Kamis dan Jumat mendatang G8 akan menggelar pertemuan di Prancis. Negara-negara yang tergabung di kelompok ekonomi ini yaitu Amerika Serikat, Jepang, Kanada, Jerman, Prancis, Inggris, Italia dan Rusia akan membahas masalah ekonomi dunia. Tak pelak lagi soal pemimpin baru Dana Moneter Internasional IMF merupakan agenda penting.
Banyak pakar yang berpendapat bahwa peranah G8 semakin berkurang dan diambil alih oleh G20, yang juga menggabungkan Indonesia. Apa benar demikian?
Menurut Revrisond, pakar ekonomi di Universitas Gajah Mada (UGM), G20 dulu sebenarnya didirikan karena Amerika dilanda krisis ekonomi. Inisiatif mendirikan G20 itu berasal dari Amerika sendiri. Amerika ingin membagi beban kesulitan ekonomi dengan negara-negara lain. "Jadi, munculnya G20 diposisikan sebagai alat untuk menyelamatkan anggota G8, yang dalam hal ini Amerika Serikat," tandas Revisond.
Membagi beban
Jadi, berdirinya G20, jelas Revrisond, tidak benar-benar untuk mengubah tata perekonomian dunia untuk menampung partisipasi yang lebih luas. Yang terjadi adalah, tambahnya, negara G8, terutama Amerika, membagi beban dengan negara-negara di luar G8.
Bahwa Amerika dengan G8-nya mementingkan diri sendiri dapat dilihat dari cara negeri Paman Sam itu memanfaatkan G8 dan G20. "Masalah-masalah tertentu dibicarakan di forum G20. Kemudian ada yang tetap dibicarakan dalam lingkungan G8."
Negara-negara di luar G8 yang berperanan penting di G20 adalah Brasil, India, Cina dan Korea Selatan (BRICK). Negara-negara ini, tambah Revrisond, sering mempunyai kepentingan yang berbeda dengan kepentingan negara-negara G8.
Kelompok BRICK, jelas Revrisond, mempunya aspirasi tertentu untuk ikut mempengaruhi perkembangan ekonomi dunia. "Dan itu mereka terjemahkan ke dalam hal yang sampai sangat terukur. Misalnya kepemilikan saham Cina di Bank Dunia, di IMF dan seterusnya."
Benturan kepentingan
Lalu bagaimana peranan Indonesia di G20? Revrisond menilai peranan Indonesia agak unik. Semestinya Indonesia banyak memihak ke negara-negara pendatang baru, tapi kenyataannya tidak. "Ketika ada konflik-konflik antara Cina dan AS misalnya atau ada benturan-benturan antara kelompok G8 dengan BRICK, Indonesia justru cendrung menjadi alat yang memihak kepada G8 untuk melobi negara-negara BRICK ini"
Revrisond menyimpulkan bahwa Indonesia belum punya sikap yang mandiri. "Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih sangat tergantung dan dikendalikan kekuatan G8, khususnya Amerika Serikat," simpulnya.
Pengaruh Amerika
Keberpihakan Indonesia terhadap Amerika ini dilatarbelakangi oleh sejarah. Di zaman silam Indonesia, menurut Revision, banyak berutang budi sama Amerika Serikat. Dan sekarang pengaruh Amerika terhadap ekonomi Indonesia masih kuat antara lain melalui perusahaan-perusahaannya di Indonesia.
Selain itu Indonesia juga banyak berhutang sama negara-negara G8. Selain Amerika, di forum G8 itu ada Jepang, World Bank (Bank Dunia) dan Bank Pembanguan Asia atau ADB. "Jadi memang secara struktural Indonesia tarohlah bisa dikatakan terikat sebelah kakinya di G8."






















Indonesia bukan berhutang budi, tetapi penipu budi. SBY ketakutan bangat bila tidak mengikuti segala apapun yang dibilang sama Amerika. Keran apa, nanti ketahuan belangnya sebagai pemerintah penipu dan pembohong international. Ini ada hal yang aneh dengan Indonesia yang membuatnya, haruslah selalu tunduk dan patuh kepada Amerika. Keanehannya itu salah satunya itulah ilegal dan kriminal international. Indonesia itu, benar benar berstatus ilegal dan sistem pemerintahannya benar benar adalah kriminal international. Ada yang bisa bilang tidak? Dan itu tipu dan bohong international.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.