Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Irina Bokova ©UNESCO/Michel Ravassard
Avatar Frank Renout
Map
Paris, Prancis
Paris, Prancis

Direktur Baru Unesco Larang Burka

Diterbitkan : 15 Oktober 2009 - 10:06am | Oleh Frank Renout
Diarsip dalam:

Kamis ini Unesco memiliki direktur baru, itulah Irina Bokova asal Bulgaria.

Dengan pengangkatan ini, maka Organisasi PBB urusan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Budaya untuk pertama kalinya dipimpin oleh seorang perempuan yang berasal dari Eropa Timur. Bokova ingin berdialog, tapi berbicara secara blak-blakan. 

Irina Bokova berambisi tinggi. Ia ingin meningkatkan dialog antara kaum Muslim, Yahudi dan Kristen di dunia. Dia ingin meningkatkan rasa saling menghormati dan mendukung toleransi. Tetapi dalam sebuah wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep Bokova menunjukkan sikap yang melawan burka– busana wanita tradisional yang menutupi hampir seluruh tubuh dan dipakai di a.l. Afghanistan.

“Saya anti burka, kata Irina Bokova. Beberapa perempuan yang mengenakan burka kesulitan melihat cahaya. Burka membuat perempuan merasa minder, menyebabkan masalah dan membuat mereka merasa tidak setara dengan kaum laki-laki.”

Percaya diri
Direktur baru Unesco ini tampak keras. Baginya burka sangat negatif.  Apalagi setelah busana yang menutupi hampir seluruh tubuh wanita itu semakin banyak disinyalir di kota-kota Eropa Barat. Menurut Bokova perempuan yang mengenakan burka harus dibuat lebih percaya diri.

“Unesco harus menyediakan pendidikan, pendidikan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Hanya dengan cara itu kami secara bertahap akan bisa mengubah mentalitas dan perilaku perempuan-perempuan itu. Kami jangan berkata: saya anti burka. Kami harus mengubah masyarakat, mendididik kaum perempuan dan menempatkan mereka di posisi puncak. Dan dengan demikian kami juga dapat mengubah mereka.”

Ucapan yang sangat mencolok karena sejauh ini Unesco selalu mendukung rasa saling mengerti dan toleransi. Tapi Bokova menilai kehadiran burka, terutama di Eropa Barat, sebagai benturan budaya. Dan itu harus dipecahkan, yang menurutnya berarti: melarang burka.

Irina Bokova mengalahkan Farouk Hosni dalam persaingan meraih kursi ketua Unesco. Sejak lama Hosni dianggap favorit menjadi direktur Unesco, tetapi akhirnya batal, kemungkinan karena ucapan-ucapan yang antisemit dan kontroversial.

Komunis
Bokova, 57 tahun, menjadi utusan Bulgaria di Unesco sejak 2005. Ia dibesarkan di kalangan elite Bulgaria yang represif dan komunis. Ayahnya bekas pemred harian negara. Irina mengenyam pendidikan di Moskou, lalu bekerja sebagai diplomat atas nama rezim komunis.

Kini, selaku direktur Unesco, ia harus membela kebebasan berbicara dan kebebasan pers. Itu sangat bisa, katanya. Dulu dia memang merupakan bagian dari rezim yang menindas, tapi 20 tahun terakhir dia menunjukkan sifat seorang demokrat.

“Saya menjauhkan diri dari rezim itu. 20 tahun terakhir, setelah jatuhnya tembok Berlin, saya terjun  di dunia politik dan mendukung masuknya Bulgaria di NATO dan Uni Eropa. Saya banyak melobi untuk itu.” Demikian Bokova.

Organisasi birokratis
Tantangan baru menantinya selama empat tahun ke depan. Memberikan dorongan bagi Unesco, yang hampir beranggotakan 200 negara dan memiliki anggaran tahunan lebih dari 300 juta dollar.

Tapi jumlah negara anggota dan jutaan dollar juga merupakan beban: Unesco kerapkali dituduh sebagai organisasi yang birokratis yang menghambur-hamburkan uang. 

Salah satu tugas yang akan saya lakukan adalah menangani birokrasi, kata Bokova. Untuk itu akan dibentuk tim khusus yang mengatasi birokrasi dalam beberapa bulan.

Unesco harus lebih fleksibel. Kini tidak ada koordinasi antarseksi. Itu harus diperbaiki. Bokova mengumumkan akan melakukan penghematan 10 persen tahun-tahun mendatang terhadap pegawai Unesco di kantor. Dananya akan digunakan untuk proyek-proyek dan rencana konkrit dan disalurkan ke negara-negara dan orang-orang yang membutuhkannya. 

 

Burka atau penutup muka lainnya seperti niqab juga kontroversial di dunia Islam. Syeik Mesir Mohammed Tantawi, kepala universitas berbobot al Azhar, belum lama ini menghebohkan dunia Islam karena secara terbuka mencela penutup muka. Ketika mengunjungi sebuah sekolah ia menghampiri seorang siswa yang mengenakan niqab, memerintahkan melepaskannya sambil berkata: "Niqab itu tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Saya tahu lebih banyak tentang Islam daripada kamu dan orangtuamu!"

 

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET