Kakek-nenek tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keluarga di Afrika Selatan. Cita-cita menikmati hari tua lenyap ibarat mimpi di siang bolong. Biang keladinya adalah epidemi penyakit AIDS. Di umur senja itu mereka justru kembali harus mengurus dan membesarkan anak, kali ini cucu mereka yang kehilangan orangtua akibat AIDS.
Meski tulang dan sendi terasa nyeri, Thandiwe Matzinga, 76 tahun, bergerak lincah di rumah kecil yang sekarang dihuninya bersama tiga cucu: anak kembar laki-laki berusia lima belas tahun dan seorang anak gadis berusia tujuh tahun. Ibu mereka meninggal karena AIDS.
Matzinga menafkahi ketiga anak ini dengan bantuan pemerintah sebesar tiga ratus euro per bulan.
Afrika Selatan merasakan dampak besar penyakit HIV/AIDS. 5,5 juta orang - sekitar 18 persen dari penduduknya - terinfeksi penyakit itu. Menurut angka-angka PBB untuk tahun 2007, terdapat 1,4 juta anak yatim piatu pengidap AIDS di negeri tersebut. 64 persen dari mereka dibesarkan kakek-nenek mereka - dalam kebanyakan kasus nenek yang tinggal sendiri.
Kehilangan anak
Matzinga ibu sembilan anak. Tiga dari anaknya meninggal karena AIDS. Ia juga salah satu dari sekian banyak nenek di Afrika Selatan yang merawat cucunya. Di gedung pertemuan dekat rumahnya di Khayelitsha, di luar Cape Town, ia berkumpul bersama para nenek lainnya.
Dalam bahasa Xhosa para perempuan ini berbagi cerita tentang bagaimana rasanya kehilangan anak mereka. Para perempuan termasuk organisasi nenek yang menentang kemiskinan dan AIDS GAPA, yang beranggotakan sekitar lima ratus orang.
Semua wanita berpikir anaknya akan merawat mereka di usia tua nanti, tapi situasi telah berubah. "Banyak nenek yang harus menafkahi lima hingga sepuluh anak dari tunjangan hari tua," kata Vivienne Budaza, direktur organisasi. "Anak-anak ini sekarat," ujarnya.
Stigma
Para nenek secara berkala bertemu di kantor GAPA untuk saling mendukung, menceritakan beban yang dirasakan serta penyakit yang menghancurkan keluarga mereka. "Para nenek tahu bahwa orang bisa menularkan HIV/AIDS lewat hubungan seks," kata Budaza.
Budaza: "Tapi masih banyak mitos dan kesalahpahaman. Banyak nenek misalnya, tidak mengerti bahwa juga ada anak-anak yang HIV-positif. Bagaimana mereka bisa mengidap penyakit ini jika tidak pernah berhubungan seks? Kami kemudian perlu menjelaskan kepada mereka bahwa seorang anak bisa terkena virus ketika masih dalam kandungan."
Para nenek ini harus berjuang menghidupi keluarga. Ini bukan hanya perjuangan finansial melainkan juga sosial karena AIDS masih distigmatisasi. "Ketika tetangga saya mendengar bahwa anak saya meninggal karena penyakit tersebut, mereka tidak berani menggunakan toilet yang saya pakai," cerita Matzinga.
Tapi ia melihat ulah seperti itu perlahan-lahan berubah. "Semakin banyak keluarga di sekitar saya terkena HIV/AIDS. Makin banyak nenek yang berada dalam situasi sama seperti saya meminta bantuan."
Remaja
Seorang nenek lain yang mengurus banyak anak adalah Nothemba Mdaka, 71 tahun. Namun rumah kecil yang dihuninya untuk sementara sepi. Dia meminta cucu dan cicitnya meninggalkan rumahnya, karena harus merawat salah satu anak putrinya sudah sekarat karena mengidap HIV/AIDS. Ia tidak mau anak-anak melihat penderitaan putrinya, anak ketiga yang meninggal akibat penyakit tersebut.
Mdaka telah membesarkan lima cucu dan sekarang sedang mengurus lima cicitnya sementara cucunya mencari pekerjaan. Membesarkan remaja sangat sulit baginya. "Banyak anak muda di kota memakai alkohol dan ganja. Banyak sekali kejahatan," kata Budaza dari GAPA.
"Jumlah kehamilan remaja sangat tinggi." Salah seorang cucu Mdaka melahirkan anak pertama ketika baru berusia lima belas tahun. Sekarang dia berumur dua puluh tahun dan memiliki tiga anak. "Dia berkata bahwa ia ingin memiliki anak sehat sebelum jadi HIV-positif," kata Mdaka.
Awalnya ia tidak berani membicarakan seks dengan cucunya, tapi sekarang dia bahkan memberi mereka kondom. "Kita harus terbuka tentang hal ini," kata Mdaka. "Kalau tidak, penyakit mematikan tidak akan pernah berhenti."






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.