Hasil jajak pendapat yang dilakukan di 22 negara antara 7 April dan 8 Mei lalu dan melibatkan 24 ribu responden, menunjukkan bahwa banyak negara kini mendukung aksi militer terhadap Iran.
Tapi Pakistan dan Indonesia bersikap lunak terhadap Iran dan program nuklirnya. Tampaknya kepentingan nasional lebih diperhitungakan, padahal, Indonesia justru harus bersikap tegas dalam kebijakan luar negerinya kalau tetap mau diperhitungkan. Ikuti penjelasan Hariyadi Wirawan, pakar Iran dari Universitas Indonesia:
Hariyadi Wirawan [HW]: Ini terkait dengan konstituen dalam negeri Indonesia yang menghendaki agar Indonesia mengambil sikap yang lebih lunak terhadap negara-negara seperti Iran dan sebagainya.
Kepentingan nasional Indonesia mungkin menurut saya dianggap lebih penting untuk mengambil sikap yang tidak terlalu tegas mendukung resolusi. Tapi di sisi lain juga memberi kesempatan pada Iran untuk menyelesaikan persoalan dengan dunia ini.
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Sikap lunak Indonesia ini juga bisa berdampak bagi posisinya di dunia ya. Bisa jadi Indonesia tidak lagi digubris?
HW: Benar, jujurnya sebenarnya Indonesia sudah tidak lagi digubris sejak lama. Bukan saja oleh barat tetapi juga oleh Iran sendiri. Saya ingat betul ketika ada kunjungan presiden Ahmadinejad ke Indonesia ketika ditawarkan ke Indonesia bagaimana Indonesia bisa berperan di dalam upaya mengurangi tekanan barat terhadap Iran, maka Iran tidak meminta Indonesia untuk berpartisipasi. Tapi Iran minta Jerman dan Prancis untuk lebih terlibat di dalamnya.
Kurang Diperhitungkan
Jadi sejak awal Indonesia memang kurang diperhitungkan oleh kedua belah pihak. Tidak saja pihak barat tapi juga pihak Iran. Kemudian Indonesia sejak lama terlalu dianggap pro barat. Dan ini menyebabkan kita menjadi sulit. Karena sudah demikian di mata sebagian besar pemimpin Iran. Kemudian kita pun tidak bisa tegas memperlihatkan sikap. Dan sangat tergantung pada bagaimana desakan dari konstitusi dalam negeri.
Memang ini akan berdampak buruk dari sisi kepentingan nasional dengan barat di jangka menengah dan mungkin panjang. Tapi di sisi lain juga memang harus ada komitmen dalam menjalankan kebijakan luar negeri, kalau memang garis yang sudah diberikan oleh negara jelas, mengenai kita menyikapi suatu posisi yang memang jelas. Ya atau tidak.
Dan ini tidak bisa diimplemantasikan karena dukungan dan tekanan dari dalam tidak ada. Dan tekanan dari dalam justru menghendaki sebaliknya, maka eksekutif dalam hal ini pemerintah harus rela dalam melihat kenyataan bahwa Indonesia dianggap lemah di kemudian hari. Dan untuk mengembalikan situasi itu maka pemerintah Indonesia mau tidak mau harus lebih tegas lagi memberikan keputusan pada kebijakannya.
Dalam hal ini saya tidak tahu bagaimana pemerintah bisa memformulasikan sedemikian, hingga tidak terlampau takut terhadap dunia islam tapi pada sisi yang lain tidak terlampau tunduk pada tekanan barat khususnya Amerika Serikat. Permainan ini harus sedemikian cantiknya sehingga Indonesia justru seharusnya terlihat sebagai negeri yang mempunyai keluwesan dalam politik nasional.
Dengarkan wawancara selengkapnya di bawah ini:






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.