Reformasi yang tengah digembor-gemborkan di Myanmar rupanya tidak berpengaruh bagi etnis minoritas Rohingya. Kelompok Muslim minoritas ini tetap menjadi korban diskriminasi dan pemerasan di Myanmar. Demikian surat kabar Belanda De Volkskrant (13/06) melaporkan.
Seperti halnya rezim junta militer, pemerintah Myanmar di bawah kekuasaan Presiden U Thein Sein juga tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga Myanmar. Menurut perkiraan terdapat 800 ribu etnis Rohingya yang hidup di Rakhine, bagian barat Myanmar. Mereka tidak memiliki kewarganegaraan dan sangat rentan terhadap diskriminasi dan pemerasan.
Terombang-ambing
Kondisi hukum tersebut mendesak etnis Rohingya untuk melarikan diri ke berbagai negara. Menurut laporan organisasi pengungsi PBB UNHCR tahun 2011, ratusan ribu etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh, negara-negara teluk, Pakistan, Thailand dan Malaysia. Namun di luar negeri pun mereka kerap menghadapi masalah karena tidak memiliki dokumen dan kartu identitas yang berlaku.
Permasalahan etnis Rohingya sering menjadi sorotan media internasional. Dari pengungsian besar-besaran ke Bangladesh, hingga insiden tenggelamnya kapal pengangkut pengungsi yang melibatkan angkatan laut Thailand. Kini, terjadi konflik kekerasan antara etnis Muslim Rohingya dan penganut Budha di negara bagian Rakhine.
Konfik
Pada hari Selasa (12/06) perseteruan terjadi di wilayah barat Myanmar. Konflik disertai kekerasan meluas hingga ke Sittwe, ibukota Rakhine. Rumah-rumah terbakar dan puluhan korban tewas. Pihak militer mencoba menghalau mereka, tapi sia-sia. Presiden Thein Sein mengatakan, konflik tersebut dapat mengancam reformasi di Myanmar.
Negara tetangga Bangladesh mengirim tiga kapal berisi ribuan pengungsi Rohingya kembali ke lautan lepas. Menurut Dipu Moni, Menteri Luar Negeri Benggali, mereka tidak memiliki fasilitas memadai untuk menampung para pengungsi.
Janji kolonial
Sentimen anti-Muslim di Myanmar telah berlangsung berabad-abad. Kulit etnis Rohingya yang lebih gelap membuat mereka mudah dikenali. Secara fisik dan budaya, mereka memang lebih mirip dengan orang-orang Benggali.
Ketika Myanmar merdeka pada 1947, etnis Rohingya tidak diakui sebagai salah satu etnis di Myanmar. Kebanyakan mereka bermigrasi dari India semasa pemerintahan Kolonial Inggris. Selama PD II, etnis Rohingya pun setia kepada Inggris yang menjanjikan mereka negara muslim sediri. Karena itulah etnis Rohingya dianggap sebagai musuh Jendral Aung San, ayah Aung San Suu Kyi.
Hingga kini, etnis Rohingya tidak mempunyai kartu identitas yang sah. Mereka tidak dapat membeli tanah atau rumah dan tempat tinggal mereka dapat diambil alih setiap saat.
Demikian harian De Volkskrant.














LBH Buddhis Indonesia Pusat Kecam Myanmar - http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/07/29/m7x1gv-l...
Untuk memudahkan anda sekalian mengenal asal usulnya bangsa ROHINGYA bacalah pda www.ambon.com massage no 57220 dan anda sekalian akan mengerti tentang apa itu bangsa ROHINGYA. Masuk malalui google lalu tulis ambon.com.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.