Bahasa menunjukkan bangsa. Sepertinya semangat itu sekarang sudah banyak dilupakan, terutama oleh beberapa sekolah swasta elit di kota-kota besar. Sebuah artikel yang muncul di New York Times dua hari lalu menegaskan hal itu.
Mereka memaparkan kisah tentang Miss Indonesia tahun lalu yang berayah seorang Indonesia dan beribu seorang Amerika. Ketika menjawab pertanyaan juri yang dilontarkan dalam bahasa Indonesia, ia memerlukan penerjemah, padahal ia besar di Jakarta. Bagian terparah dari cerita ini tentu saja, ia menang. Juri terkesan dengan kemampuannya berbahasa Inggris.
Penulis jadi ingat lelucon sejenis. Anak-anak Inggris itu hebat karena kecil-kecil sudah pandai berbahasa Inggris. Dalam kasus nona tadi, bahasa ibunya adalah bahasa Inggris, bahkan secara harafiah. Oleh karena itu yang seharusnya dinilai dalam kategori kemahiran menyerap bahasa adalah kemampuannya berbahasa Indonesia yang merupakan bahasa keduanya.
Namun penilaian atas hal itu sendiri seharusnya merupakan penilaian nomor kesekian setelah penilaian tentang bagaimana mungkin seorang Indonesia yang tumbuh di Indonesia tidak lancar berbahasa Indonesia? Kemampuan bersaing dalam globalisasi memang penting tetapi itu ajang pemilihan Miss Indonesia, bukan ajang pencarian nona paling mirip Lady Di.
Dari kasus itu dapat terlihat sindrom parahnya penghargaan atas bahasa Indonesia oleh juri pemilihan Miss Indonesia tahun lalu. Benar bahwa Inggris adalah lingua franca dalam pergaulan internasional sehingga penguasaannya adalah sebuah keharusan bagi mereka yang ingin aktif dalam era globalisasi akan tetapi penguasaan itu tidak seharusnya melupakan penguasaan bahasa Indonesia.
Yang menyedihkan, sindrom ini diderita juga oleh sekolah swasta yang tidak memasukkan bahasa Indonesia dalam kurikulumnya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan yang lebih menyedihkan lagi yaitu bahwa sindrom ini telah mewabah di kalangan orang tua dengan ekonomi menengah ke atas yang memasukkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah swasta tersebut. Jadi, cerita tentang Miss Indonesia itu hanyalah puncak dari sebuah gunung es masalah pengakuan dan penghargaan terhadap bahasa dan budaya Indonesia, oleh orang Indonesia, yang tinggal di Indonesia.
Cita-cita proklamasi kita adalah menciptakan masyarakat Indonesia yang merdeka, adil dan makmur. Jika bahasa menunjukkan bangsa maka kemerdekaan, keadilan dan kemakmuran bangsa manakah yang dituju oleh sebuah sistem pendidikan di bumi Indonesia yang menolak mengajarkan bahasa Indonesia? Bahasa dan budaya bukanlah harga yang layak dibayar untuk sebuah peningkatan daya saing.
Departemen Pendidikan harus meluruskan penyimpangan ini. Penguasaan bahasa dan budaya sendiri dan penyerapan budaya asing untuk meningkatkan daya saing dalam globalisasi dapat berjalan beriringan, seperti yang dengan tepat disampaikan oleh bunyi iklan sebuah jamu, “Orang pintar minum Tolak Angin”**.
**) Orang pintar minum Tolak Angin adalah kalimat iklan Jamu Tolak Angin, sebuah merek produk PT Jamu Jago. Penulis sama sekali tidak memiliki afiliasi dengan PT Jamu Jago. Penggunaan iklan tersebut semata untuk keperluan penjelasan maksud induk kalimat terkait.
Pengirim: Elpiwin Adela
| Artikel ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi. Demi menjaga keaslian, artikel diterbitkan tanpa proses editing dari redaksi. Dalam beberapa kasus, Ranesi hanya mengubah judul untuk keperluan teknis. Isi dan format di luar tanggung jawab Ranesi. |















Saya setuju dengan pendapat Elpiwin. Keinggris-inggrisan menjadi topik paling hebat dalam sejarah kurikulum pendidikan kita. Jika seseorang bisa berbahasa Indonesia atau arab tapi tidak bisa berbahasa inggris maka keilmiahan seseorang akan diragukan. Inilah yang terjadi pada budaya kita saat ini. Ketidakpedean manusia hasil pembangunan dengan cara berutang ria dan berkonsumsi ria.
Penting sekarang ini, mau nggak mau harus mampu (terutama untuk pergaulan sehari-hari) berbahasa asing, terutama bahasa Inggris, tapi lebih penting sebagai warganegara Indonesia, terlebih dulu haruslah menguasai bahasa Indonesia sebaik mungkin/sebenar mungkin.
DENGAN MELIHAT KONTEKSnya, JANGAN BIASAKAN KITA BERBAHASA ASING DI NEGERI SENDIRI, WALAU PUN ITU ORANG ASING, SEKALI PUN ITU BOS KITA SENDIRI.
Maaf, untuk tulisan yang berkapital, bergantung pada situasinya. Sebagaimana telah saya sampaikan, kemampuan berbahasa asing itu penting, terutama bahasa Inggris. Salah satu kunci kemajuan India saat ini saya kira adalah karena mereka adalah negara dengan penduduk berbahasa Inggris terbanyak di dunia saat ini. Membiasakan diri berbahasa asing dalam lingkup pergaulan tertentu menurut saya boleh saja bahkan mungkin perlu untuk memperlancar tapi pesan dalam konteks yang saya sampaikan adalah jangan sampai bahasa sendiri tidak dikuasai karena tidak diajarkan dan ini terjadi di tanah air sendiri. Penguasaan bahasa asing dapat berjalan beriringan dengan penguasaan bahasa Indonesia, yang satu tidak perlu dikorbankan untuk yang lainnya.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.