Akhirnya, sesudah 65 tahun setia menemani pendengar dan pembaca, Radio Nederland Siaran Indonesia dengan berat hati mohon diri. Kali ini untuk waktu tak terbatas. Menandai berakhirnya era Ranesi, kami siapkan berbagai artikel khusus tentang Ranesi, mitra, dan tentu saja pendengar.
Kodir, laki-laki yang tinggal di Bangka ini, tanggal lahirnya sama dengan Ratu Belanda, Beatrix, yaitu 31 Januari 1938. Ia mulai mendengarkan siaran Ranesi sejak tahun 2006. “Karena waktu itu saya sedang giat-giatnya ramalan bencana alam.”
Ramalan tepat
Kodir, saat dihubungi Radio Nederland, mengatakan bisa meramal bencana alam. “Saat terjadinya gempa bumi Padang, itu tepat tanggalnya. Itu disiarkan Radio Belanda, oleh Eka Tanjung dan Nina Nanlohy. Saya dapat berita dari pak Eka Tanjung bahwa ramalan saya tepat dan saya mendapat sambutan dari beberapa media, termasuk Padang sendiri dan juga Kanada.”
Komunikasi langsung ini lah yang membuat Kodir rajin mendengarkan siaran Radio Nederland. “Karena Ranesi yang dapat berkomunikasi langsung dengan saya, bisa nelepon langsung.”
Kecuali Ranesi
Kegiatan meramal tadi dianggap tidak serius keluarga Kodir sendiri. “Dianggap mengkhayal oleh keluarga saya sendiri, apalagi orang lain. Kecuali Radio Belanda. Itu lah mengapa selama ini, langsung saya berkomunikasi dengan Radio Belanda.”
Kodir senang kru Ranesi selama ini dapat melayani kehendaknya.
“Saya itu memang ambisi betul melancarkan ramalan-ramalan saya. Dan Ranesi lah yang dapat menyiarkan, sedang radio di Indonesia semuanya bungkam, nggak mau, termasuk media cetak nggak mau. Itu yang saya heran. Ramalan saya ini dianggap orang mengkhayal.”
Kecewa
Kodir mengaku sangat kecewa dengan ditutupnya siaran Ranesi. “Tapi kalau itu memang diharuskan berhenti, ya apa boleh buat.”
Mengakhiri percakapan telepon dengan Radio Nederland, Kodir masih ingin menyampaikan salam kepada Nina Nanlohy dan Bari Muchtar. “Itu kan pak Bari Muchtar dia bilang asalnya dari Lahat. Dia juga pernah telepon dengan saya. Semoga kru Ranesi mendapat lapang yang lebih baik lagi setelah ditutup radio ini.”















ya itu akibat sijawa jengkol menghina belanda, sudah dikasih ilmu pencerahan lewat RANESI eh malah menggigit seperti siANJING GILA, makanya RANESI DITUTUP, dasar jawa si BOLA JENGKOL
Setuju sekali dg gelarnya itu tuh he he he
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.