Gaston Salasiwa bek kiri blasteran Belanda-Maluku akan main di Medan Bintang. Walau belum pernah ke Indonesia, namun ia termotivasi Irfan Bachdim, rekan lamanya di junior Ajax.
Rabu 2 Februari Gaston Salasiwa kelahiran 17 Agustus 1988 ini mengantongi kontrak di klub Medan Bintang, terbang menuju Indonesia. Walaupun belum pernah ke Indonesia pemain yang sebelumnya milik AZ Alkmaar dan dipinjamkan ke Telstar itu sangat bersemangat. Karena tawaran ini datang di saat yang tepat.
Sempat Ragu
Keputusan Gaston bermain di LPI ini tidak seperti membalik telapak tangan. Ia sempat ragu, karena masih gelap soal sepakbola di Indonesia, demikian ungkapnya pada Radio Nederland, RNW. "Walaupun belum pernah ke Indonesia, tapi saya dapat informasi yang menarik tentang liga baru. Ini sebuah tantangan menarik, di saat karir di Belanda yang kurang pasti," ungkapnya pada Radio Nederland.
Beberapa hari terakhir ia mengumpulkan berbagai masukan mengenai Medan Bintang dan juga kompetisi di Indonesia. Kepada Radio Nederland, Gaston juga menyatakan tidak menutup kemungkinan kalau merasa cocok, juga bermain di timnas Indonesia.
Medan Bintang beruntung mendapatkan pebola kidal yang trampil menguasi bola dan rajin memberi umpan ke depan itu. Mengacu pada pelatih Telstar, Edward Medgod dari 2008-2010 memasang Gaston sebagai pilar penting di lini tengah.
Penampilan Perdana
Pada penampilan perdana bersama Telstar Velsen, 16 Januari 2009 ia menyumbangkan dua goal lawan FC Eindhoven. Medgod sangat menyukai permainan Gaston yang sering menohok lini pertahanan lawan. Di lain pihak, kalangan kritisi mencemaskan juga kemampuan bertahannya. Sehingga dia lebih cocok sebagai gelandang serang daripada gelandang bertahan.
Teman Irfan Bachdim
Keputusan final, tercapai dekat penutupan musim bursa pemain 31 Januari 2011. Kedatangan Gaston Salasiwa di Indonesia ini kental peran aktif Fardy Bachdim, kakak Irfan sebagai penghubung. Gaston dan keluarga Bachdim sudah kenal sejak Irfan dan Gaston sama-sama bermain di tim muda E1 (9-10 tahun) di Ajax Amsterdam. Tim yang juga dihuni pemain keturunan Christian Supusepa, sempat menjadi juara pada musim 1998/99.
Mampu Adaptasi
Bermodal pendidikan di Ajax junior dan AZ Alkmaar selama 7 tahun, dan dua tahun di Liga Dua Belanda, Jupiler tampaknya bisa memberi nilai tambah bagi Medan Bintang. Pemuda yang tinggal di Zaandam itu juga tidak akan sulit menyesuaikan dengan klub barunya. Karena asisten pelatih Bintang Medan, Robert Roelofsen juga berasal dari Belanda.
Tapi apakah pemain 173 cm yang trampil menguasai bola ini juga mampu menghadapi kerasnnya permainan di Indonesia dan kondisi non-teknis seperti lapangan dan suhunya?























UPDATE: Rabu 2 Februari, pukul 10:20 waktu Belanda, Gaston Salasiwa kelahiran 17 Agustus 1988 ini mengantongi kontrak di klub Medan Bintang, terbang dari Bandara Schiphol Amsterdam, menuju Jakarta Indonesia dengan pesawat Garuda Indonesia GA 0089 lewat Dubai.
Ia diharapkan tiba di Jakarta, Kamis pagi 3 Februari.
GO LPI, MAKE BETTER THAN ISL by NURDIN
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.