Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Selasa 21 Mei  
Avatar Redaksi Indonesia
Map
Amsterdam, Belanda
Amsterdam, Belanda

Homo Jadi Tentara? Tak Masalah di Belanda!

Diterbitkan : 2 Desember 2010 - 4:44pm | Oleh Redaksi Indonesia (Foto: © Robert Koelewijn)
Diarsip dalam:

"Selama tidak bersikap berlebihan, boleh saja homo menjadi tentara." Demikian tulis Mayor Peter Kees Hamstra, ketua Yayasan Homoseksualitas dan Angkatan Bersenjata.

Atas permohonan Radio Nederland Hamstra menulis tajuk menanggapi ungkapan: jadi homo tidak masalah di militer Belanda. "Betapa indah kalau saja, saya bisa menjawab 'Ya' dengan lantang, tapi faktanya harus dijelaskan lebih jauh."

Opini Mayor Peter Kees Hamstra
Untung saja homoseksual, biseksual atau transseksual secara umum bisa berfungsi dengan baik di Departemen Pertahanan. Tapi penerimaan ini tidak muncul begitu saja. Sampai tahun 1970-an, misalnya, berlaku larangan bagi kaum homo di Departemen Pertahanan.

Ciuman
Setelah itu masih perlu banyak perjuangan. Akhir tahun tujuhpuluhan dibentuk kelompok kerja homoseksualitas untuk mendobrak topik tabu. Tujuannya untuk memperbesar penerimaan dan menciptakan lingkungan yang aman. Tetapi pokja ini tidak berhasil meyakinkan pimpinan Departemen Pertahanan. Sejumlah anggota kelompok kerja ini kemudian mendirikan Yayasan Homoseksualitas dan Angkatan Bersenjata tahun 1987.

Penelitian tahun-tahun belakangan membuktikan, akseptasi kaum homo meningkat dari sekitar 50% pada awal tahun sembilanpuluhan menjadi 90%. Sebagai catatan, semakin banyak kaum homo, lesbi dan transseksual tampil berlebihan di tempat umum - misalnya dengan berciuman di depan umum - maka akseptasi masyarakat akan menurun.

Festival Homo
Tentu saja peningkatan akseptasi ini berkaitan dengan perubahan sikap terhadap kaum homo dalam masyarakat Belanda. Departemen Pertahanan menerapkan kebijakan baru: diskriminasi dilarang dan pembahasan khusus mengenai homoseksualitas diberikan selama pendidikan.

Selain itu yayasan ini juga bisa menunjukkan diri dan tampil sebagai sososk panutan. Sekarang organisasi kami ikut serta dalam acara festival homo: Sabtu Merah Jambu dan Parade Kanal. Di samping itu kami juga berkerja sama dengan Company Pride Platform, jaringan festival homo di departemen dan lembaga lainnya dan juga kerjasama dengan serikat pekerja AFMP.

Amerika
Yayasan ini diminta memberi komentar oleh media luar neger. Dan sementara itu, pokja internasional telah dibentuk dengan negara-negara NATO lainnya. Sejenis coalition of the willing. Maksudnya adalah agar ada lebih banyak negara yang terlibat dalam koalisi ini dan akhirnya menjadi sub komite formal NATO.

Pada bulan Mei kami diminta bekerja sama dalam Brookings Summit oleh Palm Centre Universitas Denver dan Institut Brookings, perusahaan konsultan ternama. Tema simposium ini adalah kebijakan Don't Ask Don't Tell - jangan tanya, jangan beritahu dari militer Amerika.

Pengaruh Negatif
Pada simposium terlihat bahwa homoseksualitas di enam negara yang ikut serta tak merintangi kesiapan operasional dan kohesi kelompok. Di Amerika Serikat ada ketakutan bahwa homoseksualitas bisa memberi pengaruh buruk terhadap operasi militer. Ketakutan ini dibantah oleh pengetahuan dan pengalaman.

SHK berharap, tak lama lagi pelarangan homoseksualitas di Amerika dihapuskan. Lesbian, homo, biseksual dan transseksual harus punya hak melayani rakyat sebagai tentara. Keputusan itu akan bagus baik bagi organisasi maupun bagi perorangan. "Hak homo adalah hak azasi manusia!" itulah kredo kami.

Kebijakan homo bisa dilaksanakan tanpa masalah

Akhir dari kebijakan Don't Ask, Don't Tell tak perlu mengundang banyak masalah di kalangan militer Amerika. Begitu hasil penelitian Pentagon. "Kami yakin bahwa militer kami bisa menghadapi hal ini," demikian menurut laporan penelitian ini.

Laporan yang dikeluarkan Selasa (30/11) menyatakan, 70% responden meramalkan, tak akan ada masalah untuk militer, jika larangan homoseksual dihapuskan. Untuk penelitian ini 400.000 tentara diwawancara dan 150.000 pasangan tentara.

Menteri Pertahanan Robert Gates mengatakan, tentara memerlukan waktu untuk perubahan.

Mau lihat laporan Pentagon? Di sini!

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...