Pulau energi hijau, itulah Sumba di Nusa Tenggara Timur. Hivos, LSM kerjasama internasional Belanda yang aktif bersama berbagai pihak di Sumba, membangun beberapa proyek pembangkit tenaga listrik ramah lingkungan. Mereka memanfaatkan tenaga angin, air, surya dan biogas dari tinja hewan.
Bagaimana proyek ini setelah hampir genap setahun? Apa kendalanya, bagaimana pengalaman Hivos dan pemerintah daerah? Heinrich Dengi, dari Radio Max FM, mitra Radio Nederland di Sumba melaporkan, sampai sekarang proyek ini sukses. Misalnya proyek pembangkit mikro hidro yang baru diresmikan bisa menghasilkan lebih dari 40 ribu watt.
Tiga bola lampu
“Sebagian penduduk Sumba tahu apa energi hijau itu, tapi untuk mayoritas yang penting ada listrik untuk lampu. Mereka senang. Dari mana asalnya kurang penting,” demikian Eco Matser, manajer Hivos yang memimpin proyek ini.
“Masyarakat sudah mulai menggunakan tenaga listrik hijau, ada ibu rumah tangga usia 70 tahun baru sekarang bisa menggunakan listrik. Setiap rumah tangga mendapat tiga bola lampu.” Demikian Heinrich Dengi.
Bimbingan
Apa latar belakang keterlibatan Hivos dalam proyek ini? Perwakilan Hivos di Sumba, Adi Lagur menyatakan selain kerjasama pembangunan dan menanggulangi kemiskinan, Hivos juga bertujuan menjawab tantangan perubahan iklim.
Dengan tenaga listrik non-fosil seperti yang diterapkan di Sumba bisa mengurangi pencemaran CO2.
Menurut Adi Lagur, proyek ini masih berjalan sesuai rencana. Masalah sosial paling berat adalah mengubah kesadaran warga Sumba bahwa yang bisa membangun daerahnya hanya mereka sendiri. Pihak luar hanya memberi bimbingan.
Hubungan bersejarah
Belanda memang punya hubungan historis dengan Sumba, demkian bupati Sumba Timur, Gidion Mbilijora. “Ada hubungan yang sangat khusus antara pemerintah Belanda dengan Sumba. Mayoritas orang Sumba adalah umat Kristen, itu hasil penyebaran Injil yang dilakukan oleh para missionaris dari Negeri Belanda dulu,” demikian bupati Sumba Timur.
Ia berharap Belanda bisa melanjutkan peran serta dalam mengembangkan kesejahteraan rumah tangga di Sumba. Sekarang mereka sedang menghadapi keterbatasan dana, oleh sebab itu bupati Gidion mengharapkan bantuan baik dari pihak swasta maupun pemerintah Belanda.
Dampak
Dampak proyek “green energy” ini sudah dirasakan penduduk Sumba. Listrik yang tersedia siang malam memungkinkan aktivitas di rumah bisa berjalan terus, misalnya menganyam. Aktivitas ekonomi sekarang tidak terbatas siang hari saja.
Dampak besar lain adalah bagi anak-anak sekolah. Dengan adanya listrik, malam hari mereka bisa belajar dan membuat pekerjaan rumah. “Jam belajarnya bertambah, karena tidak mengandalkan lampu pelita yang pakai minyak tanah. Ini positif sekali untuk masyarakat,” demikian Gidion Mbilijora, bupati Sumba Timur.
HP sangat penting bagi hubungan antar manusia, juga di pulau yang penduduknya relatif miskin, seperti Sumba. Mengisi baterai HP jadi mudah dan jumlah pengguna telepon genggam di sini akan naik, demikian Eco Matser.
Menarik juga adalah masuknya informasi lewat radio dan televisi. Masyarakat mendapat informasi lebih banyak. “Kami harap informasi yang diterima masyarakat itu benar dan baik. Itulah tantangan modern, keterbukaan informasi ada yang positif, ada yang negatif.”
Yang dituntut di sini, semua komponen terutama tokoh-tokoh agama, bisa memberi kekuatan baik di tingkat agama maupun di tingkat rumah tangga,” demikian bupati Sumba Timur, yang menambahkan memang ada perubahan dalam adat tapi belum mengancam kehidupan sosial budaya masyarakat Sumba.
Eco Matser, pemimpin proyek Hivos ini berharap listrik akan membawa masuk informasi yang bisa membuat masyarakat menjadi kritis dan menetukan sendiri lingkungan hidup mereka.
Masa depan
Walau Belanda menghadapi krisis ekonomi dan penghematan, Eco Matser optimis proyek untuk jangka waktu 10 tahun ini akan tetap berjalan. Masih sisa delapan tahun dan ia mengharapkan peran Hivos kelak akan diambilalih oleh LSM dan instansi lain.
Bank Pembangunan Asia ADB misalnya sudah menyatakan berminat berpartisipasi. “Sumba menjadi model energi hijau untuk pulau-pulau lain di Indonesia,” demikian Eco Matser.
























Trims Ranesi untuk artikel ini.
Makin maju sumbaku........
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.