Jika kita membuka kembali lembaran sejarah masa lalu, akan terlihat dengan jelas perbedaan yang signifikan. Pada zaman Orde Baru, kehidupan terasa lebih nyaman.
Tarif listrik, BBM dan sembako tidak mengalami kenaikan harga yang drastis, beras melimpah, pupuk mudah didapatkan, pengangguran tidak melonjak serta kehidupan tidak terusik dengan tindakan-tindakan anarkis, terorisme dan sebagainya yang mengancam stabilitas moral dan keamanan negara. Pada zaman ini terlihat begitu banyak masyarakat kecil yang jenuh dan putus asa dengan kondisi bangsa yang buruk. Masyarakat frustasi dengan sistem demokrasi plus politisi yang lapar jabatan dan harta. Mereka ingin agar terjadi perubahan yang lebih baik, sementara sistem pemerintahan tidak dapat memenuhi harapan itu.
Di era reformasi ini, segala hal menjadi rumit dan sempit. Disamping mengalami hati yang sempit, pikiran yang sempit, moral yang terkikis, masa depan seakan jauh dari pandangan. Inikah kualitas peradaban kita sebagai bangsa yang merdeka? Betapa sulitnya cita-cita luhur itu dipraktikan. Dalam rentang waktu 65 tahun sejak kemerdekaan itu diproklamirkan, keadilan dan kemakmuran seakan sulit untuk menampakan wajahnya di bumi Pertiwi. Kekuatan pembunuh atas nama reformasi telah merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Kekuatan yang menjadi cangkul penggali liang kubur bagi keadilan dan kemakmuran. Kekuatan yang melahirkan “orang-orang kuat” yang mahir menekan dan membohongi rakyat. Itulah kekuatan kepemimpinan politik di Indonesia yang sarat dengan kemunafikan, yang berujung untuk kepentingan diri sendiri.
Kita butuh sistem yang baru untuk kondisi bangsa saat ini. Bagi saya, kita butuh demokrasi yang sehat. Tanpa demokrasi yang sehat, percuma kita merdeka. Bukankah demokrasi tidak saja menjamin kemerdekaan bangsa, tapi juga kemerdekaan setiap warga negaranya? Namun, pilihan kita bukan saja tertuju kepada demokrasi yang sehat. Tetapi tertuju kepada demokrasi yang sehat plus keadilan, kesejahteraan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia. Kita tidak perlu berkaca kepada negara-negara berkembang lainnya. Kita harus berkaca kepada perjalanan sejarah bangsa ini, sejarah dimana kemerdekaan ini diperjuangkan. Tanpanya, “penjajahan” akan terus menggelayuti kehidupan masa kini dan masa yang akan datang.
Ada banyak hal yang perlu dilakukan untuk memenuhi cita-cita luhur dari kemerdekaan itu, yakni; penataan kembali sistem pemerintahan yang buruk akibat korupsi, kolusi dan nepotisme, money politic, otoriter, intimidatif, banyak janji tanpa realisasi dan sebagainya, yang cenderung menurunkan wibawa pemerintah di mata masyarakat. Pembangunan dan sosial budaya, pendidikan, kesehatan serta pelanggaran HAM. Semua ini merupakan masalah yang harus diselesaikan. Karena melewati semua itu, pasti ada masa depan yang lebih baik. Indonesia adalah negara kita. Negara yang sudah merdeka. Kita tidak boleh membiarkan kondisi negara ini semakin memburuk dan terus meluncur ke arah yang semakin memalukan. Bangsa ini harus kita bela dan perjuangkan seperti yang diperjuangkan oleh para pahlawan di masa lalu, walaupun dengan gaya yang berbeda. Oleh karena pada hakekatnya, kemerdekaan itu adalah milik segenap rakyat Indonesia dan bukan milik oligarki tertentu.
SELAMAT ULANG TAHUN KE-65 TANAH AIR KU TERCINTA...
JAYALAH INDONESIAKU, JAYALAH BANGSAKU!!
Judul asli: MEMBANDINGKAN ZAMAN DULU DENGAN SEKARANG, TERCAPAIKAH CITA-CITA PROKLAMASI?
Oleh : Ravensca Ginsel
| Artikel ini diikutsertakan dalam sayembara Cita-cita Proklamasi. Demi menjaga keaslian, artikel diterbitkan tanpa proses editing dari redaksi. Dalam beberapa kasus, Ranesi hanya mengubah judul untuk keperluan teknis. Isi dan format di luar tanggung jawab Ranesi. |















dulu maling besar besaran sekarang berjamaah, yang beda cuma wajah pemimpinya dan penderitanya ya anak bangsa sendiri yang belum beda ya kudeta bin revolusi walau mahal kan berobah wajah NKRI dan tidak dikenal hanya NKRI oleh anak cucu negeri yang bernama INDONESIA ........ancur
Bung Ravensca Ginsel, saya sangat tidak setuju tulisan Bung di alinea pertama, mengenai : Pada jaman orde baru, kehidupan terasa lebih nyaman; Saya tidak pernah merasakan kenyamanan hidup di jaman raja maling Indonesia suharto dkk., dulu saya sekolah naik bis dengan harga Rp. 50,- sekali jalan, tahun 1997 / 98 ( di masa akhir kekuasaan suharto ) tarifnya sekitar Rp. 1.500 an, itu berarti terjadi inflasi sekitar 3000 % selama sekitar 27 tahunan, atau di rata - rata = 100 % lebih inflasi setiap tahunnya, belum para bawahannya yg sangat korup dan gemar pungli, dimana - mana pungli merajalela, mereka semua mengajarkan cara mencari makan dengan " memalak " orang lain, setiap tahun ikut puasa dan Lebaran tapi kehidupan mereka jauh dari itu.
Terima kasih.
persis !!
Setiap masa pasti ada yang berubah dan kebanyakan orang melihat sepintas di masa Orba kehidupan perekonomian lebih baik daripada saat ini, tapi jangan lupa bahwa warisan Orba masih melekat seperti KORUPSI/KKN sehingga tidak bisa memakmurkan bangsa, entah sampai kapan? Mulai dari keluarga kecil dan di Masyarakat ditanamkan budaya anti korupsi/keserakahan, tertib/disiplin, saling melayani, saling harga menghargai karya positif, patuh pada aturan/peraturan dll yang sifatnya membangun bangsa. Harta duniawi tidak akan pernah habis-habisnya dan hidup jangan serakah, egois, sebab mati tidak akan dibawa malah akan membawa dosa. Materialistis memang diciptakan dan dipelihara bangsa bangsa maju supaya mereka terus menerus menguasai bangsa-bangsa yang lemah dan kurang percaya diri.
Hancurkan GOLKAR duluan. Matikan mereka seperti partai komunis dahulu. Sekarang mereka pula yang membuat negara ini begini karena hasil uang rampasan di Orde baru dahulu. Mereka pula yang membuat peraturan si kaya selalu memimpin walaupun karakter syaitan. Mereka tidak ingin merubah UU yang akan menjerat mereka. Tapi terakhir adalah RI.1 penentu semuanya. Uang 25 juta dollar yang diterima dari USA untuk memberantas teroris juga sudah dibagi-bagi sesamanya. Jika 10% untuk Ibuk Tin soeharto dahulunya, berapa pula untuk RI.1 sekarang. Waahhhh teriunnan masuk kantong. Tetapi semua system bangsa ini harus dirusak pula. Akhirnya memang bangsa ini yang lebih kejam dari orang Malaysia, Singapura serta kulit putih sendiri karena mereka bersedia melakukan pembunuhan didalam rumah sendiri. Itu berlaku sama dengan masa penjajahan belanda dahulu sehingga terjadi pembunuhan kedalam dan belanda mendapakan hasilnya. Apa isi otak MegaWati & RI.1 sekarang perlu kita pertanyakan. Mengumpulkan kekayaan dari darah bangsa sendiri.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.