Suatu malam di pertengahan 1987, di sebuah kafe di Davao, Mindanao, seorang pria kekar mendekati saya. Tiba-tiba dia pamerkan pistolnya yang tersembunyi di pinggangnya. Betapa terkejut saya.
Ternyata dia seorang pentolan milisi atau vigilante Filipina yang menggemparkan dunia pada tahun 1980an karena ulah kekerasannya terhadap gerilya komunis dan Islam di Mindanao.
Kita tahu, unit-unit jagoan seperti ini berani beraksi karena mendapat perlindungan dari bos-bos lokal. Mereka punya nyali dan beringas. Bukan karena bertindak atas nama negara, tapi karena ada proteksi sejumlah kelompok pejabat (militer) lokal.
Di Sicilia sebelum Perang Dunia II, para mafioso juga bergerak bebas, karena perlindungan lokal dari sejumlah tuan tanah perkebunan (latifundia).
Tanam paksa
Menurut alm. sejarawan Onghokham, ini agak mirip dengan yang terjadi di Jawa sebelum penguasa kolonial Belanda menerapkan sistim Tanam Paksa (Cultuurstelsel). Perilaku kekerasan-privat, alias menjadi hakim sendiri dengan ancaman kekerasan, terjadi di berbagai zaman.
Kemelutnya marak ketika aparat negara gagal menunjukkan wibawa, lemah, atau tengah dilanda perubahan penting.
FPI (Front Pembela Islam) pada hakekatnya tak berbeda. Reformasi 1998 melahirkan ketidakpastian di kalangan penguasa lama. Kita tahu, sejumlah jenderal dan polisi yang jaya di masa Orde Baru pada November 1998 melahirkan FPI.
Di kala Revolusi Prancis, juga muncul tokoh-tokoh nekad seperti Robespierre.
Solidaritas
FPI, seperti mafioso Sicilia tahun 1930an yang dikaji antropolog Belanda Anton Blok (1975), memiliki keberanian, karena mendapat perlindungan dan solidaritas dari sejumlah orang kuat. Solidaritas bisa berdalih kekeluargaan (mafia) atau pun keagamaan (FPI).
Pada saat seperti itulah diperlukan wibawa negara dan monopoli penggunaan alat-alat kekerasan oleh Negara menjadi legitim.
Kebalikannya, monopoli itu bisa kebablasan dan melahirkan dominasi dan kediktaturan negara berdasarkan penguasaan alat-alat kekerasan, seperti di Jawa pada masa kolonial, fasisme Italia dan Orde Baru.
Aparat resmi negara
Di kala begitu, tokoh-tokoh negara atau pun tokoh-tokoh lokal tidak perlu berperan sendiri, tapi tampil sebagai aparat resmi negara yang memperalat milisi. Ingat, misalnya, keberingasan milisi pro-integrasi di Timor Timur (1999).
FPI menjadi fenomena yang dibutuhkan sementara elit militer berada di tengah ketidakpastian. Vigilante religius bergerak dengan dalih yang merujuk kepada agama dan menggunakan simbol-simbol keagamaan untuk mengabsahkan perilaku mereka.
Di bulan Ramadhan mereka menggerebek klab-klab malam. Di kala lain, mereka mengganggu kelompok minoritas, atau menyerang yang berorientasi politik atau seksual berbeda, dan lain-lain.
Atribut lain
Akhirnya, protes publik membuat FPI cemar. Tiga tahun lalu, Juni 2008, FPI tampil dengan nama dan atribut lain, menggebrak ibu-ibu, perempuan dan anak-anak yang turun membela nilai-nilai Pancasila dan kehidupan keberagaman di Lapangan Merdeka, Jakarta. Pemerintah dan aparat terkesan kurang tanggap.
Sehari kemudian, di markas FPI di Jati-Petamburan, Jakarta, saya sempat menyaksikan kehadiran sejumlah tokoh ormas lain di luar FPI. Ada solidaritas spiritual seolah mereka adalah korban yang tersudutkan.
Lagi-lagi mereka merasa terpojokkan.
Tapi di Kalimantan Tengah, Pemda dan kelompok bisnis setempat telah membangun jaringan penguasa lokal sejak pembantaian migran Muslim Madura di Sampit pada 2001. Elit Dayak ini dengan tegas menentang pembentukan dan kedatangan kelompok FPI.
Jalan aman
Kali ini FPI pun dalam kondisi berbeda. Di kala pertumbuhan ekonomi naik, kelas menengah marak, permainan politik dan bisnis menjadi akrab dengan pemilu, pilkada dan pilpes, maka kelompok elit pusat yang dulu mensponsori vigilante, memilih jalan aman.
Barisan jagoan tak diperlukan lagi. Dulu mereka berkelana beringas di Jawa, ke Ambon dan Lombok, kini dibubarkan. FPI bahkan tak cukup duit untuk beramai-ramai ke Kalimantan.
Tapi ekornya menyiratkan masalah baru. Di satu pihak, pemerintah, bahkan ulama juga, menimbang perlunya membekukan FPI. Di lain pihak, tuntutan publik membubarkan dan melarang FPI makin kencang.
Nilai-nilai keberagaman perlu dibela, tapi juga bisa terancam ketika pembelaan menjurus ke larangan berekspresi, berorganisasi dan berserikat. Indonesia sejak merdeka pernah melarang parpol dan ormas, namun larangan itu tidak berdasarkan undang-undang yang merincikan persyaratannya.
1965
Dengan kata lain, pembatasan kebebasan berserikat itu sendiri perlu dipagari. Jika tidak, kita dapat terjebak lagi pada negara yang kebablasan, dan masyarakat yang terjangkit stigmatisasi dan keberingasan seperti Prahara 1965, yakni tragedi terbesar dalam sejarah kita.
Apa pun namanya, gagasan dan ideologi tak mungkin dibunuh. FPI … riwayatmu kini mulai membekas.





















bubarkan ormas arnakis, dan jangan sampai masuk ke pulau Borneo tercinta.
FPI bukanlah ormas yang patut untuk di ikuti, mw ngurus orang diri sendiri belum diurus dengan benar.
Wahai bangsaku kaum Ulama,NU dan Muhamaddiyah !
Demi menjujung tinggi agama kita kita harus berbuat menjaga nama baik agama Islam kepada dunia. Tindakan kejam dan anarkhis dari pihak FPI sungguh mencemarkan agama islam di arena internasional. Mari kita umat Islam di barisan terdepan tanpa bimbang² dg berani dan konsekwen membela agama kita dg melawan dan membasmi FPI.Kalau organisasi² Ulama terkemuka seperti NU dan Muhamaddiyah tidak paling terdepan dan konsekwen menghadapi FPI ini maka orang bisa sempat mengira bahwa banyak sedikitnya ada terpendam pada diri kia rasa simpati terhadap FPI ini.
Lu duluan dah, tunjukin congor lu di bunderan HI, tantang tuh orang orang FPI kl bener bener jago.
SAYA JUGA TIDAK HABIS PIKIR, MENGAPA PEMERINTAH TIDAK BERANI MEMBUBARKAN FPI YANG JELAS2 MERUSAK NAMA BAIK ISLAM DAN MERUSAK SENDI2 KE BHINEKAAN INDONESIA.
Menurut saya:
1. SBY luar biasa bangganya dan beruntungnya mendapatkan pujian besar dari barat bahwa ia sbagai tokoh paling demokrat.Penilaian ini membuat dia amat aman memerentah. Pembubaran suatu organisasi dinggapnya bertentangan dg prinsip demokrasi ini.Kalau sempat terjadi gerakan rakyat menjatuhkan dia seperti halnya peristiwa-pristiwa di Afrika Utara dan negeri Arab lainya ia percaya bahwa barat akan menyokongnya. Kita tahu negeri² barat banyak mendapatkan keuntungan ekonomi di bawah pemerentahanya.
2.Sebagaimana dinyatakan dalam artikel, FPI dibentuk sebagai alat oleh grup tertentu, orang-orang kuat dari pihak meliter.Situasi ini bisa menjadi perhitunganya.
3.Ketakutannya bisa didasari bahwa golongan Islam yg menginginkan Indonesia punya dasar hukum syariat Islam cukup berpengaruh dan kuat.Sedangkan FPI bagi golongan ini merupakan pejuang yg punya keberanian dan kekuatan riel untuk mencapai tujuannya.
Yg ngomong seperti itu..orng2 yg tolol,dg adanya fpi kan lebih bagus..,bisa menghancurkan kemaksiatan,kajadian dikalteng..,itu hanya dilakukan pejabat korup yg takut terbongkar kejahatannya,
maju terus fpi..kami mendukungmu..
Yg ngomong seperti itu..orng2 yg tolol,dg adanya fpi kan lebih bagus..,bisa menghancurkan kemaksiatan,kajadian dikalteng..,itu hanya dilakukan pejabat korup yg takut terbongkar kejahatannya,
maju terus fpi..kami mendukungmu..
Tahukah anda bahwa tahi udang terletak di kepala.
itu otakmu tolol !!
Saya punya analisa sedikit berbeda. Dijaman reformasi ini, kelihatannya di Indonesia konsep "TOLERANSI" itu masih memakai PENGERTIAN sama rasa sama rata. Kaya ongkos angkot"JAUH DEKAT ONGKOS 2000 RUPIAH".Mustinya yang JAUH mbayar LEBIH 2000 yang DEKAT kurang dari 2000. Yang mayoritas mendapat porsi yang lebih banyak dari pada yang minoritas. Itu lebih Demokratis.
Coba pembaca lebih mengamati lebih teliti dan arif. Di Indonesia ini MINORITAS STATUS SOSIALNYA lebih MENONJOL dari Mayoritas. Coba lihat status sosial, ekonomi, lifestyle secara umum. Minoritas lebih menetukan.
Saya kira saatnya Indonesia harus lebih DEMOKRATIS. Kalau nggak yah STABILITAS selalu labil. Banyak Contoh lho, kalau anda mlihat status sosial, ekonomi dan gaya hidup, GNP dll. Marilah kita berpikir lebih jernih dan arif. Kita sama-sama anak bangsa, sebaiknya lebih bersikap demokratis.
Salam
Satrio Wibowo
Saya punya analisa sedikit berbeda. Dijaman reformasi ini, kelihatannya di Indonesia konsep "TOLERANSI" itu masih memakai PENGERTIAN sama rasa sama rata. Kaya ongkos angkot"JAUH DEKAT ONGKOS 2000 RUPIAH".Mustinya yang JAUH mbayar LEBIH 2000 yang DEKAT kurang dari 2000. Yang mayoritas mendapat porsi yang lebih banyak dari pada yang minoritas. Itu lebih Demokratis.
Coba pembaca lebih mengamati lebih teliti dan arif. Di Indonesia ini MINORITAS STATUS SOSIALNYA lebih MENONJOL dari Mayoritas. Coba lihat status sosial, ekonomi, lifestyle secara umum. Minoritas lebih menetukan.
Saya kira saatnya Indonesia harus lebih DEMOKRATIS. Kalau nggak yah STABILITAS selalu labil. Banyak Contoh lho, kalau anda mlihat status sosial, ekonomi dan gaya hidup, GNP dll.
Salam
Satrio Wibowo
saudara satrio, mohon dijelaskan apa maksudnya minoritas di indonesia status sosialnya lebih menonjol ketimbang mayoritas? Apa buktinya kalau minoritas menentukan status sosial, ekonomi, dan lifestyle? minoritas dalam hal apa yang sebenarnya anda bicarakan? Saya khawatir anda melakukan generalisasi yang salah. mohon penjelasannya. terima kasih.
Yang pasti ada yang mendanai fpi,keributan secara Nasional dipelihara.tinggal tunggu kapan dana habis hehehe....Time will tell.
Sumber minyak di negeri-negeri Arab terutama Saudi Arabia masih lama bisa diexplotasi. Saudi berkepentingan agar NKRI punya dasar hukum atau prinsip
syariat Islam seperti di negerinya.
pengen be'ol,numpang berak ah..!crot..crot..preet,dut.
gimana kabar jafar umar kalab mantan panglima laskar bejat? tidak pernah masuk bui? bagus sekali hidup di indonesia..
Bos, kalau preman atau geng atau gerombolan ormas cuma pamer senjata dan kekerasan, efek kekacauannya cuma lokal dan mudah diatasi. BEDA dengan FPI, yang mengatasnamakan islam. Efek kekacauan yang ditimbulkan oleh preman2 putih munafik ini, jauh lebih berbahaya dan jauh lebih luas bahkan nasional, karena meskipun ormas fpi barbar ini isinya cuma ratusan orang, tetapi SIMPATISANNYA dari berbagai ormas islam moderat lainnya itu banyak, dan jauuuuhh lebih banyak lagi mendapat silence support dari rakyat yang bisa mencapai jutaan. Kita perlu menggarap fpi sama seperti nazi.
Sepenuhnya amat setuju. Perbuatan FPI ini sungguh benar-benar mengotori nama baik agama Islam atasnya kita sebagai umat agama Islam selayaknya merasa malu kepada umat pemeluk agama-agama lain dan kepada dunia internasional. Maka kita pemeluk agama Islam selayaknya berlawan dibarisan paling terdepan. Organisasi apapun yg kegiatanya merusak dan mengancam keamanan masyrakat damai harus di basmi.
Bukan rahasia FPI itu kaki tangannya militer dengan kedok agama, makanya banyak orang yang nggak berani sama FPI. Lihat saja SBY sewaktu diwawancara di youtube video http://www.youtube.com/watch?v=jlwaKAycFYY "NGAKU MENJETUJUI LASKAR JIHAD KE MALUKU & SULAWESI". Makanya FPI tetap saja kuat.
Kaki tangan militer? Ada buktinya nggak? Pernah koreposnden Aljazeera di Jakarta Step Vaessen melakukan investigasi ttg kasus Ahmadiyah yg dibantai oleh orang2 FPI, Step bilang bahwa investigasinya dia mengarah ke dua orang purnawirawan TNI yang membeking FPI dan sayangnya dia tidak bilang nama. Mungkin tuduhannya Step tidak langsung, jadi tidak kuat. Kalau saya melihat gaya hidup orang2 FPI, sptnya mereka itu bukan pembela Islam tapi pembela Arab. Pakaiannya, sandal, rambutnya dllsb mencontoh orang2 arab saja. Makanya mereka itu lebih bagus dikirim ke arab sono untuk membela islam. Saya juga heran mengapa mereka harus membela agama, agama justru ada untuk membela dan memperbaiki hidup pribadi setiap pemeluknya. Apa nabi Muhammad SAW minta untuk dibela?
soal berita Stephanie Vaessen, nama salah satu orangnya adalah T*asno Sud*rto. Dan ormas yang waktu itu diajak berkonspirasi adalah ormas GARIS pimpinan Chep Hernawan.
Mas, kalaupun mas meragukan tentang FPI itu semestinya mas baca saja pada ambon.com untuk mendapatkan pembuktiannya secara terang dan jelas. Dan itu dari Surat kabar mas. www.ambon.com 56837 dengan temanya Wajah asli dibalik topeng agama, Silakan membacanya.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.