Di Argentina, proses pengadilan sembilan belas mantan anggota militer dari Pusat Pendidikan Angkatan Laut, ESMA akan segera digelar.
Selama berlangsungnya perang kotor, gedung sekolah yang terletak di Buenos Aires ini menjadi pusat penyiksaan junta Argentina yang paling tersohor.
Mantan pilot warga Belanda-Argentina, Julio P. akan menjadi salahsatu tersangka dalam perkara pengadilan massal ini. Seandainya ia jadi diesktradisi ke Argentina. Karena, melalui jalur hukum, Julio P. sedang berusaha agar perkaranya disidangkan oleh pengadilan Belanda.
Jumlah korban
Perkiraan jumlah korban penyiksaan di ESMA, singkatan dari Escuela Mecánica de la Armada, menyangkut angka yang jauh berbeda satu sama lain. Kejaksaan Argentina, saat ini sudah menyiapkan 900 kasus korban tewas.
Sementara menurut berbagai organisasi hak azasi manusia jumlah korban tindak kekerasan di ESMA, paling tidak 5.000 jiwa. Selama kekuasaan diktatur militer, 1976-1983, jumlah korban hilang diperkirakan antara sembilan hingga tigapuluh ribu orang.
Penerbangan maut
Selama perang kotor tersebut, orang-orang yang dianggap musuh junta diculik, lalu ditahan dan disiksa di Pusat Pendidikan Angkatan Laut tersebut.
Sejumlah tangkapan tersebut, dilemparkan ke laut dari pesawat, dalam apa yang dinamakan 'penerbangan maut'. Julio P., warga Belanda-Argentina, mantan pilot Transavia, dituduh sebagai salahsatu pelaksana penerbangan maut tersebut.
Ia ditangkap di Spanyol akhir September lalu. Dan Argentina kini sudah mengajukan permintaan ekstradisi. Pihak kejaksaan Argentina menyatakan, sidang pengadilan Julio P. sudah akan bisa diselenggarakan dalam tempo satu tahun mendatang.
Culik bayi
Selain penyiksaan dan pembunuhan, kasus ESMA ini juga akan mengadili beberapa tersangka, dengan tuduhan mencuri bayi-bayi tahanan politik. Semua bayi tersebut ditampung oleh perwira militer, atau keluarga mereka. Sementara ibu kandung bayi-bayi tersebut dibunuh. Sehubungan dengan berbagai tuduhan tersebut, ESMA menjadi lambang utama kekejian rezim militer.
Algojo pirang
Tersangka yang paling tersohor adalah Alfredo Astiz, yang lebih dikenal sebagai 'algojo pirang'. Ia dianggap bertanggung-jawab atas hilangnya sepuluh anggota organisasi 'Ibu-ibu Plaza de Mayo' pada tahun 1977. Organisasi ini didirikan oleh ibu-ibu yang kehilangan anak.
Menyusul proses pengadilan pada sembilan belas orang tersangka yang dimulai Jum'at 11 Desember lalu, akan digelar serangkaian pengadilan berikutnya. Seluruh rangkaian pengadilan ini akan menyeret 148 orang tersangka, pelaksana perang kotor.
Pada rangkaian proses pengadilan terdahulu, para tersangka hanya terbatas dari kalangan perwira tinggi anggota junta militer. Rangkaian pengadilan sekarang ini, akan menyeret banyak tersangka, dari berbagai tingkat kepangkatan, dari yang paling tinggi hingga yang paling rendah.














Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.