Jerman sebenarnya negeri paling cocok untuk penyelenggaraan 'Elfstedentocht'. Lomba berseluncur mengelilingi sebelas kota di provinsi Friesland, Belanda.
Saat ini, di bagian timur Jerman suhu udara memecahkan rekor dingin musim winter. Sejak Natal lalu, suhu udara selalu di bawah titik beku. Kadang, selama sepuluh hari berturut-turut, suhu udara selalu di bawah minus sepuluh derajat Celcius. Hanya beberapa kali, temperatur udara berada di atas titik beku. Dampaknya: di berbagai danau di sekeliling kota Berlin tercipta lapisan es setebal 20 hingga 30 sentimeter.
Walau pun demikian, nyaris tidak ada orang yang berseluncur di udara terbuka. Dinas Pemadam Kebakaran dan Polisi Jerman, terus menerus memperingatkan warga Jerman agar menjauhi es alami. Di Belanda, semua orang akan mengacuhkan peringatan seperti itu. Sementara di Jerman, tidak ada orang yang berani mencoba berseluncur di atas lapisan es, yang dianggap tidak aman seperti itu.
Berseluncur seperti Caillou
Hanya ada satu tempat di Jerman yang tidak mengikuti kebiasaan tersebut: yaitu di Spreewald. Suatu daerah kaya air, sepanjang sungai Spree, kira-kira 100 kilometer dari kota Berlin. Suasana desa-desa di sini mirip pedesaan Belanda, banyak sungai kecil, yang pada masa lalu berfungsi sebagai sarana perhubungan bagi petani setempat.
Sudah ratusan tahun di sini tumbuh tradisi berseluncur. Saat ini, begitu situasi memungkinkan, segera turis berdatangan untuk berseluncur. Atau jalan-jalan di atas es. Atau bermain kereta luncur tradisional. Ini tempat ideal bagi anak laki-laki saya untuk mulai belajar berseluncur. Ia kini berusia empat tahun, dan ingin berseluncur seperti Caillou. Tokoh film kartun favoritnya.
Jika pada suatu hari Sabtu saya sengaja datang ke sana untuk berseluncur di atas es alami seperti di Belanda, tempat ini pasti ramai sekali. Karena, berbeda dengan keadaan di Belanda, Jerman tidak memiliki perkumpulan penggemar olahraga es, yang memeriksa keadaan lapisan es di danau serta sungai, dan membersihkan tumpukan salju dari atas es di sekitar rumah tinggal.
Lapisan es di Spreewald sering tertutup tumpukan salju. Memang, pemandangan di Spreewald sangat indah, minuman anggurnya sangat enak, tapi, berseluncur, nyaris tidak mungkin.
Sepatu seluncur kuno
Jadi begitulah, meskipun lapisan es ada di mana-mana, saya terpaksa berseluncur di berbagai arena es buatan. Tempat seperti ini cukup banyak, namun, di sini juga ada jurang budaya. Saya masih menggunakan sepatu seluncur kuno, warisan dari kakek dulu. Ukuran sepatu ini terlalu besar, dan lapisan besinya sudah tumpul, perlu diasah.
Di Jerman, sekarang jenis sepatu seperti ini sudah tidak dikenal lagi. Dengan sepatu seluncur seperti itu, saya tidak boleh berseluncur di antara anak-anak, karena dianggap membahayakan. Dan tidak ada toko alat-alat olahraga yang bisa mengasah sepatu saya.
Kota Berlin sebenarnya punya dua stadion es. Salahsatunya terletak di Berlin Timur. Stadion megah, tapi hanya terbuka bagi atlit-atlit top. Di bagian barat kota juga ada sebuah arena di udara terbuka. Setiap orang bisa datang ke sana. Jadi, selalu ramai, sehingga, di sini kita tidak mungkin bisa berseluncur dengan tenang.
Klub seluncur
Agar, sewaktu-waktu saya bisa berseluncur menggunakan sepatu model tua, akhirnya, pekan lalu saya menemukan jalan ke luar: menjadi anggota klub seluncur! Dengan keanggotaan ini, kita berhak setiap malam berseluncur selama satu jam di stadion es.
Begitulah, kini saya bisa berseluncur dengan menggenakan celana olahraga dan jacket musim dingin, di antara sekian banyak peseluncur semi profesional Jerman, yang menggenakan pakaian dan sepatu seluncur model terbaru.
Juga ada penyelesaian atas masalah tumpulnya sepatu seluncur. Seorang paman dari Belanda menemukan sepatu seluncur kuno dari gudangnya, ia kemudian mengasahnya dan mengirimkannya ke Jerman. Paman ini pernah menggunakan sepatu tersebut dalam perlombaan 'Elfstedentocht'. Tiga kali! Orang Jerman terkagum-kagum jika mendengar kisah ini.
Dan lapisan es alami yang ada di mana-mana? Mungkin musim semi nanti, lapisan es tersebut baru akan mulai mencair lagi.






















Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.