Belanda tidak memanfaatkan kekayaan alam di Uruzgan. Terbukti, sejak 2006, pasukan Belanda hanya membangun sekolah dan jalanan di propinsi itu.
Mungkin para insinyur tambang Belanda akan berarti di negara miskin tersebut. Gubenur Uruzgan yang baru saja dipecat Asadullah Hamdam mengetahui pasti, kekayaan alam itu. Sekelompok pemuda Afghanistan dari wilayah tenang Khas di Uruzgan, tiba-tiba datang ke rumah dinasnya setahun lalu. Di tangannya ada bebatuan warna kuning. "Lihat apa yang kami temukan, seru mereka. Gubernur langsung tahu apa yang dilihatnya: Emas.
Minyak dan Emas
Nilai kekayaan minyak dan emas Afghanistan berjumlah ratusan juta dolar, demikian Departemen Pertahanan Amerika. Jumlah itu termasuk kekayaan alam di Uruzgan, pangkalan militer Belanda di Afghanistan.
Mantan gubernur Hamdam tidak mengetahui persis jumlah kekayaan alam di wilayahnya. Namun ia bisa sedikit menjelaskan sumber apa saja yang ada. Di utara ada banyak sekali minyak, kata mantan gubernur itu. Sementara di Uruzgan ada emas, namun juga ada tembaga, batubara dan marmer.
Kekayaan alam itu tidak dimasukkan ke dalam rencana pembangunan kembali NATO untuk Afghanistan. "Itu tidak berperan dalam misi kami,"ujar jurubicara kementerian luar negeri. Hal itu juga dikatakan mantan komandan militer Belanda, Dick Berlijn. Ia terkejut dengan berita soal kekayaan alam tersebut. "Tidak pernah dikatakan sekalipun. Tugas kami sederhana: membantu pemerintah Afghanistan."
Investasi Raksaksa
Kendati demikian eksplorasi minyak dan mineral tidak termasuk dalam tugas tersebut. Penggalian tambang tembaga terbesar kedua di dunia yang belum pernah tersentuh yaitu di Kabul selatan, sudah menghasilkan investasi luar negeri terbesar di Afghanistan, demikian pengawas korupsi Integrity Watch Afghanistan. Cina menanamkan modalnya sebesar 2,9 milyar dolar, atau 43 persen dari anggaran nasional tahun 2006. Integrity Watch positif dengan jumlah pekerjaan yang bisa disediakan untuk penduduk setempat. Namun ternyata ada juga risiko perusakan lingkungan yang besar.
Apakah sebetulnya misi NATO seharusnya membantu pemerintah Afghanistan dengan pertambangan? Ahli pertahanan Ko Colijn menyatakan sangat mencolok kalau NATO tidak pernah membuat perkiraan kekayaan alam di Afghanistan. "Yang dibicarakan hanya cerita-cerita buruk soal narkoba dan korupsi namun tidak soal tambang. Dengan demikian tidak dibicarakan juga soal pengiriman para ahli pertambangan. Angka-angka itu padahal sudah lama diketahui, jadi seharusnya NATO mempertanyakan: jadi apa yang harus kami perbuat?"
Kementerian luar negeri Belanda yang mendukung proyek pembangunan kembali dan memberi dana kepada para petani saffran (bumbu termahal dari bunga) menangkis pernyataan itu. "Itu memakan jutaan euro, membutuhkan banyak keahlian dan selain itu tidak jelas berapa dalamnya tambang-tambang tersebut. Dan kami juga tidak tahu apakah itu menguntungkan secara ekonomi. Itu tak menjadi permasalahan kami," kata jurubicara tersebut.
Jangka Pendek
Pengolahan tambang di sebuah negara miskin merupakan upaya yang sulit, kata Ko Colijn. Jika negara-negara NATO bekerja sama dan beranggapan bahwa ini juga salah satu usaha pembangunan negeri, maka kemungkinan hasilnya baru bisa dinikmati tiga puluh tahun kemudian.
Dan itu juga yang alasan dari misi beberapa negara seperti halnya Belanda yang hanya berkisar beberapa tahun. "Orang berpikir dalam jangka pendek, apa yang dapat kami perbuat untuk saat ini. Orang Belanda tidak mau mendengar, hasilnya baru akan dirasakan tiga puluh tahun lagi."
Mantan Gubernur Hamdam memperlihatkan apa yang ditemukan kelompok remaja itu kepada pasukan Belanda. Itu terjadi setahun lalu. "Namun mereka tidak bereaksi sama sekali."






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.