Masalah yang menghantui anak adopsi di Belanda: Saya mirip siapa? Apakah saya bisa juga menjadi seorang ibu yang baik? Apakah dalam keluarga saya ada penyakit turunan? Ini juga dialami Dewi Kroonenburg yang dilahirkan di Jakarta.
Namun pertanyaan yang paling banyak menghantui anak adopsi: Apakah yang mereka rasakan, alami, perbuat, takuti, semuanya disebabkan karena mereka diadopsi? Situs web www.adopteeronline.nl menawarkan forum untuk membahas masalah yang dihadapi anak-anak yang diadopsi setelah mereka menjadi dewasa. Demikian koran Trouw.
Pulang ke Indonesia
Dewi Kroonenburg (30) misalnya. Ia merasa bahagia sebagai orang Belanda, tapi kadang-kadang juga tidak. Dewi dilahirkan 1 Januari 1982 di Jakarta. Belum berumur sebulan dia diadopsi oleh sepasang suami istri Belanda. Enam tahun lalu untuk pertama kali ia pulang ke Indonesia.
"Saya langsung merasa kerasan. Udaranya cocok. Saya seolah-olah kenal dengan orang-orang yang saya temui. Banyak yang saya rasakan merupakan bagian dari hidup saya," tegas Dewi.
Sebagai anak adopsi Dewi tidak pernah menemui kesulitan. Orang tua angkat sejak awal terus terang mengenai latar belakangnya. Walaupun demikian ia merasa ada sesuatu yang mempengaruhinya sebagai anak angkat.
Dewi sangat mandiri. Ia sulit percaya orang lain. Ia selalu merasa resah, tapi tidak tahu apa penyebabnya?
Ketenangan
Ketika menginjak usia 20-an, Dewi mulai mencari-cari informasi tentang Indonesia. Dia berhasil menemukan alamat ibu biologisnya, sekalipun rumahnya sudah tidak ada. Dewi sendiri heran, mengapa ia mencari seseorang yang mirip dengannya?
Ketika ia kembali ke Belanda, Dewi merasa ada semacam ketenangan. Paling tidak ia tahu di mana ia dulu pernah tinggal.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.