Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Selasa 21 Mei  
Map
Jakarta, Belanda
Jakarta, Belanda

HUT Suharto di "Bulan Sukarno"

Diterbitkan : 8 Juni 2012 - 1:15pm | Oleh Aboeprijadi Santoso (Foto: Ranesi)
Diarsip dalam:

Indonesia berada di tengah gelombang perubahan. Bulan Juni diawali dengan tanggal kelahiran Sukarno pada pekan pertama, disusul tanggal kelahiran Suharto pada pekan kedua. Masing-masing menjadi simbol yang merujuk pada dua zaman yang berbeda.

Dan perbedaan itu kian menajam di masa pasca-reformasi ini. Indonesia diprediksi meningkat makmur dan kelas menengah yang konsumtif tengah menanjak sambil berkeluh kesah kangen Suharto. Namun, bulan Juni, bagi publik, tetap ‘Bulan Sukarno.’

Sampai di pelosok kampung Pasar Minggu semua itu terasa. Dua poster raksasa menggambarkan Sukarno berpidato dengan semangat revolusioner. Teks-teks pada poster itu menyindir suasana ekonomi dewasa ini yang disebut dirajai “liberalisasi”. Sebuah majalah menampilkan Sukarno sebagai tokoh yang dikagumi dunia dengan berbagai contoh yang sulit ditemui di zaman sekarang. Sebuah pameran digelar khusus tentang Sukarno.

Para sejarawan berpesan, ada apa sih masa kini? Mengapa langka pemimpin dan kepemimpinan, bahkan mungkin juga langka perasaan kelangkaan kepemimpinan itu sendiri? Kemanakah anak-anak bangsa ini? Ada yang mengibaratkan suasana ini seperti fenomena Facebook dan media sosial: mesin telusurnya berputar sendiri terus menerus tanpa membutuhkan arah dan pemimpin.

Survey
Sebuah survey harian Kompas menunjuk pada lapisan menengah yang memacu kebahagiaan dengan berkonsumsi. Porsi mereka melompat hingga 65% menjadi 130an juta dalam 9 tahun terakhir tapi pada saat yang sama lapisan tersebut dinamakannya “kelas penonton.” Dr. Batara Simatupang, ekonom yang dulu memuja perekonomian sosialis, mengakui prospek ekonomi Indonesia membaik, sekalipun bertumpu pada sektor jasa yang padat dan sektor manufaktur yang menurun.

Semua ini berkat kestabilan politik. Bila ini berlangsung lama, ini satu landasan yang baik, tapi awas, demikian Batara memperingatkan, dampak krisis moneter dan politik dari krisis Eropa dan Amerika, khususnya bagi ekonomi yang justru lagi menanjak seperti Cina, India dan Indonesia. Pers dunia, tidak hanya Australia, tapi juga harian kondang The Financial Times, memprediksi ekonomi Indonesia akan terus meningkat.

Menohok SBY
Semua itu menohok sang presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY memimpin negara yang di satu pihak dipuji dunia sebagai telah memacu pertumbuhan ekonomi, namun di lain pihak membiarkan intoleransi. Bukan sekadar membiarkan, namun seperti mengizinkan karena nyata sekali bahwa polisi memilih opsi yang aman dan menguntungkan diri.

Selepas ramai soal Irshad Manji dan Lady Gaga, kini ibadah Kong Hu Cu di Medan pun diprotes. Kita tidak mengenal lagi rasa ‘kompleks minoritas’. Sebagian kelompok Muslim yang dulu, oleh sosiolog Belanda Prof. W.F. Wertheim disebut ‘mayoritas yang berperilaku minoritas’, kini berubah menjadi minoritas (radikal) yang berperilaku mayoritas kebablasan. Artinya mereka tetap ‘berperilaku minoritas’, namun kini lebih menonjolkan kemayoritasannya.

Intoleransi
Sejumlah propinsi dan kabupaten mengumumkan Perda Shari’ah sebagai semacam simbol kemenangan. Kebanyakan publik diam. Bahkan negara yang konstitusinya dilanggar itu, melalui Menlu Marty Natalegawa dan Menteri Agama Suryadarma, membantah gejala intoleransi itu. Sementara adzan yang tahun 1980an masih sayup-sayup, kini menembus setiap rumah, adalah sebuah symptomnya. Majalah The Economist pekan ini menulis corak Islam di Indonesia sebagai “tolerating intolerance”.

Intoleransi itu pula yang kini membuahkan dinamika baru. Lapisan menengah yang disebut “kelas penonton” tadi, meski menanjak makmur berkat kebijakan negara, kini pun gerah dengan keramaian para petualang negara dan vigilante berjubah. Mereka merindukan “ketegasan penguasa seperti di zaman Suharto”. Kontradiksi antara negara dan lapisan ini berkembang tajam.

Hari lahir Pancasila
Di tengah suasana seperti itulah HUT Suharto 9 Juni berlalu sepi, sementara HUT Sukarno 6 Juni ditandai dengan mengenang Hari Lahir Pancasila (1 Juni), Hari Wafat Sukarno (21 Juni). Tidak saja karena Hari Lahir ke-111 Sukarno maka bulan Juni itu menjadi ‘Bulan Sukarno.’ Tapi juga karena di tengah semua itu sejumlah manifestasi mencerminkan beda zaman di bawah kedua pemimpin negara itu.

Buku klasik Richard Robison tentang lahirnya kapitalisme Indonesia, dengan senyum Suharto di sampulnya, diluncurkan di Universitas Indonesia. Hersri Setiawan, mantan tapol Pulau Buru, menampilkan ulang berbagai essay-nya tentang perempuan dan mengasuh anak, “Awan Theklek, Mbengi Lemek” – judul yang cukup berbicara tentang nasib perempuan sebagai alas kaki di siang hari dan sebagai alas tidur di malam hari. Perempuan yang oleh Orde Baru ditetapkan jadi penunjang suami belaka itu, kini mengukuhkan keluarga batih yang menjadi sendi kapitalisme.

"Sebuah rapat Gerwani"
Tak kalah menarik, seorang penulis dari keluarga korban Prahara 1965, Brhe Redana meluncurkan novel berjudul “65” yang disebutnya merupakan “sebuah eksperimen untuk menunjukkan sisi politis dari kebudayaan pop”. Dan di situ, seorang selebritas, Roy Marten, menyampaikan pengakuannya pernah melaporkan “sebuah rapat Gerwani” di sebuah rumah yang kemudian dibakar tentara. Roy dan Brhe yang telah lama bersahabat itu kini berekonsiliasi di panggung.

Akhirnya, HUT Suharto di ‘Bulan Sukarno’ sebagai insiden dua zaman itu mendapatkan ilustrasi yang tajam ketika keduanya ditampilkan sebagai anak-anak zaman. Dengan mencatat Sukarno sebagai putra terlahir fajar, sejarawan Peter Carey baru-baru ini menggambarkan kepemimpinan Sukarno – seperti Dipanegara - sebagai tokoh pembaharu zaman. Sebaliknya, Sujiwo Tejo yang menonjolkan Suharto sebagai ‘anak tanpa bapak’, memaknai kepemimpinan Suharto sebagai anak sejarah Jawa yang sarat suksesi berdarah. Seperti Lembu Petheng dan Ken Arok, “Suharto juga tak jelas siapa bapaknya, (dan) orang yang tak jelas siapa bapaknya itu ”tidak memiliki rasa minder terhadap masa lalu.”

Di tengah kelangkaan kepemimpinan negara, kontradiksi-kontradiksi semacam itu rupanya makin menarik perhatian orang.

Diskusi

ibing 11 Juni 2012 - 11:58am / Indonesia

Ini ada lagi orang-orang buangan yg tdk suka Indonesia, ibu/m'ba atau apa sajalah anda ini (Retno dan Udyn) kalau anda bukan orang Indonesia jangan kasih komentar ttg Indonesia. kami bangsa Indonesia sangat bangga dengan sejarah kami. Anda-anda saya yakin adalah orang-orang yg terbuang krn mengkhianati saudara-saudara anda sendiri di Indonesia dan sekarang berlindung dibalik jaminan sosial pemerintah........ enak yah Ibu dan Bpk, makan uang jaminan hidup) kami adalah bangsa yg bekerja keras shg menjadi bangsa dan negara spt sekarang ini. Indonesia (NKRI lho bukan Negara Indonesia Serikat) merupakan negara anggota G-20. Coba tanyakan kpd Pemerintah ........yg skrg mengurus anda-anda itu, apakah .......menjadi negara anggota G-20, atau G-7 atau G-15, sama sekali tdk. Kami adalah bangsa yg tdk mengemis-ngemis bantuan, spt anda-anda yg msh mengemis dan mengharapkan bantuan sosial spt masyarakat di beberapa negara Afrika yg blm maju itu. He... he... he... ini hanya untuk dicamkan oleh anda berdua, bhw dihina itu itu tdk enak.

Salam

Salam

Ratno M 12 Juni 2012 - 7:03pm / Indo

Sekalipun Indonesia telah menjadi anggota G 20 atau 30 sampai 110 misalnya, tapi konkristnya, NKRI itu bisa saja dibilang sebagai negara palsu. Itukan bisa, dan apa bila pemerintahnya merasa malu atau marah, bisa diajukan kepengadilan international untuk diproses secara hukum international. Kita tidak boleh lagi menggunakan mulut kita untuk terlibat dalam penipuan dan pembohongan. Ini zaman nyata dan benar. Semua kebohongan dan penipuan serta intimidasi TNI tidak boleh lagi ada. Untuk itu, kalau NKRI itu dibilang palsu, maka kita semua harus sadar dan pertanyakan keabsaahannya negara kita ini. Benarkah negara NKRI ini ataukah tidak? Jangan cuma ikut ramai lalu main seruduk aja, sekarang kita semua berhak memepertanyakan keabsaahan negara kita ini dengan bukti2 autentiknya. Benarkah NKRI itu negara merdeka dan berdaulat? Ratno M. Bidadari Semanggi.

Ratno M 8 Juni 2012 - 4:50pm / SUKARNO PENDIRI INDONESIA ATAU PERUSAK INDONESIA?

************ SUKARNO PENDIRI INDONESIA ATAU PERUSAK INDONESIA? **********
*
Sampai dengan hari ini, kita semua terfokus kepada Sukarno sebagai pendiri Indonesia, tapi kita semua dengan sengaja, juga melupakan sejarah yang luar biasa yaitu, Sukarno membubarkan, merusakan, menghancurkan, mempertiadakan dan memalsukan serta membuangkan Indonesia sebagai satu negara merdeka dan berdaulat dan menggantikannya dengan satu negara yang tidak mempunyai nilai atau landasan bernegara dan berdaulat yaitu NKRI pada tanggal 17 Agustus 1950 di Jakarta.
*
Setelah itu, memaksa semua orang untuk turut ikut membela segala tindakan dan perbuatan kejahatannya itu sebagai hal yang benar dan pasti demi mengatasi percecokan politik luar negeri. Jadi sekarang ini, apakah pantas buat kita untuk seenaknya saja merayakan hari kelahiran Sukarno atau pancasila, begitu juga dengan SUHARTO yang sistem kepemerintahan adalah, yang satu meniru sistem yang lainnya?
*
Pancasila bukanlah pedoman bernegara, melainkan penghancur negara dan berperan sebagai alat intimidasi dan pemalsuan bernegara. Selama kurung waktu 60an tahun, semua president pada negara ini dengan pancasilanya, tidak ada satupun yang jujur dan adil, malah menjadi api dalam sekam. Ketidak pedulian, intimidasi, kekerasan dan kejahatan para pejabat menjadi ikhtiar TNI dan POLRI dimana saja.
*
Sukarno bukanlah pendiri Indonesia, melainkan PERUSAK INDONESIA. Karena kalau bukan Negara Federasi Republik Indonesia yang telah merdeka dan berdaulat itu, maka NKRI benar benar adalah negara palsu buatan Sukarno. NKRI negara palsu buatan Sukarno dan hal inilah yang harus kita peringati setiap tanggal 17 Agustus dan bukan sebaliknya. Jadi kalau pada tanggal 17 Agustus nanti, President SBY bersama kabinetnya merayakan HUT RI dan NKRI, maka itu artinya HUT PERUSAKAN INDONESIA. Tidak ada pilihan lain, tapi kalau ada pilihan lain, maka itu artinya palsu atau penipuan secara internasional. Sukarno pendiri Indonesia atau perusak Indonesia? Retno M.

Udyn Majalengkah 9 Juni 2012 - 9:53pm / Indonesia

Sekarang menantunya Sukarno lagi dirawat di Rumah Sakit. Pak Taufik Kiemas suaminya bu Megawati lagi dirawat di rumah sakit karena disakitkan. Nanti kalau sudah dibaikan nanti baik lagi. Pak Taufik kalau membaca naska pancasila dan tex proklamasi mertuanya, seperti ular telan buaya. Suda pernah melihat ular telan buaya? Itulah makna dari pancasila dan tex proklamasinya Indonesia 17 Agustus 1945 di Jawa.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...