Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Kenangan Masa Kecil Obama

Diterbitkan : 8 November 2010 - 11:57am | Oleh Esther de Jong (Foto: Esther de Jong)
Diarsip dalam:

Apabila abu Merapi mengizinkan, maka Presiden Amerika Serikat Barack Obama tiba di Jakarta Selasa (09/11) untuk kunjungan kenegaraan singkat ke Indonesia. Koresponden Esther de Jong bertemu beberapa tetangga Obama.

Indonesia, negara yang pernah ditinggali Obama selama beberapa tahun, ketika ia masih di sekolah dasar.

Ann Dunham, ibu Obama menikah untuk kedua kalinya dengan pria Indonesia. Keluarga tersebut menetap di perumahan di wilayah Menteng Dalam. Saat itu wilayah tersebut baru saja mendapat saluran listrik. Jalanan di rumah mereka belum diaspal dan air juga masih harus diambil dari sumur.

Sementara Barry kecil - nama panggilan Barack Obama di Jakarta - ia suka bermain dengan teman-temannya di wilayah itu serta berlari-lari mengenakan sarung, ketika ibunya pergi bekerja. Ann memberi les bahasa Inggris di Kedutaan Besar Amerika. Setelahnya ia bergulat dengan masyarakat desa di Jawa Tengah meneliti kehidupan mereka.

Kedatangan Ann Dunham mencolok perhatian pada awalnya. Namun ia akhirnya dapat menyatu dengan masyarakat sekitar.

Esther de Jong mengunjungi tempat di mana Presiden Obama makan sayur asam dan tempat di mana Ann Dunham mengajarkan bahasa Inggris kepada tetangganya.

Tukang tek-tek
Djumiati berusia 20an ketika ia mengenal Ann Dunham, satu-satunya orang asing di wilayah itu. Ann duduk bersila di lantai dan mengajar bahasa Inggris kepada dua belas ibu rumah tangga di sekitarnya. Les itu berlangsung di rumah ibu Djumiati, yang masih didiaminya sampai saat ini.

Ann senang perempuan yang maju.

"Walaupun kita semuanya ibu rumah tangga, tapi ya, untuk pengetahuan bahasa Inggris itu bahasa dunia. Jadi beliau itu kumpul di rumah ini, lalu dia minta kita bicara dalam bahasa Inggris," cerita Djumiati.

"Cara dia mengajar: beliau bikin kertas digulung-gulung seperti orang main arisan, Arisan di sini, pakai lotere, digulung. Tiap ibu harus ambil satu gulung kertas. Kebetulan saya dapat: 'How to make a dress', jadi you must speak in English how to declare to make a dress."

Membantu sesama adalah sifat Ann Dunham. Penelitiannya soal bagaimana kehidupan warga pedesaan Jawa. Ia juga membantu Bank Rakyat Indonesia dalam membuat rencana kebijakan yang sampai saat ini membantu 31 juta rakyat kecil mendapat pinjaman mikro.

Prihatin
Ann berintegrasi cepat di wilayah tempat tinggalnya, kata salah satu tetangganya Coenraad Satyakusumah. Ann adalah seorang ibu yang mendidik anaknya untuk prihatin. "Bukan selebriti, bukan elite. Dia mendidik itu secara betul-betul rakyat ini yang saya lihat di pribadi Barack Obama sekarang," ujar Coenraad.

Dan itu menjadi ciri khas Barry. Sewaktu masih kecil, dia prihatin sekali dan mau bergaul dengan siapa saja.

"Gampang sekali. Itu buat saya sekarang menjadi kesan bahwa pergaulan di sini waktu dia masih kecil pasti ada kesannya."

Barry bergaul dengan siapa saja.

"Orang-orang di sini, pendatang, orang gereja. Dia lihat musholla. Buat dia
easy, gampang sekali. Jadi itulah kesan saya utamanya dari ibunya karena buat saya ibunya itu seorang intelektual, seorang pemikir yang bagus, sederhana, tapi ya itu."

Coenraad hanya menyayangkan dia gagal dengan suami pertama dan kedua.

"Tapi itu mungkin adalah bekal untuk membesarkan anaknya sebagai imanah sekarang Obama. Ya itu kesan saya dan ibunya. Tapi saya respek pada ibunya. Karena waktu dia antar Barry ke Hawai pulang ke sini dia terus mengadakan studi tentang ibu-ibu Indonesia, disertasi, saya nggak tahu. Tapi saya cari bukunya."

Menikmati Indonesia
Sementara warga ekspat lainnya menyimpan anaknya di dalam rumah dengan dihantui perasaan takut, Barry kecil diizinkan ibunya untuk menikmati kehidupan di Indonesia. Di halaman belakang rumah mereka ada dua bayi buaya, ayam dan burung.

Usai sekolah, Barry kecil membeli semangkuk bakso di penjaja keliling bersama teman-temannya, cerita Coenraad.

"Di luar itu bergaul sama anak-anak kampung sini. Jadi dia bermain seperti orang kampung. Nah itu yang saya hargai adalah Ann ibunya, dia melihat itu tidak apa2. Dia senang. Hanya dia tetap disiplin di sekolah. Pasti itu. Ann itu sangat sangat cermat."

Coenraad hampir tiap pagi menyapa Ann ketika mengantar anak laki-lakinya itu ke sekolah.

"Dia mengantarkan Obama ke sekolah dan becek. Tapi dia juga harus ke kantor kan? Dia sudah kerja ke
embassy waktu itu. Dia dapat kerjaan somewhere I don't know. Tapi dia itu ngantar Obama ke sekolah karena becek ya dia bawa sepatu pakai sandal. Obama dia bawa. Ke sekolah. Dari sekolah dia terus ke jalan, juga becek. Waktu di jalan kendaraan umum, dia naik, baru pakai sepatu."

Pendidikan
Ibu Obama selalu bangun pagi untuk memberi pelajaran bahasa Inggris buat anaknya. Ia menganggap pendidikan sangat penting. Begitu pentingnya sampai-sampai ia mengirim Barry kembali ke Amerika untuk mendapat pendidikan lebih baik.

Setahun setelahnya Ann menyusul ke Amerika bersama adiknya Maya. Akhirnya para tetangga mendengar Barry mereka menjadi senator di Amerika.

Ibu-ibu yang duduk bersila di lantai selain mendapat pelajaran Inggris dan arisan juga menyampaikan masalah yang mereka jumpai sehari-hari. "Adaptasi itu susah untuk orang dari negara maju ya dari Amerika, tinggal masuk kampung, pecek," cerita Djumiati.

"Tinggal dengan orang yang bermacam-macam ya. Makanan yg bermacam-macam. Jadi orang yang mungkin ibu Ann itu orang yang karena dia menikah dengan orang Indonesia, sebelumnya juga ayahnya Barry orang Kenia, mungkin orang yang senang dengan hal-hal yang baru kali ya tidak semua orang berani ambil risiko."

Risiko itulah yang harus dia hadapi dan harus bisa dia atasi.

"Karena dia bisa menghargai. Mungkin dia secara personality humanis. Dia menganggap semua orang egaliter. Bahwa manusia punya potensi. Semua orang bisa jadi baik kalau dia mau baik. Dia nggak bisa melihat orang
"ini low people". Dia orang yang tidak begitu."

  • Coenraad <br>&copy; Foto: Esther de Jong
  • Coenraad dan Djumiati<br>&copy; Foto: Esther de Jong
  • Tukang bakso di depan sekolah<br>&copy; Foto: Esther de Jong
  • sekolah Asisi<br>&copy; Foto: Esther de Jong

Diskusi

ariewayq 18 November 2011 - 10:19am / Indonesia

by ariewayq
succses for you friend very interesting information and very good hopefully this is beneficial to us, salute ~ FREEBACKLINK | ariewayq | free politic Blog
Obama sebenarnya lumayan baik tapi klo udah jadi presiden ya pasti berubah walaupun dia punya bekal sifat dan adab indonesia. tapi jadi presiden amerika itu sulit selama di kendalikan Yahudi, karna presiden amerika itu di kelilingi 1000 rahib yahudi, obama juga batinya tertekan lho sejak dia di angkat senator...tapi karna demi uang perinsi-prinsip pun terlupakan. obama lupa pesan mama by ariewayq
succses for you friend very interesting information and very good hopefully this is beneficial to us, salute ~ FREEBACKLINK | ariewayq | free politic Blog

Indonesian TEA PARTY 8 November 2010 - 11:41pm / USA

Obama tinggal di Indonesia sekitar umur kira2 10 tahun. Menurut ilmu psikologi, kurun umur tersebut adalah yang paling menentukan dalam menciptakan kepribadian dan pola2 berpikir seorang manusia. Semua pengalamannya, baik bagus atau jelek, masuk ke alam bawah-sadarnya, dan setelah dewasa nanti menetapkan sikapnya, idoeloginya, maupun keputusan2 yang diambilnya. Dalam hubungan ini anda betul sekali ! Obama betul telah BELAJAR dari Indonesia mengenai pengertiannya akan ke-BERAGAM-an (plurality) yang salah-kaprah, yaitu keberagaman (plurality) demi keberagaman itu sendiri. Padahal tidak ada alasan apapun yang menunjukkan bahwa keberagaman itu baik dan patut kita jadikan acuan. Misalnya, pegunungan Alpen di Eropa, New Zealand dan Canadian Rocky Mountain itu INDAH justru karena hutannya terdiri dari pepohonan yang satu macam (seragam). Sebaliknya American Rocky Mountain kurang indah, sebab pepohonannya ber-macam2 (beragam). Secara filosofis, sesungguhnya keberagaman (diversity) punya arti baik jika-dan-hanya-jika dimaksudkan kearah penggunaan sumber daya manusia (human resources) yang efisien. Dalam dunia ilmiah yang patut dipromosi haruslah pakar2 yang benar2 mampu, tidak perduli tergolong ras manapun juga, hingga akibatnya terjadi pluralitas dengan sendirinya. Obama jelas salah-kaprah belajar dari Indonesia, sebab ia memaksakan semua ras ikut-serta dalam posisi2 penting di pemerintah, ilmu-pengetahuan maupun pendidikan tanpa kualifikasi yang sah. Antara lain ia meniru Indonesia jaman Suharto agar sistim nilai dalam buku rapor dihapuskan, sebab menurut Obama, adanya USAHA saja sudah cukup menentukan prestasi seorang murid. Obama juga menganjurkan agar NASA mengikut-sertakan sarjana2 dari negara2 Islam, termasuk Indonesia dalam projek2nya. Wah, bayangkan saja, nanti roket2 NASA gagal total a-la CN-235-nya BJ Habibie gara2 “tali parasutnya putus” (!) Tetapi anehnya, dalam salah-satu wawancara Obama menilai ras2 Asia tidak terpakai dalam sport, terutama basket-ball, sebab badannya tidak cukup tinggi. Hipokrisi demikian ini jelas menunjukkan Obama belajar dari Indonesia, yang selama 65 tahun terbukti pakar dalam ilmu ras-diskriminasi. Sama seperti orang Indonesia, Obama menganggap pemerintahan, ekonomi dan sains & teknologi seperti mode-show belaka. Sama seperti para elite Indonesia, kebudayaan Obama adalah pop-culture (Sean Hannity/Fox News) yang bermutu comberan (Karl Rove: cesspool).

Syukurlah orang Indonesia tidak memperlakukan Obama sebagai orang asing, sebab oleh rakyat Amerika Barack Obama dipandang sebagai Non-American, jika bukannya malahan Anti-American. Hanya orang2 kulit-hitam saja yang menyokong Obama gara2 dendam ras, buktinya, 90% dari mereka memilih Obama, disokong oleh kaum Demokrat yang mediocre dan keblinger. Demokrat yang cukup pintar, misalnya mantan calon presiden Geraldine Ferraro, bilang bahwa Obama bisa memenangkan pemilihan hanya gara2 dia berkulit hitam. Sebabnya, di Amerika orang bule dilarang keras men-jelek2kan kulit-hitam atas dasar political correctness, tetapi sebaliknya kulit-hitam diperbolehkan, bahkan di-sorak2-i dan dipuji sebagai pahlawan, bila berani menghina bule didepan umum.

Pemilihan November 2010 yang baru lalu, yang sering disebut sebagai REFERENDUM atas kepemimpinan Obama, telah membuktikan bahwa rakyat Amerika tidak menyukai Obama. Bukan atas dasar rasisme, melainkan atas dasar FAKTA bahwa Obama telah terbukti gagal total setelah dicoba 18 bulan menjalankan pemerintahan. Hasil2 pemilihan 2 Nov y.l. menunjukkan bahwa Republikan & Tea Party memenangkan suara secara mutlak dalam Kongres, hingga kini statusnya menjadi 234 Republikan vs 181 Demokrat, kemenangan terbesar buat Republikan sejak 60 tahun terakhir. Anehnya, 88% kaum kulit-hitam tetap kepala-batu menilai Obama berhasil, hingga memecah-belah bangsa Amerika. Sama juga halnya dengan sebagian besar (sekali) orang Indonesia. Bukan saja kalangan pemerintahan SBY, tetapi juga golongan oposisi menjunjung tinggi2 Obama, demikian pula para pengusaha, baik keturunan Cina maupun pribumi, demikian pula para Kristen fundamentalis sampai dengan Islam moderat dan Islam radikal, bahkan para teroris Islam, pun rame2 menyokong Obama. Bagi Indonesia jelas Obama adalah tokoh PEMERSATU, sedangkan bagi Amerika Obama adalah pemecah-belah bangsa. Semua programnya bakal dibatalkan dan ditolak mentah2 oleh rakyat Amerika. Maka dari itu paling baik Obama diangkat jadi presiden Indonesia saja. Mumpung sekarang Obama sedang berada di Asia meng-hambur2kan uang kas Negara (a.l. uang tax SAYA), aku usulkan Obama supaya tetap tinggal di Indonesia dan diangkat jadi presiden Indonesia saja, agar ia tidak usah kembali ke Amerika, dimana dia tidak disuka.

Indonesian TEA PARTY 8 November 2010 - 11:39pm / USA

Obama tinggal di Indonesia sekitar umur kira2 10 tahun. Menurut ilmu psikologi, kurun umur tersebut adalah yang paling menentukan dalam menciptakan kepribadian dan pola2 berpikir seorang manusia. Semua pengalamannya, baik bagus atau jelek, masuk kealam bawah-sadarnya, dan setelah dewasa nanti menetapkan sikapnya, ideologinya, maupun keputusan2 yang diambilnya. Dalam hubungan ini Obama betul telah BELAJAR dari Indonesia mengenai pengertiannya akan ke-BERAGAM-an (plurality) yang salah-kaprah, yaitu keberagaman (plurality) demi keberagaman itu sendiri. Padahal tidak ada alasan apapun yang menunjukkan bahwa keberagaman itu baik dan patut kita jadikan acuan. Misalnya, pegunungan Alpen di Eropa, New Zealand dan Canadian Rocky Mountain itu INDAH justru karena hutannya terdiri dari pepohonan yang satu macam (seragam). Sebaliknya American Rocky Mountain kurang indah, sebab pepohonannya ber-macam2 (beragam). Secara filosofis, sesungguhnya keberagaman (diversity) punya arti baik jika-dan-hanya-jika dimaksudkan kearah penggunaan sumber daya manusia (human resources) yang efisien. Dalam dunia ilmiah yang patut dipromosi haruslah pakar2 yang benar2 mampu, tidak perduli tergolong ras manapun juga, hingga akibatnya terjadi pluralitas dengan sendirinya. Obama jelas salah-kaprah belajar dari Indonesia, sebab ia memaksakan semua ras ikut-serta dalam posisi2 penting di pemerintah, ilmu-pengetahuan maupun pendidikan tanpa kualifikasi yang sah. Antara lain ia meniru Indonesia jaman Suharto agar sistim nilai dalam buku rapor dihapuskan, sebab menurut Obama, adanya USAHA saja sudah cukup menentukan prestasi seorang murid. Obama juga menganjurkan agar NASA mengikut-sertakan sarjana2 dari negara2 Islam, termasuk Indonesia dalam projek2nya. Wah, bayangkan saja, nanti roket2 NASA gagal total a-la CN-235-nya BJ Habibie gara2 “tali parasutnya putus” (!) Tetapi anehnya, dalam salah-satu wawancara Obama menilai ras2 Asia tidak terpakai dalam sport, terutama basket-ball, sebab badannya tidak cukup tinggi. Hipokrisi demikian ini jelas menunjukkan Obama belajar dari Indonesia, yang selama 65 tahun terbukti pakar dalam ilmu ras-diskriminasi. Sama seperti orang Indonesia, Obama menganggap pemerintahan, ekonomi dan sains & teknologi seperti mode-show belaka. Sama seperti para elite Indonesia, kebudayaan Obama adalah pop-culture (Sean Hannity/Fox News) yang bermutu comberan (Karl Rove: cesspool).

Syukurlah orang Indonesia tidak memperlakukan Obama sebagai orang asing, sebab oleh rakyat Amerika Barack Obama dipandang sebagai Non-American, jika bukannya malahan Anti-American. Hanya orang2 kulit-hitam saja yang menyokong Obama gara2 dendam ras, buktinya, 90% dari mereka memilih Obama, disokong oleh kaum Demokrat yang mediocre dan keblinger. Demokrat yang cukup pintar, misalnya mantan calon presiden Geraldine Ferraro, bilang bahwa Obama bisa memenangkan pemilihan hanya gara2 dia berkulit hitam. Sebabnya, di Amerika orang bule dilarang keras men-jelek2kan kulit-hitam atas dasar political correctness, tetapi sebaliknya kulit-hitam diperbolehkan, bahkan di-sorak2-i dan dipuji sebagai pahlawan, bila berani menghina bule didepan umum.

Pemilihan November 2010 yang baru lalu, yang sering disebut sebagai REFERENDUM atas kepemimpinan Obama, telah membuktikan bahwa rakyat Amerika tidak menyukai Obama. Bukan atas dasar rasisme, melainkan atas dasar FAKTA bahwa Obama telah terbukti gagal total setelah dicoba 18 bulan menjalankan pemerintahan. Hasil2 pemilihan 2 Nov y.l. menunjukkan bahwa Republikan & Tea Party memenangkan suara secara mutlak dalam Kongres, hingga kini statusnya menjadi 234 Republikan vs 181 Demokrat, kemenangan terbesar buat Republikan sejak 60 tahun terakhir. Anehnya, 88% kaum kulit-hitam tetap kepala-batu menilai Obama berhasil, hingga memecah-belah bangsa Amerika. Sama juga halnya dengan sebagian besar (sekali) orang Indonesia. Bukan saja kalangan pemerintahan SBY, tetapi juga golongan oposisi menjunjung tinggi2 Obama, demikian pula para pengusaha, baik keturunan Cina maupun pribumi, demikian pula para Kristen fundamentalis sampai dengan Islam moderat dan Islam radikal, bahkan para teroris Islam, pun rame2 menyokong Obama. Bagi Indonesia jelas Obama adalah tokoh PEMERSATU, sedangkan bagi Amerika Obama adalah pemecah-belah bangsa. Semua programnya bakal dibatalkan dan ditolak mentah2 oleh rakyat Amerika. Maka dari itu paling baik Obama diangkat jadi presiden Indonesia saja. Mumpung sekarang Obama sedang berada di Asia meng-hambur2kan uang kas Negara (a.l. uang tax SAYA), aku usulkan Obama supaya tetap tinggal di Indonesia dan diangkat jadi presiden Indonesia saja, agar ia tidak usah kembali ke Amerika, dimana dia tidak disuka.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET