India memperketat peraturan visa kerja. Barang siapa ingin menetap dan bekerja di sana, paling sedikit harus bergaji 25.000 dolar setahun. "Keterlaluan tingginya," kata seorang pengusaha Belanda yang tidak bisa lagi menerima pemagang asing.
Pengetatan peraturan ini mulai berlaku November lalu. India tidak lagi mau menerima karyawan asing, kecuali penterjemah, guru bahasa asing selain Inggris, juru masak (masakan internasional) atau staf perwakilan internasional. Untuk mereka, Kementerian Dalam Negeri membuat perkecualian.
"Undang-undang yang tidak diperinci dengan baik," ujar Rutger de Bruijn, salah satu pemilik perusahaan manajemen NexusNovus di Bangalore. De Bruijn mempekerjakan pemagang internasional yang berbahasa asing. "Saya tentu saja tidak bisa menggaji mereka dengan tingkat Eropa. Sekarang saya masih bisa mendatangkan mereka dengan visa kunjungan usaha, dan menggaji mereka lewat perusahaan di Belanda. Tapi itu nantinya akan makin dipersulit. Perusahaan-perusahaan India tidak lagi bisa menerima pemagang asing."
Bukan untuk orang lain
Sayang sekali, karena perusahaan-perusahaan tersebut bisa mengambil keuntungan dari karyawan internasional, walau tidak selalu digaji tinggi. "Semua orang yang punya hubungan dagang dengan India selalu berkata, perbedaan budaya merupakan masalah. Pemagang Barat yang bisa menyampaikan keinginan Barat dan membawa pulang pengalaman dari India, bisa menjadi duta ideal bagi hubungan dagang dengan negeri tersebut. Kini, pihak kedutaan besar India sering mempersulit banyak hal, sehingga banyak perusahaan takut buka usaha di sini."
Kepada majalah India Open, pejabat tinggi Kementerian Dalam Negeri menjelaskan: "Setiap negara bersikap proteksionis. India pertama-tama untuk orang India, bukan untuk orang lain. Sampai sekarang kami biarkan semua orang masuk, karena kurang pakar dan kurang pengalaman. Kini kami tengah merumuskan peraturan operasional."
Menurut pejabat tadi, batas upah ditetapkan 25.000 dolar per tahun, berdasarkan pendapatan rata-rata karyawan berpendidik di sektor hotel, restoran dan kafe serta sektor informatika, dua sektor yang banyak mempekerjakan warga asing. Pendapatan rata-rata itu mencapai sekitar 18.000 dolar per tahun. Dalam tujuh tahun belakangan, gaji karyawan kedua sektor tersebut, naik dari 15 hingga 30 persen.
Hidup mewah
Tidak salah untuk menetapkan batas upah, ujar De Bruijn. "Namun upah minimal 25.000 dolar jelas terlalu tinggi untuk India." Demikian kata pengacara Belanda Anne (33, nama diubah atas permintaan sendiri). Anne bekerja untuk lembaga keuangan di Belanda, tapi juga ingin memperjuangkan hak-hak asasi manusia. Ia mengincar sebuah lembaga di India, tapi akibat peraturan baru, niatnya ini batal. "Tidak ada gaji setinggi itu di India. Saya tidak kenal satu orang India pun yang gajinya setinggi itu. Itu sebenarnya juga tidak perlu - dengan separuhnya saja, seseorang sudah bisa hidup mewah di kota besar seperti New Delhi. Saya tidak keberatan menerima gaji separuhnya."
Juga Anne percaya bisa berbuat sesuatu. "Banyak sekali perubahan di bidang hak-hak asasi manusia di India. Ada kemajuan, tapi masih banyak yang bisa dilakukan. Saya ingin sekali membantu di bidang ini. Akan sangat membantu jika kalangan LSM memandang keluar dan menjalin kerja sama internasional, dengan pandangan luas."
Menurut Dave, 32 tahun, seorang wartawan Kanada keturunan Belanda yang sampai Desember lalu bekerja untuk majalah India New Delhi, masalah ini berlaku untuk tiap sektor. Kesempatan yang buruk di Barat membawanya ke India, tempat dia menemukan pekerjaan yang penuh tantangan intelektual, redaktur pada sebuah majalah budaya politik. Gaji sebesar 700 euro tidak masalah baginya. Desember lalu dia diberitahu visanya tidak akan diperpanjang. Bisakah seorang India mengantikannya? "Mungkin saja, tetapi itu tidak berarti saya sebagai orang asing tidak ikut menyumbang pada organisasi itu dan pada India. Tukar pikiran antara saya dengan kolega orang India sebenarnya untuk kepentingan bersama."
Orang Cina
"Dibanding negara-negara tetangganya, India sebenarnya tidak terlalu banyak mempekerjakan orang asing," kata Dave. Lebih masuk akal lagi kalau mereka menolak beberapa kategori pekerja asing. Tetapi dengan batas gaji yang begitu tinggi banyak karyawan asing langsung dilarang masuk. Padahal mereka tidak mendatangkan masalah bagi India sendiri."
"Tujuannya jelas, tetapi perinciannya masih banyak yang bisa diperbaiki," kata pebisnis Belanda Rutger de Bruijn. Menurutnya peraturan ini terutama bertujuan untuk menghalangi orang Cina. Orang Cina memang merupakan kelompok orang asing terbesar yang dengan visum kerja, memadati sektor-sektor berupah rendah, seperti restoran, hotel, kafe dan teknik. Mereka memperoleh pekerjaan yang sebenarnya masih bisa diisi oleh orang India sendiri.
Dave kecewa. "Saya sebenarnya masih mau setahun lagi di sini," keluhnya. "Saya sangat berterima kasih pada India. Di sini saya benar-benar bisa melebarkan wawasan."






















Menurut saya sih sah2 saja .. mungkin itu untuk melindungi hak2 pekerja local disana. Sama halnya ketika saya visit ke hongkong, saya lihat banyak orang disana sepertinya tidak suka dengan orang2 asing .. dalam hal ini bukan pendatang dari asia, tetapi pendatang berkulit putih. Beberapa masyarakat disana punya anggapan bahwa orang2 asing itu akan menyerobot lapangan kerja mereka. Begitu pula ketika di Italy, saya lihat orang2 asia banyak yang bekerja sbg pembantu atau tukang sampah atau paling untung menjadi bekerja di butik. Saya tanya kenapa ? krn pemerintah di italy lebih memprioritaskan masyarakatnya terlebih dahulu. Tidak seperti di Indonesia yang selalu meng-elu2kan orang asing dengan memberinya gaji setinggi langit tapi memperhatikan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang luar biasa dari orang local. Itu dulu ... Tapi Alhamdullillah untungnya sekarang pelan2 berubah karena saya lihat di beberapa perkantoran yang ada orang asingnya, skrng gaji mereka disesuaikan sedikit dari gaji orang local sehingga mereka tidak bisa lagi bertingkah semena terhadap karyawan local. Akhir2 ini saya lihat banyak orang india di bisnis distrik jakarta, di bus dan bahkan dimana mana dengan sejuta cerita dari teman2 saya dan saya sendiri bagaimana sebalnya menghadapi orang2 india ini .. di kantor (mereka suka ingin tahu salary kita sebagai perbandingan .. benar2 tidak sopan), di jalan, di restoran .. etc. Ada satu kejadian penting sekitar 2 tahun yang lalu di batam, kejadian itu begitu ramai sampai seluruh media mneyiarkan berita tersebut. Ceritanya adalah sebuah perusahaan di batam yang banyak memperkerjakan pekerja asing di dalamnya sebagai petinggi disana. Beberapa petinggi adalah orang2 berkulit putih dan beberapa India. Jadi orang2 india ini selalu mengecilkan pekerja local indonesia, dengan kata2 yang kurang pantas dan menghina. padahal mereka mengais rezeki disini. selama bertahun tahun memendam, akhirnya meledaklah .. para pekerja local ini membakar pabrik dan mengejar para india itu untuk membunuhnya. mereka mendapatkan india itu dan menghajarnya sampai babak belur. Yang lucunya, si india ini melapor ke polisi dari rumah sakit tapi juga dia ini sekaligus dipenjara. Karena laporan yang di terima pekerja local atas kasus penghinaan. Biarpun sudah masuk rumah sakit, tetap saja para pekerja local ini mengejarnya karena mereka benar2 sangat marah dan terhina oleh si india yang kurang ajar ini. Kalo melihat videonya, rasanya saya juga ingin membakar mulut orang2 india itu. Kejadian itu sampai ke telingan SBY sebagai presiden. Keesokan harinya pimpinan kantor di batam dan juga pemimpin komunitas india di indonesia minta maaf sambil menangis di media ( dan disiarkan di televisi)dan menjadi pelajaran bagi semua pekerja asing untuk lebih menghargai pekerja local baik dalam penghasilan dan bertutur kata. Hari berikutnya most of indian in batam excodus besar2an ke singapore, mereka ketakutan. Sejak itulah sepertinya banyak pekerja asing disini yang tidak seheboh dulu baik dari penghasilan maupun bertindak. Banyak orang kita bekerja di beberapa negara sbg TKI, mencari secercah kehidupan dan penghasilan karena tidak mendapat perhatian disini, tetapi malah para pekerja asing yang datang lebih diutamakan. Aneh !!! Saya kira sebagai orang indonesia, kita juga bisa menerapkan peraturan seperti di india ini.Mereka bisa memperberlakukan hal seperti ini, kenapa kita tidak ? Jangan bilang tidak bisa karena kita butuh uanglah .. bodohlah .. etc yang bullshit untuk orang2 diluar sana yang berpikiran sempit. Tapi semua itu untuk perlindungan pekerja local di negri ini dan menjadi raja di negri sendiri.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.