Anda di Indonesia sering menulis surat kepada kami, menanyakan ihwal kebebasan seks di Barat, di Belanda pada khususnya. Semuanya kan tidak dilarang, boleh saja, seks bebas, nudis di pantai, toko-toko porno dan sebagainya. Lalu bagaimana dengan pernikahan gay atau pasangan berkelamin sejenis. Kok boleh sih, padahal di Amerika Serikat masih terjadi kontroversi sekitar pernikahan sejenis ini yang dianggap berada di luar moral agama.
Revolusi seks
Nah inilah beda besar antara Belanda dan Eropa pada umumnya dengan Amerika Serikat. Untuk orang Belanda pada umumnya sikap orang Amerika Serikat dianggap terlalu over, bahkan munafik, sok suci. Apa-apa yang berbau seks ditolak namun sebaliknya Amerika lah produsen film porno terbesar di dunia.
Anda masih ingat mantan presiden Clinton yang jajan di luar nikah. Skandal bukan, beda sekali dengan Perancis, di mana mendiang presiden Mitterand justru mengundang putrinya yang lahir dari hubungannya dengan istri gelap untuk tinggal serumah.
Tapi Belanda pun pernah mengalami jaman yang anti seksual lho, dimana seks masih ditabukan. Yang mencolok sikap ini berubah pada tahun 60an, ketika di Belanda terjadi revolusi di segala bidang kehidupan sosial: dari emansipasi perempuan sampai ke kebebasan menentukan sendiri kehidupan seks.
Revolusi budaya ini muncul setelah negara adil makmur Belanda terwujud. Orang mulai memikirkan hal-hal non materialis, kebahagian individual dan budaya apa yang mengekang Nah, ketika saya baru saja datang di Belanda, saya langsung dihadapi dengan sikap bebas orang Belanda ini.
Pertama-tama risih juga, namun lama kelamaan mulai terbiasa juga. Tahun 60an dan 70an memang merupakan dekade-dekade serba boleh, toleran, juga terhadap semua ungkapan yang mungkin berbeda dari apa yang dalam tradisi dianggap normal. Kumpul kebo, seks remaja, penggunaan ganja dan bahkan narkoba keras, hidup dalam komune, kelompok yang saling bagi harta dan partner, sampai ke pasangan sejenis.
Porno diminati turis
Yang mencolok, setelah beberapa lama sikap toleran ini justru dampaknya positif. Porno hanya diminati para turis asing yang mengunjungi Amsterdam, termasuk para turis Indonesia. Orang Belanda pada umumnya bosan juga. Seorang penjaja show porno pernah mengundang kami sekelompok orang Indonesia dalam bahasa Indonesia menggunakan kata-kata jorok khas Indonesia yang ia pelajari dari para turis Indonesia.
Memang pernah beredar cerita ihwal seorang ibu pejabat yang datang bersama suaminya ke Belanda. Katanya tugas memang tapi sang ibu mau belanja juga dan mengajak seorang teman Indonesia menonton show porno. Tanpa malu-malu ibu Indonesia ini masuk teater khas porno itu, kata teman yang menemaninya dengan berkebu-kebu masuk sendiri ingin nonton. Yah, katanya moralis tapi prakteknya lain juga. Nah, inilah hasil positif revolusi seksual tahun 60an di Belanda, sikap terbuka dan non munafik.
Homo harus dibunuh
Namun sikap keterbukaan terhadap seksualitas dan emasipasi perempuan ini, jadi hal-hal yang modern, mengagetkan para pendatang asing yang juga masuk Belanda setelah revolusi budaya di Belanda ini rampung . Mereka pada umumnya berasal dari negara dengan budaya Islam, Turki dan Maroko. Dengan jelas mereka menolak, tapi penolakan ini mereka tuangkan dengan bahasa agama tradisional, yang oleh orang Belanda dianggap kurang ajar.
Baru-baru ini mesjid El Tawheed di Amsterdam masuk pemberitaan karena menjual buku dan brosur yang dianggap menentang budaya toleran di Belanda. Mesjid ini memang dikelola oleh golongan muslim fundamentalis, demikian bisa kita baca dalam koran pagi Trouw.
Mereka menyebar luaskan informasi yang menyerukan jihad terhadap orang Kristen dan Yahudi, yang menurut brosur harus dibunuh. Perempuan boleh dipukul, disunat dan harus meladeni kebutuhan seks suaminya seenaknya saja, dan kaum gay atau homo harus dibunuh dengan melempar mereka dari gedung bertingkat dengan kepala ditundukan ke bawah. Itulah isi brosur yang dijual toko mesjid ini.
Islam jadi negatif
Biadab, itulah reaksi keras para anggota parlemen Belanda. Semua fraksi menuntut mesjid ini ditutup, dan imamnya yang warga negara asing diusir. Nah, untuk kesekian kalinya Islam di Belanda mendapat sorotan negatif. Toleransi di Belanda terhadap mereka ini semakin hari semakin merosot. Memang bukan semua orang Islam setuju dengan ide-ide fundamentalis ini. Ini tidak fair, namun tidak semua orang Belanda bisa membedakan antara Islam yang satu dengan yang lain.
Untuk mereka, Islam adalah simbol yang berlawanan dengan semua hal yang mereka anggap hasil penting dari revolusi budaya tahun 60an: kesamaan dan persamaan peran perempuan dalam kehidupan sehari-hari, posisi kaum minoritas antara lain kaum gay yang sederajad dengan golongan mayoritas, dan hak individual setiap orang untuk menentukan kehidupan seksualnya asal ini tidak merugikan orang lain. Hak-hak ini dianggap banyak orang Belanda sudah mual digerogoti sikap minoritas muslim radikal.
Dari golongan Islam moderat sudah dicoba untuk menenangkan emosi pertama yang muncul dalam masyarakat Belanda, namun saya pesimis apakah ini akan berhasil. Saat ini, baik pemerintah maupun masyarakat Belanda menuntut semua pendatang harus menyesuaikan diri dengan kehidupan di Belanda, kalau mereka menolak karena alsan agama atau apa saja, jangan pilih tinggal disini, demikian diutarakan para politisi Belanda di Den Haag.























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.