Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Kamis 20 Juni  
Avatar Myrtille van Bommel
Map
Kabul, Afghanistan
Kabul, Afghanistan

Donor Tak Baik untuk Afghanistan

Diterbitkan : 10 April 2012 - 12:57pm | Oleh Myrtille van Bommel (Foto: Mary Munnik)
Diarsip dalam:

Tahun 2005, fotografer Mary Munik tinggal beberapa bulan di Afghanistan dengan maksud membangun kembali Afghanistan setelah invasi Amerika. Akhirnya dia tinggal selama tujuh tahun.

Maksud pertama ingin merekam kejadian dengan fotonya, akhirnya ia malah berubah profesi mendirikan biro konsultasi. Dengan meningkatnya sinisme terhadap orang asing dan korupsi, ia merasa misinya itu sia-sia belaka.

Harapan Mary Munik runtuh ketika militer Amerika membakar al-Quran bulan Februari lalu yang mengakibatkan sinisme terhadap orang asing meningkat.

"Keamanan diri tak pernah menjadi prioritas saya, Setelah serangan saya berpikir: saya akan tetap bekerja. Namun sekarang saya tak ingin dibenani dengan pikiran meningkatnya rasa anti orang asing disini. Ini tidak saja untuk saya tapi juga untuk karyawan saya. Apa artinya buat mereka jika mereka diasosiasikan sebagai orang asing?"

Ada lima warga Afghanistan yang bekerja di biro konsultasinya. Mereka mencoba mempertahankan perusahaan itu, juga jika Mary tidak ada disitu. Mary berharap hal itu akan berhasil, kendati ia tidak seratus persen percaya.

Ketika pertama kali datang ke Afghanistan, ia optimis dan punya harapan: Ini semua pasti akan terlaksana jika kami bekerja keras. Sekarang tidak lagi. Mary berubah pesimis dan itu juga yang terjadi di kalangan warga Afghanistan. Seluruh upaya mereka tak membuahkan hasil yang diharapkan.

Plin-plan
Mary Munik mempertanyakan jutaan dana asing yang diberikan untuk membantu ekonomi Afghanistan. "Seluruh perusahaan ditentukan oleh dana luar negeri. Mereka memberikan pinjaman atau subisdi dan menentukan siapa yang dapat dengan alasannya. Namun hanya sedikit koordinasi di antara para pendonor itu sendiri dan mereka kebanyakan plin-plan. Di tahun ini misalnya mereka ingin berinvestasi meningkatkan ekspor pertanian. Sementara tahun yang lain mereka mengatakan dana itu khusus untuk keperluan pertanian. Perusahaan pengekspor bisa berdiri sendiri, mereka tak memerlukan bantuan lagi. "

Pengusaha wanita ini berpendapat bahwa kebijakan itu tidak menyumbang pembangunan dan kesehatan ekonomi. Menurutnya, pendonor tidak harus tetap mengalirkan dana sampai sebuah perusahaan dapat berdiri sendiri.

Hal itu akan mengakibatkan Afghanistan bergantung. Mereka bergantung pada subsidi dari Barat yang mengalirkan dana jutaan euro.

Perusahaannya juga harus bergantung pada donor asing. Banyak pengusaha Afghanistan mau menggunakan pelayanan konsultasinya jika menghasilkan uang. "Saya rasa lebih baik kalau jasa pelayanan itu dibayar. Jika mereka terbiasa maka mereka akan menghargai dan terus bekerja lebih keras."

Dengan bantuan keuangan menurutnya tujuan tak akan tercapai. Mereka terbiasa dengan korupsi, seperti layaknya noda minyak yang terus melebar di seluruh lapisan masyarakat. Banyak orang Afghanistan yang mengatakan kepada Munik:"Ada banyak uang yang dapat dipungut, mengapa kita tidak memanfaatkanya?

Orang kaya elit
Perasaan egoisme orang Afghanistan terus menganggunya. Ia melihat terutama di kalangan orang kaya elit yang menggelapkan dana mereka ke luar negeri.

"Saya tahu ada beberapa orang yang memilih untuk melakukan investasi jangka panjang dengan mudah. Mereka sangat oportunis. Mereka memilih untuk mengeruk keuntungan cepat dengan membangun apartemen dan menjualnya dengan cepat. Saya mencari orang yang bersedia melakukan investasi untuk masa depan Afghanistan. Namun itu tidak ada dan saya akhirnya berfikir: apakah upaya saya selama ini gagal?"

Pada 2014, pasukan internasional mundur dari Afghanistan dan akibatnya dana asing akan hilang. Afghanistan akan merasa dirinya dirugikan. Selama ini warga Afghanistan hanya sibuk dengan diri sendiri, keluarga atau klan mereka.

Mereka tidak sadar untuk masa depan negara mereka. Mereka lebih baik saling bertengkar.

Menurut Mary Munik Afghanistan harus berunding untuk mencari penyelesaian konflik tanpa campur tangan asing.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Ranesi Pamit di Indonesia
Dalam rangka acara perpisahan RNW Indonesia 14 Juni di Erasmus Huis,...
Lampu Lalulintas Terlalu Cepat bagi Lansia
Makin banyaknya jumlah kelompok lansia ada dampaknya bagi masyarakat...