Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Suzanna Koster
Map
Lahore, Pakistan
Lahore, Pakistan

Ibu Rumah Tangga Dobrak Tabu

Diterbitkan : 16 Juli 2010 - 3:59pm | Oleh Suzanna Koster (© RNW)
Diarsip dalam:

Di Pakistan, jarang ada wanita memiliki warung makan. Tapi, kegiatan usaha Ibu Parveen, usia 45 tahun, di kota Lahore, berjalan mulus.

Tanpa pinjaman kredit mikro, ia tidak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke tingkat perguruan tinggi. Dan setiap hari, akan terus bertengkar dengan suami. "Jika kaum wanita Pakistan mau mengubah cara hidup mereka, banyak yang bisa berubah," kata salah seorang pendiri lembaga kredit mikro mengenai sikap pelanggan seperti Parveen.

Di warung tersebut, di atas tikar, duduk bersila delapan pria menghadapi piring berisi sayur. Dengan demikian, seluruh warung itu nyaris penuh. Ruangan kecil ini terbuka lebar ke arah jalan yang penuh debu. Tidak ada kursi, meja atau menu. Tidak ada pilihan lain, selain satu-satunya masakan hari itu.

Monitor televisi kecil di sudut ruangan menayangkan film seri India. Nama warung makan ini 'Khawaja Ghareeb Nawaz'. Artinya kira-kira 'ramah terhadap kalangan miskin'. Warung makan seperti ini banyak di Pakistan. Namun, di negeri yang dikuasai sepenuhnya oleh kaum pria ini, wanita yang mengelola warung makan, merupakan hal luar biasa.

Ibu Parveen yang berbadan tegap ini berjalan mondar-mandir, dari panci-panci di atas kompor ke arah para pengunjung warungnya. "Bu, boleh saya minta tambahan roti?" tanya salah seorang di antara mereka. Parveen meletakkan beberapa potong roti bundar di piring pria tersebut. Pria tersebut bukan anaknya.

Di Pakistan, negeri yang terkenal sangat konservatif, komunikasi antara pria dan wanita, di luar hubungan keluarga, dinilai tidak patut. Jalan keluarnya, berbuat seolah-olah ada ikatan keluarga. Pada umumnya, wanita dipanggil dengan sebutan terhormat, 'baji'. Panggilan bagi saudara perempuan. Tapi, semua orang sangat menghormati Parveen. "Semua orang memanggi saya Ibu," katanya bangga.

Rokok
"Hingga lima tahun silam, hidup kami masih sangat sengsara," katanya. Sebagian besar dari upah bulanan sang suami, senilai 3.000 rupiah Pakistan, atau setara dengan 28 euro, habis untuk membayar uang sewa kamar ukuran kecil. tempat tinggal mereka berdua, bersama sembilan anak. Sebagian lagi untuk kebutuhan rokok sang suami, 300 rupiah, dan makan, 700 rupiah. Karena itu, ia sering bertengkar seru dengan suami, hingga pada suatu saat ia mendengar tentang kredit mikro.

Dari lembaga pemberi kredit, Kasf Foundation, ia mendapat pinjaman 6.000 rupiah, sekitar 56 euro. Ia kini memiliki warung makan, menyewakan becak. Dan sang suami mengelola usaha tempat cuci pakaian. Kini kehidupan keluarga tidak tegang lagi.

Pengelola warung makan ini membayar biaya asuransi sebanyak 1,5 persen dan biaya pelayanan 20 persen, pada Kasf Foundation. Ulama tradisional Pakistan menentang keras pembayaran biaya-biaya seperti itu, kata Syed Nasir Zaidi, dari Dewan Ideologi Islam. Sementara ulama modern tidak melarang hal-hal seperti itu, selama tidak berkembang menjadi pemerasan. Menurut Roshaneh Zafar, pendiri Kasf Foundation, kredit mikro justru sesuai dengan prinsip Islam, mengenai keadilan ekonomi.

Dapur
Menurut lembaga Social Policy and Development Centre di Karachi, pada tahun lalu, 22 persen wanita Pakistan memiliki pekerjaan, dan kaum pria 82 persen. Diskriminasi dan pikiran bahwa tempat bagi kaum wanita adalah di dapur, membuat posisi kaum wanita sulit. Dalam hal ini, Parveen mengalami sendiri.

"Beberapa kenalan melontarkan berbagai ejekan. Mereka mengatakan, saya tidak pantas bekerja seperti ini. Tapi, bagi banyak perempuan lain, hal ini justru merupakan dorongan."

Wanita Pakistan punya keinginan dan kemampuan untuk menjadi pengusaha, kata Roshaneh Zafar, dari Kasf Foundation. "Mereka memiliki ketrampilan dan pengetahuan. Mereka hanya perlu mengubah cara berpikir. Jika itu terjadi, banyak yang bisa berubah."

Sebagai organisasi yang banyak menerima hadiah penghargaan, Kasf Foundation kini memiliki pelanggan sekitar 300.000 pengusaha kecil. Mulai dari tukang sol sepatu dan pemelihara ayam potong, hingga berbagai usaha kecil lainnya. Total, di Pakistan diperkirakan sekitar satu juta pengusaha kecil telah menikmati kredit mikro. Pakistan Microcredit Network memperkirakan, masih diperlukan sepuluh kali lebih banyak pinjaman lagi.

Menurut Human Development Report PBB, pada tahun 2009, satu per tiga penduduk Pakistan, masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di Pakistan, lebih dari 50 organisasi bantuan dan tujuh bank penyalur pinjaman kredit kecil, di antaranya Kasf Foundation, menyediakan kredit mikro.

Putusan Keluarga
Sekitar separoh dari nasabah kredit mikro adalah perempuan. Pada mulanya, Kasf Foundation hanya memberi pinjaman pada nasabah wanita. Kini Kasf Foundation menerapkan kebijakan lain. Permintaan pinjaman harus merupakan keputusan bersama. "Pria dan wanita menjadi pemohon bersama yang sederajat. Mereka berdua inilah yang mengambil keputusan," kata Roshaneh Zafar.

Parveen mendapat dukungan dari suaminya yang kini berusia 55 tahun. "Pria dan wanita harus bekerja sama," katanya. Ia kini dengan mudah mampu membiayai kebutuhan rokoknya. Tinggal di sebuah rumah, yang empat kali lebih luas dari kamar sewaan mereka dulu. Lengkap dengan AC, kulkas, meja, ranjang, dan empat buah pesawat televisi. Dan yang paling penting, lima anak mereka yang belum menikah, bisa kuliah di perguruan tinggi.

Wanita Nakal
Tapi, ternyata emansipasi pun ada batasnya. Misalnya, ketika Parveen menyatakan, anak perempuannya tidak boleh ikut ke pasar. "Karena orang akan cepat menuduh, gadis seperti itu perempuan nakal."
Karena itu ia lebih mendorong cita-cita anak perempuan ingin jadi dokter. Salahsatu lapangan kerja yang terbuka bagi kaum wanita Pakistan. "Saya akan berusaha sekuat tenaga agar cita-cita anak perempuan saya menjadi kenyataan," katanya dengan air mata berlinang.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET