Kampanye vaksinasi flu Meksiko pada 2009 meluncur begitu saja tanpa arah yang jelas. Dan organisasi kesehatan dunia WHO memberikan vaksinasi tanpa informasi yang dibutuhkan. Itulah pesan terpenting buku Dosir Flu Meksiko yang ditulis jurnalis investigasi Belanda Daan de Wit dan dipresentasikan Kamis (09/12).
Orang-orang Meksiko harus memakai masker, semua tempat umum di Meksiko ditutup. Itulah gambaran pertama yang didapat dunia ketika flu Meksiko, yang waktu itu masih disebut flu babi, muncul. Wabah ini kemudian menyebar ke seluruh dunia pada Februari 2009.
Tiga bulan kemudian, organisasi kesehatan dunia WHO menyebutnya pandemi: epidemi menular yang menyebar ke seluruh dunia dan berpotensi menewaskan ratusan ribu orang. WHO memutuskan melakukan kampanye vaksinasi massal melawan virus H1N1.
Industri
Jurnalis investigasi Daan de Wit menyelidiki mengapa WHO malah memberi vaksinasi dan bukan informasi. Dan kepentingan apa saja yang berperan.
Dengan detail De Wit menerangkan bahwa sebelum virus ini menyebar, negara-negara selatan - Australia dan Selandia Baru - sudah bisa memprediksi akibat epidemi flu ini. Kementrian Kesehatan mereka melaporkan bahwa ada gejala virus ringan. Dan waktu itu sebenarnya penyebaran virus masih bisa dicegah, katanya. Namun pencegahan itu digagalkan oleh hubungan antara industri farmasi dan WHO.
"Selanjutnya kita bisa lihat, pengaruh industri dalam komite darurat flu Meksiko sangat besar. Setahun setengah kemudian baru diketahui bahwa sepertiga dari anggota komite darurat itu punya hubungan dengan industri farmasi. Lebih dari setengah anggota Kelompok Penasihat Ahli (Sage) - sekelompok ilmuwan yang menasehati WHO soal vaksinasi dan pengaruh besar - juga punya hubungan dengan industri farmasi. Banyak sekali ilmuwan yang menangani flu Meksiko punya hubungan dengan industri."
Transparansi
Virolog Ab Osterhaus dari Pusat Kesehatan Erasmus berperan penting selama epidemi flu Meksiko di Belanda dan termasuk anggota Sage. Ia menyebut kritik De Wit berbahaya, namun tak menampik adanya hubungan ilmuwan dengan industri. Hubungan itu tak bisa dihindari, katanya.
"WHO harus punya penasihat-penasihat handal. Dan kami sebagai ilmuwan tentu harus terlibat jauh. Sekarang, pemerintah tidak lagi memproduksi obat atau vaksinasi. Industrilah yang mengambil alih. Jadi industri harus bekerja sama erat - secara publik atau privat - dengan para ilmuwan."
Apakah kerja sama tersebut cukup transparan? Osterhaus tak berani menjawab. Biarkan evaluasi yang membuktikan. Virolog Belanda ini mengatakan, ia sendiri berusaha bekerja sama seterbuka mungkin.
Osterhaus menentang pendapat bahwa tadinya ada gejala virus ringan. Wabah langsung menyerang wilayah selatan Amerika Serikat dan Amerika Latin. "Dan saya mendukung tindakan WHO waktu itu."
Pengaruh besar
Toh, konflik kepentingan amat menentukan, kata De Wit. Di bawah tekanan perusahaan-perusahaan penghasil vaksin, pengumuman pecahnya pandemi jadi mudah sekali dikeluarkan. Dengan cara itu, jalan menuju vaksinasi massal terbuka lebar. Sama sekali tak ada peninjauan kembali untuk melihat apakah vaksinasi benar-benar diperlukan, katanya. Apalagi dengan vaksin eksperimen.
"Ada banyak orang yang menginginkan lebih banyak informasi soal vaksin dan bahan-bahannya. Namun mereka ditentang secara struktural oleh pemerintah Belanda. Padahal tugas pemerintah sebenarnya memberi informasi kepada rakyat, agar rakyat bisa menentukan sendiri apakah mereka mau divaksinasi. Di sini yang terjadi malah vaksinasi besar-besaran, dan bukan pemberian informasi."
Pernyataan Daan de Wit - mengenai mudahnya pengumuman epidemi dikeluarkan - disebut absurd oleh Osterhaus. "Kita bicara soal penyakit menular yang menyebar ke seluruh dunia. Kita, kan, tak bisa menunggu untuk melihat apakah virus ini benar-benar berbahaya. Kita harus langsung mencegahnya dengan vaksinasi."
Menurut virolog tersebut, lima cabang ilmu sudah membuktikan bahwa vaksinasi ini aman.
Perjanjian lebih baik
Pelajaran yang diambil Osterhaus dari epidemi ini adalah bahwa pembagian vaksin harus diubah.
"Kita harus memastikan bahwa bukan cuma enam atau tujuh negara di Eropa Barat yang punya persediaan cukup, namun di semua bagian Eropa. Dan saya belum bicara soal bagian dunia lain. Pembagian vaksin yang seimbang tidak terjadi, padahal pandemi pecah di seluruh dunia."
Jurnalis investigasi Daan de Wit melangkah lebih jauh lagi. Ia berharap bukunya memancing penyelidikan lebih lanjut di parlemen Belanda, agar rahasia terdalam seputar flu Meksiko bisa terbongkar.























Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.