Para pemimpin negara-negara zona euro mencapai kesepakatan akhir pekan lalu tentang bantuan talangan untuk Irlandia. Sebagai imbalannya, dengan bantuan sebesar 85 milyar euro, Irlandia harus melakukan penghematan besar-besaran.
Tapi itu tidaklah berarti mata uang euro sudah selamat. Maklum Portugal dan Spanyol masih diintai krisis. Berikut sebuah kolom Johan Huizinga.
Pagi hari di bulan Desember 2010. Pesawat kanselir Jerman Angela Merkel meninggalkan bandar udara Zaventem di Brussel. Belum lagi sejam para pemimpin negara-negara Eropa selesai dengan sidang maraton mereka. Mereka tidak berhasil mencapai kesepakatan untuk membantu negara-negara lemah di zona euro. Pada telpon genggamnya sang kanselir melihat bursa Asia anjlok. Frankfurt, bursa Jerman, masih belum buka.
Tak perlu menjamin
Eropa harus selalu menolong negara-negara anggotanya yang lemah dengan dana darurat Uni Eropa. Itu artinya uang pajak rakyat. Soal ini para pemimpin Eropa setuju. Tapi, begitu tuntutan Merkel, pelbagai bank dan pemilik saham juga harus terima mereka bisa kehilangan dana, apalagi kalau itu dipakai sebagai dana talangan.
Merkel sendiri tidak mau pembayar pajak Jerman terus-terusan ikut menanggung dana talangan untuk negara-negara zona euro yang lemah. Kalau satu negara tidak bisa lagi membayar utangnya, pemerintah tetap bersedia mengulurkan bantuan, demikian Angela Merkel. Tetapi, pemerintah itu tidak perlu lagi menjamin bahwa bank-bank yang memberi bantuan akan memperoleh kembali bantuan itu. Demikian usul Kanselir Jerman.
Keluar dari euro
Pemimpin Eropa lain tidak setuju. Kalau itu yang dilakukan, demikian dalih mereka, maka tidak akan ada bank lagi yang sudi mengulurkan bantuan, dan negara-negara zona euro akan ambruk. Karena itu Eropa harus mengerahkan dana daruratnya. Jadi para pembayar pajak di negara-negara yang lebih kuat seperti Jerman akan makin menjadi korban. Merkel tahu alasan seperti ini tidak akan laku di negerinya. Sementara itu, dari Bundestag, parlemen Jerman, makin lantang terdengar seruan supaya Jerman keluar saja dari zona euro.
Alhasil Merkel pulang dengan tangan hampa dan bursa Eropa langsung bereaksi. Suku bunga kredit negara pada Irlandia dan Portugal melonjak tajam. Bagi banyak bank, resiko negara-negara ini tidak melunasi hutang mereka menjadi terlalu besar. Baru kalau ada timbal balik dalam jumlah besar, artinya suku bunga yang tinggi, bank-bank itu bersedia memberi bantuan.
Dalam beberapa hari, ketidakpercayaan pasar uang itu menjalar ke Spanyol dan Italia. Bahkan Prancis yang APBNnya harus menanggung banyak pensiun itu tidak lagi percaya. Orang Jerman sudah muak. Jerman harus kembali pada mark, demikian nama sebuah partai populis baru yang menurut jajak pendapat, dalam dua minggu, bisa meraup seperempat kursi parlemen.
Ulah politisi
Akhirnya, Jerman menghentikan aliran dananya untuk dana darurat Uni Eropa, untuk sementara. Akibatnya operasi bantuan untuk Yunani, Irlandia dan Portugal juga ikut terhenti. Negara-negara ini keluar dari mata uang euro, kembali memberlakukan mata uang sendiri, masing-masing drachma, pint dan escudo. Ketiga mata uang itu juga langsung didevaluasi. Ekspor ketiga negara itu punya harapan lagi, karena harganya lebih murah. Tetapi utang luar negeri mereka masih dalam euro. Mata uang sendiri memang lebih murah, sedangkan euro lebih mahal, sehingga hutang juga akan lebih mahal.
Dalam beberapa minggu, kepercayaan pada euro lenyaplah sudah. Hutang tidak bisa lagi dicicil dan dilunasi. Perbankan kembali menghadapi masalah, dan rakyat berontak. Yang dipersalahkah euro, mata uang inipun akhirnya anjlok.
Kaget, Angela Merkel terbangun. Juga karena pesawatnya mendarat dengan tidak mulus. Merkel menghela napas panjang dan mengambil telpon genggamnya. Bursa Frankfurt anjlok, tetapi euro maish ada. Mungkin ia harus melunakkan tuntutannya. Merkel tahu, dirinya harus berani bertaruh. Kalau nilai tinggi euro hanya berkat ulah politisi, dan itu tanpa aturan main yang jelas, maka cepat atau lambat mata uang Eropa itu pasti akan ambruk juga.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.