Kelompok fundamentalis hendaknya diikutsertakan dalam pemerintahan. Demikian simpul Marwan Muashar, mantan menlu dan wakil perdana menteri Yordania di rubrik opini harian The International Herald Tribune.
Kemenangan partai Islam Ennahda pada pemilu di Tunisia baru-baru ini, tulisnya, bisa membuat orang berkesimpulan bahwa kelompok Islamislah yang paling banyak mengambil manfaat dari apa yang disebut gerakan Musim Semi di dunia Arab.
Kekhawatiran
Karena ditindas bertahun-tahun oleh rezim otokratis, kelompok Islamis berhasil memanfaatkan popularitasnya dalam pemilu dan berhasil merebut kemenangan. Ini membuat para pemimpin sekuler dan dunia Barat khawatir. Dunia Barat mau berpura-pura seolah kelompok Islamis tidak ada.
Tapi sikap seperti itu tidak berguna, tulis mantan diplomat Yordania ini.
Politik Islam tidak akan menghilang karena dunia barat mengabaikan mereka. Menurut dia, kelompok Islamis akan menjadi moderat kalau diajak duduk di pemerintahan. Sebaiknya menurut mantan diplomat Yordania ini, mengucilkan partai Islam merupakan sikap yang kontraproduktif.
Tidak bodoh
Kenapa? Pertama, karena kelompok Islamis tidak bodoh. Mereka tidak mau disalahkan kalau gagal memerintah dan mereka juga bersedia berkoalisi dengan pihak lain. Kedua, kaum Islamis tidak sepopuler seperti dugaan para tokoh Barat.
Menguatnya dukungan kelompok ini karena tidak ada alternatif lain untuk melawan rezim otoriter.
Ketiga, mayoritas rakyat yang memprotes tidak berkeinginan untuk menumbangkan rezim penindas diganti oleh para tokoh agama yang teokratik. Bagi para remaja yang ikut memprotes, Islam saja tidak cukup untuk menjadi solusi. Rakyat perlu pekerjaan dan kehidupan lebih baik.
Pengalaman Yordania
Berdasarkan pengalaman di Yordania, penulis opini asal Yordania ini menyimpulkan bahwa kelompok Islamis tidak lebih baik dan tidak lebih jelek dan partai-partai lain yang ikut memerintah.
Walhasil, bagi negara-negara yang berada di masa peralihan, tidak ada pilihan lain kecuali membuka sistem politiknya. Mengucilkan dan memarjinalkan kelompok Islamis karena ketakutan, hanya akan memperkuat posisi mereka. Demikian Marwan Muasher, mantan menlu Yordania dalam opini di The International Herald Tribune.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.