Makin banyak pria homoseksual di Belanda merasa tak aman di jalanan lantaran berbagai kekerasan terhadap mereka belakangan ini. Saat pesta gay tahunan "Gay Pride" di Amsterdam dua pekan silam, sejumlah pria homo dianiaya. Demikian pula di Den Haag. Namun sekarang bangkit gerakan perlawanan terhadap berbagai aksi kekerasan itu. Sejumlah homoseksual mulai mengikuti kursus bela diri.
Enam pria homoseksual yang mengikuti lokakarya S.W.O.T. di sekolah dansa Funk-0-Matic di Amsterdam utara, tampak agak canggung. Pemimpin kursus Gilbert Themen, ahli Wing Chung, menyuruh mereka latihan berdua-dua, tapi mereka masih tampak kaku. Menurut Hans Gijsbertsen, salah satu orang yang ikut kursus bela diri 'tekniknya sulit dan kami cenderung berhati-hati karena lawan kami adalah seorang teman.' Tetapi karena banyak berita tentang kekerasan, maka Gijsbertsen terdorong mengikuti kursus itu. Demikian juga halnya dengan Theo Gommel: 'Kalau suatu ketika saya berada dalam keadaan di mana saya harus berkelahi, saya tidak akan lari tapi akan membela diri. Melalui kursus ini saya mau belajar caranya.'
Orang Maroko
Baik Gijsbertsen maupun Gommel belum pernah dianiaya karena homoseksualitas mereka. Tetapi jumlah laporan mengenai insiden kekerasan terhadap kaum homoseksual meningkat terus. Elie Lust, ketua jaringan homoseksual 'Roze in Blauw' ('Merah muda dalam Biru': merah muda lambang gay dan biru warna seragam polisi, red) polisi Amsterdam-Amstelland, berhati-hati menafsirkan data tersebut. Bahwa laporannya meningkat tidak berarti bahwa jumlah kekerasan juga meningkat.
Kemungkinan para korban lebih cepat melapor kepada polisi lantaran sorotan media terhadap penganiayaan kaum homoseksual. Polisi Amsterdam mempunyai gambaran jelas tentang pelaku tindak kekerasan itu. Ellie Lust: 'Pada umumnya mereka itu anak-anak muda berusia antara 15-25 tahun. Mayoritas pelaku keturunan Maroko. Tiga perempat pelaku tergolong warga pendatang dan seperempat warga asli Belanda.'
Pelatih kursus bela diri adalah Gilbert Themen yang tergabung dalam tim pertahanan S.W.O.T. Sehari-hari, Gilbert Themen, seorang hetero asal Suriname, bekerja sebagai agen polisi. Ia ingin mengajarkan teknik berkelahi kepada kaum homo sehingga mereka lebih mampu mempertahankan diri. Apa yang dipelajari peserta kursus?
Gilbert Themen: "Pencegahan, pengendalian diri, tindakan dan teknik berkelahi, serta teknik bertahan. Pencegahan dapat dipelajari dalam buku bela diri yang saya tulis, pengendalian diri bisa kami ajarkan di sini dan teknik berkelahi saya buat demikian sederhana dengan memperhatikan faktor psikologi. Ya semua memang disederhanakan."
Tongkat baseball
Aparat polisi Amsterdam-Amstelland menyambut gembira gagasan itu, namun tetap memberikan peringatan.
Ellie Lust, ketua jaringan homoseksual: "Anda boleh saja membela diri jika diserang. Anda boleh mempertahankan raga dan barang milik anda. Artinya anda tidak perlu saling memukul. Tapi bagaimana pun kita juga tahu contoh-contoh orang yang main hakim sendiri dalam situasi tertentu. Begitu banyak aksi kekerasan terjadi sehingga mereka sendiri harus diamankan. Jadi sangatlah penting adanya perimbangan. Jika anda dipukul, bukan berarti kemudian anda harus balas memukul dengan tongkat baseball. Bukan begitu maksudnya."
Frank van Dalen, ketua organisasi homoseksual belanda, COC, menyayangkan diperlukannya kursus bela diri. 'Tetapi', demikian Van Dalen, 'kursus itu memang dibutuhkan karena meningkatkanya kekerasan terhadap pria homoseksual. Melalui kursus bela diri itu mereka bisa memulihkan rasa percaya diri. Banyak pria homoseksual yang ingin merasa aman di jalanan. Salah satunya cara adalah kursus ini.' Demikian Frank van Dalen.
























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.