Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Daniel Yahya Dharma
Avatar Yulia Irma Pattopang
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Gelar Pahlawan Nasional untuk Keturunan Tionghoa

Diterbitkan : 11 November 2009 - 3:33pm | Oleh Yulia Irma Pattopang
Diarsip dalam:

Sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh nasional. Beberapa orang mendapatkan bintang penghargaan.

Salah satu tokoh yang menarik perhatian adalah Purnawirawan TNI AL yang sudah almarhum, Daniel Yahya Dharma atau John Lie. Dia menjadi orang keturunan Tionghoa pertama yang mendapatkan gelar Pahlawan Nasional di Indonesia.

Radio Nederland Wereldomroep mewawancarai Aswi Warman Adam, sejarawan terkemuka, dan Margaretha Yahya Dharma, istri sang pahlawan, tentang siapa dan kenapa Yahya Dharma terpilih menjadi pahlawan nasional.

Jasa-jasa
Sesudah Indonesia merdeka Daniel Yahya Dharma berjuang menembus blokade Belanda di perairan Indonesia. Ini terjadi sekitar tahun 1947-1948. Dia berlayar dengan perahu kecil bernama The Outlaw ke perairan Selat Malaka dan Thailand untuk membawa hasil bumi Indonesia dari Sumatra untuk ditukarkan dengan uang dan senjata.

Uang dan senjata itu dia serahkan pada gerilyawan Tentara Nasional Indonesia. Aksi heroik ini dia lakukan paling tidak lima belas kali. Dia mempertaruhkan nyawanya di laut.

Kapal Belanda selalu siap sedia menembaki kapal-kapal asing yang ingin keluar perairan. Selain itu sebagai perwira angkatan laut, dia juga ikut andil meredam upaya pemberontakan nasional seperti RMS, PRRI, Permesta dan lainnya.

Poncke Prinsen
Yahya Dharma atau John Lie pernah bekerja di KPM, perusahaan kapal Belanda, yang sekarang menjadi Pelni. Setelah Indonesia merdeka dia kembali ke Indonesia dan bergabung debgan angkatan laut.

Namun Yahya Dharma tidak bisa dibandingkan seperti Poncke Prinsen, seorang tentara KNIL yang berputar haluan membela Indonesia. Walau pernah bekerja di perusahaan Belanda sebelum masa kemerdekaan, Dharma tidak pernah jadi tentara Belanda.

Momentum sejarah
Aswi Warman Adam menjelaskan bahwa penganugerahan ini adalah momentum yang patut dicatat dalam sejarah Indonesia karena Yahya Dharma adalah keturunan Tionghoa pertama yang mendapat gelar pahlawan nasional.

Selama lebih dari lima puluh tahun diadakannya pemberian gelar pahlawan nasional, tokoh etnis Tionghoa belum pernah diberikan penghargaan. Walau sudah ada tokoh yang mendapat bintang mahaputra seperti kepada Rudi Hartono, pemberian gelar pahlawan nasional belum pernah terjadi.

Ini mungkin terjadi karena pada masa Orde Baru, kata-kata Tionghoa dan Cina itu diidentikkan dengan musuh atau sesuatu yang tabu untuk dipelajari. Sehingga ketika itu tidak terpikirkan untuk memberikan gelar kepada mereka. Bahkan dikriminasi yang justru terjadi.

Makna untuk keluarga
Istri sang pahlawan, Margaretha Yahya Dharma menjelaskan makna penghargaan ini bagi dirinya dan keluarga adalah mengetahui bahwa apa yang telah dia lakukan sang suami dihargai orang banyak.

Hanya saja dia menyayangkan pemberian gelar diberikan ketika Yahya Dharma telah lama meninggal dunia.

Untuk mendengarkan versi audio wawancara ini, silakan klik di bawah ini:

  • ©

Diskusi

lartri 15 November 2009 - 2:33am
" SELAMAT untuk keluarga besar almarhum Bapak Yahya Dharma" Walau gelar pahlawan ini diberikan setelah beliau meninggal dunia, saya percaya hal ini akan menjadikan keluarga bersemangat meneruskan perjuangan beliau, terus mengabdikan diri untuk kemajuan bumi pertiwi. Dan memang sudah seharusnya penghargaan/ gelar kepahlawanan diberikan tidak memandang suku, ras, agama yang pasti " BERJUANG utk INDONESIA".
user avatar
Yulia Irma Pattopang 12 November 2009 - 2:54pm
Terima kasih Koreksinya.
Didi Kwartanada 12 November 2009 - 8:05am
Yth Ranesi, Kami dari Yayasan Nabil ingin mengomentari kalimat pembuka artikel tsb. "Sehari sebelum peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November, Presiden SBY menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada sekitar 12 tokoh nasional." Yang benar, hanya 3 orang pahlawan nasional saja untuk tahun ini, sedangkan lainnya hanya menerima Bintang2 penghargaan (Mahaputera Adipradana, Jasa dan Budaya Parama Dharma). Sedang penghargaan bagi alm, John Lie sangat khusus, karena selain gelar Pahlawan Nasional, beliau juga menerima Bintang Mahaputera Adipradana. Usulan John Lie sebagai Pahlawan Nasional asal Sulawesi Utara yang diajukan oleh Yayasan Nabil ii kemudian diterima oleh Pemerintah RI melalui Kepres RI No 058/TK/Tahun 2009. Salinan dokumen dan kronologi pengusulan serta press release bisa dilihat di website kami berikut iniL http://www.nabilfoundation.org/?hal=h002&id=31 http://www.nabilfoundation.org/?hal=h002&id=30 Terimakasih atas perhatian redaksi Ranesi.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET