Sekitar enam tahun lalu marak fenomena pencarian energi alternatif untuk mengatasi kekurangan bahan bakar konvesional seperti minyak dan lain-lain. Salah satu sumber energi alternatif adalah jarak pagar atau jatropha curcas. Jarak ini dikatakan berpotensi besar dan ramah lingkungan. Benarkah demikian?
Menurut Henky Widjaja mahasisa S3 di bidang agriculture beyond food atau pertanian non pangan, dua-duanya tidak benar.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sekitar tahun 2005 ada cetak biru pemerintah Republik Indonesia tentang energi alternatif. "Tanaman-tanaman yang dikembangkan itu adalah ubi kayu, jagung, tebu, kelapa sawit dan tanaman jarak, yang menjadi sumber bahan baku pembuatan bahan bakar nabati. Dan tanaman jarak mendapat dukungan utama," katanya kepada Radio Nederland.
|
Sejak tahun 1997 Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti ektraksi minyak dari tanaman jarak. Sejak tahun 2004, penelitian ini mendapat dukungan dari Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang. Menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah. Peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel. Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk energi alternatif dari minyak jarak ini. Sumber: http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html |
Alasan yang disebut saat itu adalah bahwa tanaman jarak sangat cocok bagi daerah pinggiran atau marginal. "Daerah marginal, daerah yang tanahnya tandus, itu cocok ditanami tanaman jarak," katanya menirukan ucapan para pendukung jarak sebagai sumber energi alternatif.
Euforia
Bukan hanya pemerintah Indonesia yang mendukung jarak sebagai sumber alternatif, tapi juga dunia internasional. Dukungan global masa itu menjadi semacam euforia. Malah ada yang menyebut tananam jarak sebagai tanaman proletar atau tanaman untuk rakyat miskin, jelas ilmuwan yang melakukan studinya di Belanda ini.
Pada tahun 2006 pemerintah RI menyediakan dana khusus untuk menggalakkan penelitian potensi tanaman jarak sebagai sumber energi nabati. Dan investasi pun digalakkan, sehingga orang berlomba-lomba untuk terlibat. Namun Henky meragukan motif mereka. Ia menilai mereka ikut-ikutan karena mau meraih subsidi, bukan motif komersial yang murni.
"Motif komersial yang murni tidak ada. Dan lebih digerakkan oleh motif untuk mendapat subsidi," jelasnya.
Henky menambahkan sebagai contoh, pernah ada investor dari Belanda yang menawarkan MoU di Indonesia, demi uang, bukan untuk ditindaklanjuti. "Karena MoU itu sendiri sudah menghasilkan uang," jelas Hengky.
Produktifitas
Menurut para pendukung, tanaman jarak per hektar bisa menghasilkan sampai sembilan ton per tahun. Namun menurut Henky Widjaja, berdasarkan penelitian, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, maksimal hasilnya hanya 400 kg.
Ilmuwan asal Sulawesi Selatan ini juga mengkritik cara pihak-pihak terkait menyebar informasi. Menurut dia, baik aktor internasional maupun aktor lokal melakukan manipulasi dan eksploitasi penduduk lokal. Misalnya warga ditawari bibit unggulan dengan harga mahal, padahal bibit unggulan untuk jarak sampai sekarang sebenarnya tidak ada, tambahnya.
Selain itu jarak yang dikampanyekan juga tidak jelas jenisnya. Para petani mengira jarak pagar yang dimaksudkan adalah jarak yang dulu pernah digalakkan Jepang pada akhir masa penjahanan Jepang dulu.
Menurut Henky tidak jelas apakah jarak yang digalakkan ditanam oleh mantan penjajah Indonesia itu jarak pagar atau jenis lain. "Apakah itu jarak pagar atau jarak kastor," ia bertanya-tanya.
Tidak ramah lingkungan
Terakhir Henky menilai penanaman jarak pagar tidak ramah lingkungan sama sekali. Untuk memenuhi sepuluh persen kebutuhan konsumsi solar di Indonesia diperlukan berhektar-hektar lahan tanaman jarak.
Ini akan ada akibatnya bagi lahan produktif. Karena supaya produktif, jarak juga harus ditanam di lahan produktif. Selain itu, tambah Henky, para petani di daerah marginal banyak tertipu. Setelah mereka ramai-ramai meninggalkan tradisi menanam ubi kayu untuk menggeluti tanaman jarak, beberapa tahun kemudian, ternyata hasilnya tidak memadai.






















terima kasih infonya. Ternyata pohon jarak itu dari zaman Jepang. Saya mengira pohon2 ini sudah ada lama sebelum ada penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang.
Pada tahun 50 - 60an dikampung kami (P. Jawa) anak2 suka makan buah jarak. Kemudian efeknya menjadi murus, beser. Minyak jarak memang dipakai sebagai obat urus urus/pencahar (pembersih usus)yang manjur dan aman, dibandingkan dengan garam Inggris (MagnesiumSulfat).
Mungkin jarak jaman itu adalah jenis Kastor.Kastroli? Oli Castrol pelumas? Sekarang dimana ada pohon jarak kastor?
Mohon informasi.
Semoga basudara Maluku tidak kena tertipu halus dari Jakarta. Kalau tidak, Cengke dan Pala serta Sagu bisa ditebang dan diganti dengan Jarak lalu semuanya kena ketipuan ramai ramai. Sesegra mungkin hal ini diinformasikan kepada semua basudara di Maluku agar jangan sampai tembaga di bilang emas. Jadi kalau pencuri sendal jepit dihukum 5 tahun penjara, maka ada orang orang yang memberikan informasi keliru tentang tanaman Jarak itupun, haruslah pula dihukum karena itu semacam penipuan masyarakat. Ini sama saja dengan DPRRI di Jakarta dalam mencuri dan menipu uang berjumlah 24,5 miliar rupiah.
Betul sekali artikel diatas, saya salah satu pelaku yang kebetulan terlibat dalam Program penanaman jarak, setelah saya simpulkan ternyata mulai dari atas ke bawah terjadi penipuan data yang ujung-ujungnya duit, pemerintah menggelontorkan Trilyunan rupiah yang hanya untuk para penipu2 mulai ilmuwan karbitan, pengusaha,dan PTPN2( perkebunan negara ) . Mudusnya ... Mereka dibantu uang atau meminjam uang untuk penelitian, sosialisasi, pengadaan/ penanaman jarak kemudian setelah dicek / diperiksa maka pohon jarak itu kemudian ditebang karena mereka sudah tau sebelumya kalau tanaman jarak tidak akan berbuah baik tanpa perawatan yang baik seperti halnya tanaman lain ( pengairan, pemupukan, pengendalian hamapenyakit, pemangkasan). dan hasilnya memang tidak menguntungkan yang harganya cuman Rp.500/Kg. Semoga Radio Nederland mengulas Artikel-artikel seperti diatas yang berbobot dan cerdas tidak seperti sebelum-sebelumya yang isinya banyak muatan provokasi.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.