Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Jannie Schipper
Map
Casablanca, Maroko
Casablanca, Maroko

Hukuman Mati, Perlu atau Tidak

Diterbitkan : 14 November 2011 - 2:51pm | Oleh Jannie Schipper (RNW)
Diarsip dalam:

Semakin banyak negara yang mencabut hukuman mati. Tapi beberapa negara yang berpenduduk padat seperti Cina, mempertahankannya.

Di negara-negara Arab hukuman mati juga masih ada dalam UU. Dunia berharap Maroko bakal menjadi printis mencabut hukuman mati. Bagaimana pendapat warga Maroko sendiri tentang hal ini. Dan bagaimana andaikan putera Anda diringkuk di sel maut?

Beberapa tahun lalu ucapan-ucapan politisi di Maroko tampaknya cenderung ingin mencabut hukuman mati. Setelah Jibuti, Maroko tampaknya akan merupakan anggota Liga Arab kedua yang mencoret hukuman mati di UU-nya.

Tapi para aktivis sangat kecewa ketika Maroko mendukung moratorium pada pemungutan suara di PBB. Meski hukuman mati sejak 1993 tidak lagi diterapkan, tapi hakim Maroko masih sering menjatuhkan vonis hukuman mati.

Pendapat warga Maroko berbeda-beda. Seorang perempuan Maroko berkata: "Seorang yang membunuh, atau malah seseorang memerkosa atau mencuri - bagi saya- mereka harus dibakar." Warga lain mengatakan: "Hukuman seumur hidup bagi saya boleh juga. Orang yang dipenjara seumur hidup sebenarnya sudah tidak hidup lagi kan?

Kompas pemilu

Hari-hari belakangan lebih dari 15.000 warga Maroko mengisi angket Kompas Pemilu menjelang pemilihan parlemen 25 November mendatang. Piranti lunak daring (soft ware), yang berisi tiga puluh pertanyaan mengenai masalah sosial, politik dan ekonomi ini, bertujuan membantu elektorat menentukan pilihan mereka.

Minggu ini Radio Nederland dan Vrije Universiteit di Amsterdam juga membuat program yang sama untuk Mesir. Berdasarkan analisa ternyata hampir separuh responden Kompas Pemilu di Maroko mendukung hukuman mati. Hanya 37 persen setuju dengan pencabutan hukuman mati.

Reaksi perempuan lebih konservatif ketimbang laki-laki. Empat puluh satu persen pria menentang hukuman mati sementara 34 persen perempuan mendukung.

Yang mencolok, bukan remaja, tapi orang tua di atas 50 tahun mendukung pencabutan hukuman mati. Ada yang beralasan agamis. "Menurut syariat Islam hukuman mati harus dipertahankan," kata seorang pemuda.

"Hukuman mati adil. Karena masih ada orang yang membunuh, lalu dipenjara beberapa tahun, kemudian dibebaskan. Setelah bebas, mereka melakukan pelanggaran yang sama. Ini harus dicegah. Orang membunuh, harus dibunuh pula. Supaya menjadi pelajaran bagi yang lain."

Casablanca

Tapi bagaimana rasanya kalau putera anda sendiri dimasukkan di sel maut? Jalil Rachid divonis mati karena terlibat pemboman di Casablanca tahun 2003. Sembilan tahun ibunya gelisah.

"Jalil saat itu mau menikah," kata ibunya. "Ketika itu sudah membeli pakaian untuk bertunangan. Lalu calon isterinya kabur. Kan tidak ada orang yang mau menunggu tunangan yang mau dieksekusi? Ketika Jalil ditangkap, keluarga sangat kaget. Jalil bekerja sebagai tukang las dan masih tinggal bersama orang tua.

"Tuhan tahu apakah ia bersalah atau tidak. Tapi mereka tidak menemukan bukti kesalahan Jalil. Jalil sangat normal. Ia seorang agamis, tapi tidak termasuk tipe orang yang suka memarahi saudara perempuannya atau perempuan lain kalau mereka tidak mengenakan jilbab."

Menurut ibunya, bukan Jalil saja yang merasa tegang. ‘Kami khawatir suatu ketika mereka akan memutuskan untuk mengeksekusi Jali," katanya. Tapi hukuman mati kan sudah lama tidak dilaksanakan lagi di Maroko? Ya memang benar, tapi kenapa hakim masih mengeluarkan vonis hukuman mati?

Kecanduan
Selama Jalil di penjara, keluarga ikut menderita. "Putera bungsu saya sudah tidak tahan lagi sehingga ia kecanduan mengisap lem," kata ibunya. Suaminya jatuh sakit gara-gara anaknya dipenjara. Ia tidak mau bicara dengan siapa pun. Ibu Jalil sendiri menderita berbagai penyakit, juga karena anaknya meringkuk di penjara.

"Kini dua puteri saya yang menghidupi keluarga dengan gaji mereka bekerja di tekstil. Warga sekitar juga mencurigai mereka. Mereka menyuruh kami pindah, karena kami menurut mereka, terkutuk. Lihat. Itu dia keluarga seorang tervonis mati," mereka berbisik.

Pengurangan hukuman
Ibu Jalil sampai sekarang masih gagal mendapat grasi dari Raja untuk anaknya. Pada hari-hari raya Raja biasanya memberi ampunan. "Hampir tidak ada yang memperoleh grasi. Aksi dan protes kami tidak membuahkan hasil. Permohonan semua tervonis mati ditolak. Kami takut, mereka akhirnya akan dieksekusi."

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET