Nahdatul Ulama (NU) menyambut baik kedatangan presiden Amerika yang mengulurkan tangan ke dunia Islam itu. Menurut para tokoh NU, umat Islam dianjurkan Nabi menghormati tamu.
Tapi Hizbut Tahrir berpendapat sebaiknya kunjungan presiden Amerika itu ditolak saja. Karena, menurut organisasi ini, Obama bukanlah tamu yang baik, karena ia masih membunuhi umat Islam seperti di Afghanistan dan Irak.
Menurut Ismail Yusanto, Amerika masih menjajah negara-negara muslim seperti Afghanistan dan Irak. Meski itu diawali oleh Bush, tapi Obama belum mengubah kebijakan pendahulunya itu. Malah ia sudah menambah jumlah tentaranya di Afghanistan.
"Akibat dari invasi itu sejak tahun 2003 ribuan warga muslim terbunuh," tandas Ismail.
Baik Irak maupun Afghanistan sudah hancur, bukan hanya fisik tapi ekonomi, politik, sosial dan budayanya juga.
"Pertanyaannya siapa yang bertanggungjawab. Tentu Amerika. Dan presidennya adalah Obama, " ujar Ismail.
Solider terhadap sesama muslim
Organisasi Islam ini menolak kedatangan Obama karena solider terhadap saudara yang dibunuh. Menurut ajaran Islam, tambah Ismail, muslim wajib membantu saudaranya sesama muslim yang tertindas dan terbunuh.
Nyawa seorang muslim itu, menurut Ismail, sangat mahal harganya. Mengutip hadis Nabi ia mengatakan: "Hancurnya dunia lebih remeh di sisi Allah SWT ketimbang terbunuhnya seorang laki-laki muslim."
Karena Obama masih membunuhi warga muslim terutama di Afghanistan dan Pakistan, maka ia dianggap "orang kafir yang nyata-nyata memusuhi atau memerangi umat Islam".
Menghormati tamu
NU berpendapat berbeda. Menurut organisasi terbesar di Indonesia ini, Obama harus disambut baik karena Nabi Muhammad saja menyambut musuh.
Tapi Ismail Yusanto tetap bersikukuh bahwa Obama adalah musuh yang tidak perlu disambut. Ia menyamakan Obama ini dengan Abu Sofian yang tidak disambut nabi karena ia pernah berkhianat.
"Tapi tidak semua tamu diterima oleh Nabi. Abu Sofyan ditolak oleh nabi. Karena ia telah melanggar perjanjian Hudaibiyah."
Karena banyak sekali warga yang mati akibat ulah Amerika, maka Ismail Yusanto menyimpulkan bahwa Amerika adalah teroris terbesar di dunia.
Untuk mendengarkan klik tanda panah di bawah ini.






















keep revolt to bring syariah and khilafah !!!! salam revolusi +_+
@D. lim Radio Nederland Wereldomroep memuat interview seperti ini itu tandanya dia objektif!!! Dan itu sudah menjadi kaedah bagi setiap media, kecuali media yang bobrok moralnya.. Fungsi media itu bukan untuk menyuarakan satu suara sepihak saja, melainkan media harus menyajikan berita-berita yang faktual dan objektif agar masyarakat bisa menilainya sendiri. Jadi media itu tidak mendoktrin masyarakat dan mencuci otak masyarakat dengan berita-beritanya yang tidak objektif. Saya sangat setuju dengan Radio Nederland Wereldomroep memuat interview ini, jarang sekali saat ini media yang objektif dalam menyajikan berita.. Thumb up untuk Radio Nederland Wereldomroep memuat interview..
@Ponaram : Hizbut Tahrir bukan Negara seperti Rusia yang Hizbut Tahrir tidak memiliki kewenangan.. Seandainya Hizbut Tahrir mempunyai wewenang, pasti dan tanpa perlu di perintahkan Hizbut Tahrir akan mengusirnya jauh-jauh dari negeri ini agar intervensi dan privatisasi SDA bisa kembali ketangan rakyat. Jadi, Hizbut Tahrir itu bukan negara seperti Rusia dan Ekuador yang berani mengusir Kedubes Amerika. Jika anda ingin agar Hizbut Tahrir dapat mengusir Kedubes amerika, maka dukunglah kami dalam penegakan Khilafah agar nanti Amerika itu di usir dari Negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Kalimat "Hancurnya dunia lebih remeh di sisi Allah SWT ketimbang terbunuhnya seorang laki-laki muslim" arogan sekali, lebih arogan dari "Deutsch uber alles-"nya Nazi Hitler. Saya tidak mengerti mengapa Radio Nederland Wereldomroep memuat interview radikal seperti ini? Jadinya saya setuju dengan Partai Demokrat 66 Belanda yang mengusulkan distopnya subsidi jutaan euro kepada Radio Nederland Wereldomroep. Selanjutnya silahkan saja memuat interview amburadul seperti di atas, asal pakai uang sendiri, jangan pakai uang pajak rakyat Belanda.
Radio Nederland Wereldomroep memuat interview seperti ini itu tandanya dia objektif!!! Dan itu sudah menjadi kaedah bagi setiap media, kecuali media yang bobrok moralnya.. Fungsi media itu bukan untuk menyuarakan satu suara sepihak saja, melainkan media harus menyajikan berita-berita yang faktual dan objektif agar masyarakat bisa menilainya sendiri. Jadi media itu tidak mendoktrin masyarakat dan mencuci otak masyarakat dengan berita-beritanya yang tidak objektif. Saya sangat setuju dengan Radio Nederland Wereldomroep memuat interview ini, jarang sekali saat ini media yang objektif dalam menyajikan berita.. Thumb up untuk Radio Nederland Wereldomroep memuat interview..
Lalu mengapa Hizbut Tahrir tidak menolak keberadaan kedutaan Amerika di Indonesia?
Saya pikir sebaiknya tamu disambut dan diterima saja, apalagi tamu tersebut mengisyaratkan tujuan yang positif. Justru kedatangan tamu tersebut dapat dimanfaatkan oleh tuan rumah untuk menceritakan / menggambarkan nilai-nilai positif yang dimiliki tuan rumah, yang dapat dibawa pulang oleh tamu untuk diterapkan di negaranya. Daripada menolak Obama, lebih baik Hizbut Tahir atau penolak lainnya menyuguhkan 'Nasi Goreng Perdamaian' atau 'Baso Keadilan' untuk disantap Obama... Ini merupakan pernyataan sikap yang lebih baik, bahwa Indonesia adalah negara yang mengutamakan perdamaian dan Keadilan. Terima kasih
Hizbut Tahrir bukan Negara seperti Rusia yang memiliki kekuatan. Hizbut Tahrir berani mengusir namun Hizbut Tahrir tidak memiliki kewenangan.. Seandainya Hizbut Tahrir mempunyai wewenang, pasti dan tanpa perlu di perintahkan Hizbut Tahrir akan mengusirnya jauh-jauh dari negeri ini agar intervensi dan privatisasi SDA bisa kembali ketangan rakyat. Jadi, Hizbut Tahrir itu bukan negara seperti Rusia dan Ekuador yang berani mengusir Kedubes Amerika. Jika anda ingin agar Hizbut Tahrir dapat mengusir Kedubes amerika, maka dukunglah kami dalam penegakan Khilafah agar nanti Amerika itu di usir dari Negeri Indonesia yang kita cintai ini.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.