuasai kelompok-kelompok yang ingin memanfaatkan untuk kepentingan politik kelompoknya”.
Menurutnya Ranesi berbeda dengan media asing lain. Ada nuansa Ranesi dan kedalaman informasi. Misalnya menjelang kemerdekaan Timor Timur informasi Ranesi tidak dimiliki radio lain. Contoh lain kasus Rawagede.
Kepekaan Ranesi
Ranesi memberi ruang pada publik dan menyuarakan yang ada di bawah, memberi informasi lengkap. Akhirnya ada pengakuan bagi para korban perang yang selama ini tidak diakui dan dianggap kadaluwarsa. Ini menunjukkan kepekaan Ranesi.
Kenangan yang disimpan oleh Anung Karyadi mengenai Ranesi? “Waduh ini mengaduk-aduk perasaan saya. Tapi saya punya kesan mendalam. Banyak awak Ranesi saya kenal secara pribadi. Ini memberi kenangan. Sulit sekali bagi saya Ranesi mau tutup. Ranesi sangat spesial buat saya.”


















Bravo Ranesi....
Sangat Di sayangkan sdh lebih 1/2 abad warga indonesia mendapatkan pengetahuan dan sejarah yang sesugguhnya harus di tutup..saya berpendapat bahwa ada ketakutan pemerintah dengan siaran RNW Dlm bahasa indonesia yg memberikan informasi yang uptodate..bahwa kebebasan pers di Indonesia jg tdk Demokratis..
waahh sayang ya ditutup
sukses buat orang² di dalamnya
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.