Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Sabtu 25 Mei  
Papeja FM, Lubuklinggau
Avatar Yunita Rovroy
Map
Lubuklinggau, Indonesia
Lubuklinggau, Indonesia

Kehilangan Informasi tentang Orang Sumsel di Belanda

Diterbitkan : 29 Juni 2012 - 9:00am | Oleh yunita rovroy (Foto: Papeja FM)
Diarsip dalam:

Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.

Terkejut, itulah yang dirasakan Joko Suryono dari Papeja FM, mitra Ranesi di Lubuklinggau, Sumatra Selatan, ketika pertama kali mendengar berita tentang berakhirnya siaran Ranesi. “Selama ini siaran Radio Nederland di kota Lubuklinggau dan sekitarnya sangat bermanfaat sekali.”

Papeja FM, yang menjadi mitra Ranesi sejak tahun 2008, sangat menyayangkan keputusan menutup siaran Ranesi.

“Ini telah kami sampaikan secara langsung kepada Han Harlan (Regional Manager Indonesia di Radio Nederland Wereldomroep RNW, Red.) Kami juga mengisi surat pernyataan bahwa kami menyayangkan dihentikannya siaran Radio Nederland,” kata Joko Suryono ketika dihubungi Radio Nederland.

Warga Indonesia di Belanda
Dengan berakhirnya siaran Ranesi, tambahnya, masyarakat Lubuklinggau dan sekitarnya akan kehilangan sumber informasi tentang perkembangan di negara-negara Eropa serta warga negara Indonesia di Belanda dan kebudayaan Belanda.

Sebagai contoh Joko Suryono menyebut siaran mitra Bari Muchtar, penyiar/pengasuh acara Ranesi yang juga berasal dari Sumatra Selatan.

“Waktu itu kami sempat membahas masalah bagaimana kehidupan orang dari Sumatra Selatan di Belanda, silaturahmi apa yang terjalin di sana, seperti apa komunikasinya dan sebagainya. Bahkan ada warga kota Lubuklinggau yang ikut berkomunikasi dengan Bari Muchtar di Belanda untuk menanyakan langsung bagaimana keadaan keluarganya dan sebagainya.”

Menurut Joko Suryono, Ranesi menjadi seperti jembatan berkomunikasi antara warga Sumatra Selatan dengan keluarga yang tinggal di Belanda.

Managing Director Papeja FM itu merasa ada ikatan sangat luar biasa dengan Ranesi. “Komunikasi dan silaturahmi yang terjalin selama ini sudah seperti keluarga dan saling mengisi. Ketika ada suatu permasalahan yang dihadapi, mitra-mitra selalu dilibatkan untuk membantu, apa pun itu permasalahannya.”

Namun apa boleh buat, keputusan menutup Redaksi Indonesia RNW sudah mutlak.

Tetap ada komunikasi
Joko Suryono atas nama radio Papeja FM mengucapkan terimakasih atas kerja sama yang telah terjalin dengan baik selama bertahun-tahun.

“Saya bingung atas terputusnya hubungan kemitraan ini karena kami merasa dekat sekali dengan kawan-kawan mitra di Nederland. Kami sangat kecewa, tapi berharap tetap ada silaturahmi, komunikasi, baik lewat Facebook ataupun telepon. Kami harapkan itu akan terus terjalin dan semoga kawan-kawan tetap survive dan kita tetap bisa ketemu lagi di lain kesempatan.”

Unduh
Wawancara dengan Joko Suryono dari Papeja FM, Lubuklinggau, Sumatra Selatan

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...