Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Minggu 12 Februari RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Enter a description of the photo here
Avatar Redaksi Indonesia
Map
Beijing, Cina
Beijing, Cina

Kamp militer bagi pecandu internet Cina

Diterbitkan : 5 Juli 2009 - 1:27pm | Oleh Redaksi Indonesia
Diarsip dalam:

Di Cina, masalah kecanduan internet semakin gawat. Dan itu sebenarnya tidak terlalu mengherankan. Saat ini sekitar 250 juta warga Cina memiliki sambungan internet.

Dari jumlah tersebut, menurut perkiraan, antara empat hingga sepuluh juta, tergolong kecanduan. Sebagai metode pengobatan, Profesor Tao Ran mengirim para pecandu internet tersebut ke tangsi tentara. Laporan koresponden Karen Meirik.

Di suatu lokasi tertutup di pinggiran kota Beijing, seorang sersan yang tampak galak memberi komando pada sekelompok remaja berbadan subur. Tapi, remaja tersebut bukan calon militer. Mereka adalah pecandu internet, yang dikurung di dalam lokasi tangsi militer, dalam rangka metode perawatan.

Salah seorang di antaranya, Wan Chuan, pemuda usia 20 tahun. "Keluarga saya, mengirim saya ke sini, karena saya selalu ingin online. Kadang, beberapa hari berturut-turut". Wan adalah satu dari sekitar 50 orang pasen di Pusat Perawatan Pecandu Internet, milik Tentara Pembebasan Rakyat, di bawah pimpinan Profesor Tao Ran.

Menguntungkan
Sepuluh tahun lalu, Profesor Tao adalah orang pertama di Cina yang membuka klinik seperti itu. Saat ini, jumlah klinik seperti itu ribuan. Klinik seperti itu usaha menguntungkan. Biaya satu bulan perawatan di klinik tentara ini 8.000 Renminbi. Senilai empat kali gaji bulanan rata-rata seorang buruh di Beijing. Walaupun mahal, pasen terus datang mengalir. Menurut Profesor Tao, salahsatu rahasia keberhasilannya adalah metode militer tersebut.

"Secara tradisional orang tua percaya, tentara akan membantu anak mereka bersikap mau menolong dan berjiwa sosial. Selanjutnya, penerapan kebiasaan tentara dalam kehidupan sehari-hari juga bermanfaat. Tangsi tentara adalah tempat yang cocok untuk mendidik mereka menjadi manusia santun".

Dokter tentara
Tao Ran adalah dokter tentara. Ia yakin akan pentingnya disiplin. Dan itulah yang tidak dimiliki oleh para pecandu internet. "Mereka bukan hanya punya masalah psikologis, gaya hidup mereka pun buruk. Seringkali mereka tidak mandi, dan seharian hanya duduk di muka komputer. Secara virtual, mereka hidup dalam zona waktu Amerika. Jadi, siang tidur, malam main komputer. Tapi, selama masa perawatan, mereka kembali harus mengikuti kegiatan sehari-hari sebagaimana biasa".

Penggenaan seragam tentara dan pelatihan fisik, juga akan membuat mereka tampak tegap. Wan Chuan kini sadar, betapa parahnya ia karena kecanduan internet. "Semua uang saku yang saya peroleh, saya gunakan hanya untuk itu saja. Saya makan sembarangan. Saya tidak pernah beli baju lagi", katanya.

Remaja pecandu internet, dengan uang saku tidak sebanyak seperti yang diperoleh Wan Chuan, terpaksa mencuri, atau melakukan pemerasan. Menurut seorang hakim di Beijing, sekitar 85 persen pelaku kriminalitas remaja di kotanya, berkaitan dengan pemainan internet.

Gengsi
Walapun Profesor Tao tahu bahwa kecanduan internet terjadi di seluruh dunia, ia menilai keadaan di Cina lebih gawat, sebagai dampak politik satu anak.

"Orangtua berharap terlampau banyak pada satu-satunya anak mereka. Jadi, mereka menekan anak-anak secara berlebihan. Seorang anak harus meningkatkan gengsi keluarga. Jika nilai rapor sekolah mereka buruk, orangtua cenderung akan terus-menerus mengecam anak. Dengan demikian, orantua malah menggerogoti rasa percaya diri anak-anak, dan ini akan mendorong pada kecanduan internet", kata Profesor Tao. Karena itu, sang profesor juga menangani para orangtua. "Namun, mengobati orangtua jauh lebih sulit ketimbang anak-anak", katanya. "Kebiasaan mereka sudah mendarah-daging".

Profesor Tao mengaku, setelah mengalami perawatan, sekitar 70 persen pasen, sembuh sepenuhnya. Wan Chuan sendiri tidak begitu yakin apakah ia akan berhasil. "Sedikit demi sedikit, saya mulai terbiasa. Tapi, pekan-pekan pertama, benar-benar sangat sulit", katanya. Dan setelah beberapa pekan mengalami perawatan intensif, Wan Chuan masih saja mendambakan bisa memainkan permainan komputer.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Pecandu Narkoba Polandia Balik ke Negaranya
Orang Polandia di Belanda yang kecanduan alkohol dan narkoba, akan...
Amsterdam, Taman Ria bagi Wisatawan
Penduduk Amsterdam menghadapi pilihan berat. Warga yang tinggal di pusat...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET