Kelompok ateis di Indonesia semakin banyak jumlahnya. Namun belum semuanya memproklamirkan diri sebagai orang yang tidak memiliki keyakinan beragama. Perlukah membuka "topeng" menyatakan diri seperti apa adanya, guna mendapat perlakuan sama?
Indonesian Atheists merupakan tempat berlabuh bagi orang yang tidak beragama. Grup tersebut didirikan oleh Karl Karnadi yang berdomisili di Jerman. Lama kelamaan anggotanya semakin banyak dan akhirnya menjadi sebuah komunitas yang mendukung orang orang yang mengalami diskriminasi dan mengalami kesulitan, saat memilih untuk tidak beragama.
Sejak saat didirikan tahun 2008 sampai saat ini sudah memiliki sekitar 400 anggota yang tersebar di seluruh belahan dunia. Kelompok ini ingin agar kaum ateis diterima dan menghapus diskriminasi.
"Diskriminasi itu simpel aja. Orang ga bisa menikah di Indonesia jika tidak beragama. Kemudian tentu saja ada banya lainnya seperti di KTP tidak ada kolom yang menyatakan bahwa kita tidak beragama.
Itu adalah semua perlakuan yang diterima dari pemerintah. Belum lagi dari lingkungan sekitar misalnya dari keluarga, teman dan lain kenalan lainnya.
Bersuaralah
Sebagai seorang ateis, Karl Karnadi berharap, orang Indonesia dapat menilai kelompoknya berdasarkan kemampuannya bukan berdasar agama yang diyakininya. Untuk itu ia menyarankan agar sesama ateis menyuarakan kepentingan mereka. Sebab untuk mengubah keadaan harus dimulai dengan diri sendiri.
Sama ketika ia pertama kali mendirikan kelompok Indonesian Atheists tersebut. Pada mulanya ia tidak melihat ada kemungkinan bahwa kelompoknya akan diterima. Namun pada saat semua orang bosan dengan segala kekerasan radikal maka lambat laun kelompoknya mendapat dukungan. "Banyak orang support terhadap grup kami dan banyak yang mendukung pula agar Indonesia lebih ke arah sekuler."
Kendati demikian Karl Karnadi beruntung karena di antara anggotanya belum pernah menerima kekerasan dalam bentuk apapun. Itu karena mereka kebanyakan belum bersedia membuka dirinya sendiri.
Buka Topeng
"Banyak orang selama 24 jam masih memajang topeng mereka sebagai orang yang beragama, karena mereka tidak mau dikucilkan dalam masyarakat. Bahkan mereka juga menyembunyikan status mereka dari istri dan anaknya sendiri."
Sangat penting untuk membuka "'topeng" yang mereka kenakan selama ini. Untuk itulah ia memproklamirkan klubnya tersebut. Seperti ada kata pepatah tak kenal maka tak sayang.
Di Amerika contohnya, keberadaan ateis lebih diterima, padahal kaum beragama di sana juga cukup kuat dan banyak. Sementara di Indonesia masih ada stereotipe jelek terhadap ateis. Kaum itu masih dianggap tak bermoral, kriminal.
"Posisi saya di Jerman cukup ideal untuk terbuka, untuk muncul di publik dan tidak kuatir dengan lingkungan dan keamanan." demikian Karl Karnadi yang dibesarkan dalam keluarga kristen yang cukup taat.
Ia pun berharap, keterbukaan di komunitasnya akan mengarah kepada penerimaan ateis di Indonesia.






















VIVAnews - Polres Dharmasraya telah memeriksa empat orang saksi terkait kasus dugaan penodaan agama yang dilakukan Alexander, Calon Pegawai Negeri Sipil di kabupaten setempat. Kapolres Dharmasraya AKBP Khairul Azis mengaku pemeriksaan terhadap tersangka berjalan lancar.
"Tersangka kooperatif. Dia mengakui pada penyidik sebagai ateis, tidak mempercayai adanya Tuhan," kata AKBP Khairul Azis pada VIVAnews, 21 Januari 2011.
Hingga kini, penyidik di Polres Sijunjung terus melakukan pendalaman terhadap saksi pelapor maupun tersangka. Sejumlah bukti-bukti yang memperkuat pembuktian kasus tersebut terus dikumpulkan penyidik.
"Pelapor juga telah menyerahkan sejumlah bukti terkait tulisan terkait penodaan agama yang dimuat tersangka di akun Facebook-nya," tambah Kapolres.
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pandan tercatat sebagai pelapor dalam
kasus ini. Selain diancam dengan pasal penodaan agama, alumnus Universitas Padjajaran jurusan Statistik ini juga diancam dengan UU Informasi dan Teknologi Elektronik.
Tersangka juga diancam dengan pasal pemalsuan surat keterangan. "Saat mengisi surat keterangan CPNS, tersangka mengaku sebagai muslim," katanya.
Pengakuan pemilik akun Facebook Alexander Aan pada penyidik, ia sengaja melakukan itu untuk menghindari polemik. Alexander diamankan polisi lusa setelah mendapat kecaman dari masyarakat karena mengumbar keyakinan sebagai ateis di akun Facebook-nya.
Alexander juga sempat memposting tulisan yang menyudutkan salah satu agama tertentu. Majelis Ulama Indonesia cabang Sumbar menyayangkan sikap Alexander yang membawa suku dalam menyatakan keyakinannya.
Ketua MUI Sumbar Syamsul Bahri Khatib bahkan menilai Alexander tidak bisa menetap di Inonesia karena keyakinannya. "Dasar negara kita kan Pancasila, sila pertamanya menandakan negara ini berketuhanan," kata Buya Syamsul.
http://nasional.vivanews.com/news/read/281885-alexander-mengaku-ateis-ke...
Atheis adalah sikap maha tahu bhw Tuhan itu pasti tidak ada ..
Kalo didebat terus dan terpojok mereka akan bilang tidak tahu pasti apakah Tuhan itu tidak ada ... sehingga paling banter mereka itu agnostic bukan atheis ..
Richard Dawkins sendiri berasumsi bhw mahluk hidup dimuka bumi ini berasal dari sel hidup /DNA yg didrop oleh alien/UFO ... dg kata lain dia menyadari bhw sangat sulit dipahami bagaimana bisa sel hidup bisa terbentuk karena faktor kebetulan/proses random..
Kesimpulannya : atheis = orang yg merasa yg paling tahu.
saya menunggu grup begini sudah bertahun tahun, akhirnya saya menemukan juga, bagaimana cara bergabung ?
kepercayaan buta telah menggiiring banyak orang untuk membela agamanya mati-matian.
http://www.facebook.com/#!/groups/158923574180670/
gabung ke pengajian atheist
I've been looking for this kind of place for so long. :)
Excellent! Saya dukung sepenuhnya. Saya tunggu perkembangan lebih lanjut.
anda yang salah,komunitas atheis tidak membunuh agama,kami tidak mengajak dan menghasut,kami hanya bicara fakta tidak seperti agama yang fiksi,kami tidak kurang ilmu kami bicara berdasar fakta dan logika,dan tidak semua dari kami adalah jahat,di luar sana jauh dari tatapan anda banyak umat beragama membawa senjata,membunuh dengan kedok agama,lihat tragedi sara di negeri kita semua berkedok agama,di negara bebas yang lain agama tidak menjadi persoalan utama,atheis mendapat hak yang sama,di negara ini kita ditekan peraturan agama yang berasal dari buku buku dengan segudang kebohongan,itu adalah salah satu alasan negara kita tertinggal,ingat ateis indonesia adalah kelompok bebas,kami tidak mengajak maupun menghasut
Yang harus dilakukan itu menciptakan suasana yang lebih baik untuk semua rakyat Indonesia.. Kalo masalah buka topeng atau tari topeng ya suka-suka orangnya. Lingkungannya dibuat dulu jadi baik...Gicu
SALAM
Yang harus dilakukan itu menciptakan suasana yang lebih baik untuk semua rakyat Indonesia.. Kalo masalah buka topeng atau tari topeng ya suka-suka orangnya. Lingkungannya dibuat dulu jadi baik...Gicu
lantas yang anda yakini tentang keberadaan kita di dunia beserta dunia sendiri itu apa?
ada yang mengaku beragama melakukan kekerasan
ada yang mengaku atheis (komunis) melakukan kekerasan
jadi kekerasan tidak selalu berkaitan dengan agama..
tetapi yang melakukan kekerasan jelas mahluk hidup....jadi kekerasan dilakukan oleh mahluk hidup....kalau tidak mau kekerasan jangan jadi mahluk hidup ... :-p
Kalau di Indonesia peraturan soal beragama membuat orang harus munafik. Kolom Agama pada Kartu Tanda Penduduk (KTP) harus diisi sesuai dengan agama-agama yang diakui negara. Tidak ada kolom untuk Kepercayaan Asli atau Tidak Agama. Pengertian Atheis yang selama ini dipompakan kepada rakyat Indonesia, terlebih masa Orde baru, adalah PKI (Partai Komunis Indonesia). Partai Komunis dengan ideologi menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Sedang Atheis percaya Tuhan tidak punya pengaruh terhadap usaha memakmurkan manusia. Tetapi Atheis menghargai orang beragama yang percaya kepada Tuhan.Orang Atheis berpedoman pada Golden Rule yang intinya mengajarkan, kalau dirimu tidak mau disakiti jangan menyakiti orang lain. Bahkan orang Atheis lebih humanis daripada orang yang mengaku beragama. Di Indonesia dan bahkan di banyak tempat didunia mudah dijumpai orang beragama justru tidak tolerans kepada umat beragama lain. Atas nama Tuhan mereka meneror, mengganggu umat lain dan menentukan moralitas tunggal kepada masyarakat yang pluralis. Pengertian pluralisme didefinisikan menurut kemauannya dan bukan pengertian universal.
Inilah akibat kurang berilmu. Tepat sekali apa yg dikatakan oleh Axeander Pope A little Learning is a dangerous thing atau A Little Knowledge is A Dangerous Thing. Beragama tanpa ilmu bisa macam-macam akibatnya. Apalagi tidak beragama. Atas nama Tuhan tapi mengganggu orang lain berarti itu cuma topeng. Semua agama aturan hidupnya sangat jelas. Untuk apa agama diciptakan? untuk harmonisasi kehidupan.Ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan seperti membunuh, sex bebas/berzina,korupsi, merusak lingkungan dll. Terbukti kita perlu aturan yang universal untuk hidup dan kehidupan. Kita perlu hukum pernikahan spy kita berbeda dg binatang, kita perlu hukum waris spy terjadi keadilan, dll itu semua hanya ada pada agama. Mana ada ateist yang mempunyai aturan harmonisasi hidup dan kehidupan. Hak asasi harus dijunjung tinggi tapi etika moralitas harus juga dijaga. Mana ada seorang ateist yang melarang zina/sex bebas. Spt Satre dan De Bovoir selama hidupnya layak disamakan dg binatang, semen leven, hidup bersama tanpa pernikahan. Humanisme penuh toleransi itu pada dasarnya bagian dari sifat-sifat agama. Orang beragama yang tidak humanis berarti ilmu agamanya kurang. Jadi orang ateist itu adalah kelompok orang-orang yang romantis cara berfikirnya. saya yakin mereka sebagian besar dibesarkan dari keluarga yang memang pendidikan agamanya sangat kurang alias asal lahir aja. Sejarah membuktikan betapa banyak juga komnunitas ateis membunuhi orang-orang beragama. Anda sendiri anonimous, kalau anda benar jangan gitu dong !
"Ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan" Memangya batasan-batasan itu cuma dari agama saja? Trus agama yang mana? karena batasan dan hukumnya masing-masing berbeda bukan?
Apakah anda tahu bahwa peraturan pernikahan itu sudah ada dari jaman manusia masih berburu (nomaden) yang kemudian diadaptasi terus menerus oleh masing-masing agama
Menjadi atheis bukan berarti boleh bertingkah laku seperti membunuh, sex bebas/berzina,korupsi, merusak lingkungan dll
"Humanisme penuh toleransi itu pada dasarnya bagian dari sifat-sifat agama" Bukannya lebih dekat dengan dunia rasional? Coba dipelajari lagi
"saya yakin mereka sebagian besar dibesarkan dari keluarga yang memang pendidikan agamanya sangat kurang alias asal lahir aja." Kata Tukul: Don't judge a book by it's koper. Hehehehh..
Peace..
Inilah akibat kurang berilmu. Tepat sekali apa yg dikatakan oleh Axeander Pope A little Learning is a dangerous thing atau A Little Knowledge is A Dangerous Thing. Beragama tanpa ilmu bisa macam-macam akibatnya. Apalagi tidak beragama. Atas nama Tuhan tapi mengganggu orang lain berarti itu cuma topeng. Semua agama aturan hidupnya sangat jelas. Untuk apa agama diciptakan? untuk harmonisasi kehidupan.Ada batas-batas yang tidak boleh dilakukan seperti membunuh, sex bebas/berzina,korupsi, merusak lingkungan dll. Terbukti kita perlu aturan yang universal untuk hidup dan kehidupan. Kita perlu hukum pernikahan spy kita berbeda dg binatang, kita perlu hukum waris spy terjadi keadilan, dll itu semua hanya ada pada agama. Mana ada ateist yang mempunyai aturan harmonisasi hidup dan kehidupan. Hak asasi harus dijunjung tinggi tapi etika moralitas harus juga dijaga. Mana ada seorang ateist yang melarang zina/sex bebas. Spt Satre dan De Bovoir selama hidupnya layak disamakan dg binatang, semen leven, hidup bersama tanpa pernikahan. Humanisme penuh toleransi itu pada dasarnya bagian dari sifat-sifat agama. Orang beragama yang tidak humanis berarti ilmu agamanya kurang. Jadi orang ateist itu adalah kelompok orang-orang yang romantis cara berfikirnya. saya yakin mereka sebagian besar dibesarkan dari keluarga yang memang pendidikan agamanya sangat kurang alias asal lahir aja. Sejarah membuktikan betapa banyak juga komnunitas ateis membunuhi orang-orang beragama. Anda sendiri anonimous, kalau anda benar jangan gitu dong !
ada yang mengaku beragama melakukan kekerasan
ada yang mengaku atheis (komunis) melakukan kekerasan
jadi kekerasan tidak selalu berkaitan dengan agama ....
kekerasan dilakukan karena kita mahluk hidup....hanya mahluk hidup berakal yang bisa mengkategorikan/mendefinisikan suatu "kekerasan"....
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.