Jerman kembali menjadi motor ekonomi Eropa. Ekspor otomotif dan mesin berjalan lancar dan warga Jerman giat berbelanja. Belanda ikut menikmati keberhasilan Jerman. Ini mirip kemajuan tiga puluh tahun lalu, tapi kenyataannya bisa berbeda. Konsumen Belanda tetap hati-hati.
Tahun lalu ekonomi Jerman tumbuh 3,6 persen, suatu pertumbuhan terpesat sejak reunifikasi Jerman Barat dan Timur pada 1991. Ekonomi Belanda tumbuh tidak sampai separohnya, yaitu 1, 7 persen. Kemerosotan ekonomi Belanda yang terjadi setelah krisis, sudah pulih separohnya, kata Michiel Vergeer dari Biro Pusat Statitistik CBS saat mempresentasikan laporan keuangan Belanda.
Kenapa ekonomi Jerman jauh lebih baik?
"Barang modal Jerman seperti mobil dan mesin populer di Cina. Orang Cina menyukai mobil Jerman dan mereka tertarik dengan mesin-mesin yang bertulisan "Made in Germany"," jelas Vergeer. Perbedaan lain adalah bangunan, yang di Jerman sangat maju. Tapi di Belanda pasar rumah jatuh dan pembangunan perkantoran masih sangat sedikit.
Zamannya berbeda
Ini gambaran seperti sekitar tiga puluh tahun lalu. Produk-produk Jerman seperti mobil dan mesin berat, laris di seluruh dunia. Pekerja Jerman tiap tahun menuntut naik gaji dan giat berbelanja. Pokoknya, sebuah ekonomi yang bertumpu pada ekspor dan konsumsi domestik.
Negara tetangga Belanda yang dulu sangat bergantung pada ekonomi Jerman, dulu ikut tumbuh. Tapi sekarang zamannya berbeda.
Globalisasi, persaingan dengan negara-negara berupah murah, reunifikasi Jerman yang banyak menelan beaya serta krisis ekonomi tahun 2008 mengubah perimbangan kekuatan ekonomi dunia. Toh ekspor Jerman dan konsumen ekonomi juga yang lagi-lagi mendongkrak ekonomi.
Utang biaya reunifikasi sudah lunas, industri sudah disehatkan dan direnovasi, serta pembayaran tunjangan sosial dihemat besar-besaran.
Tapi apakah Belanda diam saja? Tentu saja tidak.
Bank dan asuransi
Tapi Belanda tidak memproduksi mobil atau mesin yang bisa menaklukkan pasar Cina. Belanda sangat bergantung pada sektor jasa seperti bank dan asuransi. Dan sektor ini mengalami pukulan berat akibat krisis belakangan. Inilah salah satu penyebab kesulitan yang dialami sektor bangunan.
Namun, ekspor Belanda meningkat berkat negara-negara yang ekonominya maju pesat, tandas Vergeer.
Ekspor Belanda ke negara-negara di luar Uni Eropa meningkat. Ini tidak hanya berlaku bagi ekspor ke Amerika saja, tapi juga ke negara-negara yang ekonominya tumbuh pesat seperti Brazil, Argentina dan Korea Selatan. Ekspor ke negara-negara yang tumbuh pesat itu meningkat 60 sampai 80 persen tahun lalu.
Volume ekspor Belanda ke negara-negara yang ekonominya berkembang pesat jauh lebih kecil dibandingkan ke Amerika dan negara-negara Uni Eropa lain. Tapi kenaikan angka di atas menunjukkan bahwa Belanda juga mengangtisipasi perimbangan baru ekonomi dunia.
Jerman lebih parah
Produk-produk yang diekspor ke negara-negara berkembang pesat berbeda dengan produk-produk andalan Jerman. 'Ini berkenaan dengan komoditi ekspor seperti aparat medis, produk kimia dan pangan," tutur Vergeer. "Jangan lupa bahwa Jerman dulu lebih parah kena dampak krisis ketimbang Belanda."
Makanya angka pemulihannya juga jauh lebih tinggi. Tapi ekonomi Belanda tidak begitu susah. Ini dapat dilihat dari angka pengangguran di negeri kincir angin ini. Paling rendah di seluruh Eropa. Banyak remaja makin cepat mendapat pekerjaan. Sekarang tinggal menunggu pulihnya kepercayaan konsumen.






















Jerman etos kerja disiplin bangsa VIKING yang pola pikir dan tindakannya petualang menyerang menang dan menang.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.