Penipuan jemaah haji tidak hanya terjadi di Indonesia. Di Belanda dan Inggris pun juga ada pihak-pihak yang menipu para calon jemaah. Pihak KBRI telah mengeluarkan himbauan agar para calon jemaah berhati-hati dalam menentukan biro perjalanan mereka. Para penipu adalah orang-orang Indonesia juga yang tinggal di rantau.
"Uang sebanyak itu sudah saya relakan saja. Itu kan naik haji, biar Tuhan yang akan membalasnya," tutur salah satu seorang calon -saat itu- jemaah haji Indonesia yang tinggal di Belanda. Kerugian sebesar 950 Euro ditanggungnya sendiri.
Demikian pengalaman Sri Rejeki (bukan nama sebenarnya) yang dituturkan kepada Radio Nederland. Sri adalah warga Indonesia yang beberapa tahun lalu menunaikan rukun Islam kelima, naik haji ke tanah Mekkah. Semangatnya untuk memenuhi kewajiban agama itu hampir saja punah.
Masalah tiket
"Ketika itu saya berada di bandara (Schiphol). Kami bersama lebih kurang 180 orang lainnya bersiap untuk berangkat ke tanah suci," kata Sri yang bersuamikan seorang pensiunan pegawai swasta.
Namun saat mau berangkat ada masalah dengan tiket. Ia bersama sekitar 50 orang lainnya terpaksa membayar kekurangan itu untuk tetap bisa naik pesawat Turkish Airlines. Uang itu sedianya akan diganti oleh biro perjalanan haji Indonesia yang mengurusnya.
Tapi apa daya sesampainya kembali di Belanda, Sri bersama 50 orang lainnya, sesama jemaah tak mendapatkan uang yang dijanjikan, termasuk di antaranya jemaah Indonesia lainnya yang berjumlah sekitar 20 orang.
Jadi pembimbing
"Padahal pemilik biro perjalanan itu pun menjadi pembimbing kami di Mekkah. Selalu tersenyum dan berjanji akan mengembalikan uang itu," kata Sri Rejeki.
Walhasil, jemaah haji asal negara lain seperti dari Maroko, Turki yang ikut rombongan itu akhirnya mendatangi biro perjalanan yang berkantor di kota Den Haag. Sebagian lagi, menurut pengakuan Sri ada yang melapor ke polisi.
Akhirnya, tambah Sri, biro perjalanan asal Indonesia itu ditutup oleh yang berwenang. "Ah kalau memang jodoh ya, uang itu pasti balik, kalau tidak ya relakan saja," tutur Sri ketika ditanya kenapa ia tak mengadukan masalah itu ke polisi.
Kejadian di Inggris
Ternyata tidak hanya di Belanda saja, peristiwa serupa juga terjadi di Inggris. Jemaah haji Indonesia tertipu. Sampai-sampai KBRI di London mengeluarkan himbauan kepada kepada calon jemaah lainnya untuk berhati-hati dalam mengeluarkan biaya naik haji atau umroh.
Menurut koordinator penerangan KBRI London, Heri Sudrajat, ada 25 orang Indonesia yang mau pergi haji tahun ini. Mereka berniat pergi, tuturnya, melalui seorang perantara yang menghubungkan jemaah dengan travel agent.
"Jadi yang pergi haji langsung membayarkan kepada ibu (perantara, Red.) tersebut. Karena tidak ada travel agent Indonesia, maka dengan kepercayaan penuh para calon haji membayar uang yang dibutuhkan. Sekitar 2600 poundsterling per orang ke perantara."
Tak bisa pergi
Ketika tiba saatnya berangkat, ada lima orang yang tidak bisa mendapatkan paspornya kembali dari biro perjalanan. Dengan alasan belum lunas. Padahal mereka sudah melunasi biaya. Setelah didesak, tambah Heri Sudrajat, ternyata uangnya dipakai oleh sang perantara. "KBRI mencoba jadi penengah, karena itu kan sesama warga Indonesia."
Salah satu korban adalah Reny Sylvia, mengaku rugi 2700 poundsterling, untuk perjalanan haji tahun ini. "Saya sama sekali tak bisa berangkat. Saya sudah lapor polisi dan mencoba agar persoalannya diselesaikan. Tadinya sih saya masih ga pingin lapor polisi. Tapi nunggu-nunggu ternyata dia ingkar janji. Jadi ya akhirnya saya lapor polisi."
Menurut Heri Sudrajat koordinator penerangan KBRI, dari sejumlah 25 orang warga Indonesia yang ingin menunaikan ibadah haji, dan ada lima orang yang tertipu. Dua di antaranya tertipu penuh, uangnya hilang sama sekali.
Mahasiswa
Ketika ditanya mengapa dirinya menjadi korban, Reny Sylvia mengatakan mungkin karena dirinya mahasiswa dan temannya yang lain yang tertipu juga mahasiswa. "Jadi dikiranya kalau student mungkin lebih mudah untuk ditipu. Apalagi mungkin dia sudah tahu karakter kita, yang orangnya tidak tega-an."
Korban lainnya adalah Dian Kartika Rahajeng atau biasa dipanggil Ajeng, seorang mahasiswa studi islam. "KBRI sebenarnya cukup membantu, cuma ekspektasinya tidak secepat yang kami harapkan."
Reny Sylvia sang korban berharap kalau ada yang mau naik haji supaya mencek terlebih dahulu travel dan latar belakangnya. "Saya percaya karena perantara ini di London cukup terkenal. Dan saya kan ada di Newcastle, jadi saya tak dengar apapun tentang ibu ini. Jadi harapan saya ke depan masyarakat kalau mau naik haji jangan gunakan calo dan jangan pasif."






















Rasa TEGA sudah merajalela..inilah yang menjadi masalah orang Indonesia.
Tidak ada lagi HAMBATAN HATI untuk TIDAK berbuat yang TIDAK TERPUJI. Hati Nurani sudah berubah bentuknya.
Semua seakan menjadi halal, kalau sudah berdoa. Yang penting "acuuh beibah, innocent ajalah"....
Apakah ini maunya ajaran Agama, saya kira bukan.
Kalau lihat gambar diatas ini, maka yang ikut berhaji itu, artinya pesta pora di Arab Saudi. Sebenarnya, lokasi seperti itu, semestinya sederhana saja untuk mengenali citra rasa awalnya Nabi berziara ke Mekah dan Medina, tapi bukannya mewa menyolok seperti Lasvegas di Amerika. Ini cuma tunggu bangun CASINO lalu sudah, semuanya mabuk kepayahan. Di Jakarta saja, orang susah dan menderita bertumpuk, lalu yang kaya terus berulang kali naik haji. Dimanakah keadilannya? Alham dulilah.
Asalkan menghina satu darah, pada hal para bajingan dari Indonesia termasuk orang orang di KBRI di Den Haagpun ikut tertarik seperti POLRI di Papua Barat mendapatkan uang sogok sebanyak puluhan juta dolar Amerika. Untung KBRInya tidak termasuk, lama lama KBRInya juga ikut ditutup. lalu siapa yang malu?
Boro-boro tertipu di Belanda atau Inggris lihat nih... Jamaah Haji Indonesia di Mekkah pun menjadi korban kejahatan. Modus yang digunakan pelaku adalah mengaku berasal dari satu daerah (bangsa dewek) dengan jamaah. Kalu mau lihat klik aje: http://tinyurl.com/3oxc9lq
Kok berani beraninya ya nilep uang orang yg mau berhaji. Dosanya khan gede banget bu.
Kabarnya si perantara ini ustadzah ya. Memprihatinkan sekali. Semoga ibu ini diberikan hidayah dan uangnya Mb Ajeng dan
Reni bisa diganti. Uang segitu khan gede, apalagi u mahasiswa.
Koq TEGA TEGA nya..inilah yang menjadi masalah orang Indonesia.
Rasa TEGA sudah merajalela.. Tidak ada lagi HAMBATAN HATI untuk TIDAK berbuat yang TIDAK TERPUJI. Hati Nurani sudah berubah bentuknya.
Semua seakan menjadi halal, kalau sudah berdoa.
Apakah ini maunya ajaran Agama, saya kira bukan.
"supaya mencek terlebih dahulu"
mungkin maksudnya, "mengecek" ya mbak.....
Untuk Wong dDesa # kalau mengecek, berarti dari kata dasar "kecek" ya?, jadi tambah awalan "me" menjadi "menegecek".
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.