Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Kebebasan Berbicara
Avatar John Tyler
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Dilema Azas Kebebasan Berbicara di Belanda

Diterbitkan : 20 Agustus 2011 - 11:46am | Oleh John Tyler (Foto Jean Gouders - Cartoon Movement)
Diarsip dalam:

"Tofik membuka lahan persemaian baru bagi tindak kekerasan terhadap Geert Wilders. Musnahkan hama Maroko tersebut!"

Demikian bunyi tweet dari seorang aktivis anonim, dengan menggunakan nama samaran "Stop Left" atau Hentikan Kiri. Makian tersebut merupakan tanggapan atas seruan Tofik Dibi, anggota parlemen dari partai Kiri Hijau (GroenLinks), untuk menggelar debat di parlemen mengenai dampak serangan teror di Norwegia bulan lalu.

Pelaku serangan teror, Anders Behring Breivik, menyatakan bahwa politikus Belanda Geert Wilders, adalah salah seorang tokoh yang menjadi sumber inspirasi baginya. Tofik Dibi membuat laporan pengaduan, Stop Left telah mengajak orang melakukan tindak kekerasan terhadap dirinya.

Batasan
Ancaman melalui jejaring sosial Twitter seperti itu menggambarkan betapa panasnya suasana debat mengenai hak kebebasan berbicara, menyusul serangan teror di Norwegia tersebut. Kebebasan mengajukan pendapat dianggap sebagai salah satu pilar penting demokrasi modern.

Namun, sebagaimana yang terjadi di Norwegia, di Belanda pun orang mulai mempertanyakan keseimbangan antara kekhawatiran atas pernyataan yang bisa mendorong tindak kekerasan dan hak untuk mengemukakan pendapat, termasuk dalam hal-hal yang sangat kontroversial.

Amandemen Konstitusi
Sebenarnya, debat mengenai batas-batas kebebasan berpendapat juga sudah memanas sebelum terjadinya serangan teror di Norwegia. Juni lalu, pengadilan telah membebaskan Geert Wilders dari tuduhan menyebarkan kebencian.

Vonis tersebut mengubah landskap hukum Belanda. Dan membuat, tuntutan hukum dengan tuduhan menyebarkan kebencian, atas dasar perundang-undangan sekarang ini semakin sulit.

Selain itu, Geert Wilders, sebagai pemimpin Partai Untuk Kebebasan, PVV, dan pendukung kabinet minoritas sekarang ini, bahkan ingin menghapus undang-undang yang melarang menyebar kebencian tersebut. Saat ini ia sedang mempersiapkan usul amandemen konstitusi, sebagaimana the US Free Speech First Amendment, yang menjamin hak kekebasan mengemukakan pendapat.

"Istana Kebencian"
Menyusul serangan teror di Norwegia, Geert Wilders tidak berusaha memperlunak ucapan-ucapannya. Ia memang mengecam serangan tersebut dan menilainya sebagai tamparan bagi gerakan anti islam. Namun, setelah itu, ia kembali mengulang-ulang pernyataan untuk memerangi islamifikasi.

"Kita sudah terlalu banyak menampung imigran dari negeri-negeri muslim. Sekarang ini, di negeri kita sudah terlalu banyak dibangun istana kebencian. Dan kalau tidak salah, pemimpin Partai Buruh, Job Cohen, menamakan bangunan tersebut mesjid. Dalam berbagai statistik pelaku kejahatan, persentase kaum imigran sangat tinggi. Itu semua, sudah lebih dari cukup."

Geert Wilders memang tidak membuat seruan untuk melakukan tindak kekerasan. Namun, banyak orang mempertanyakan, sejauh mana perannya dalam pembentukan iklim yang mendorong terjadinya tindak kekerasan terhadap kaum muslimin atau imigran.

Karena, selama musim panas ini terjadi dua hantaman telak. Pertama, vonis pengadilan membebaskan Geert Wilders dari segala tuduhan. Walaupun majelis hakim menilai Geert Wilders menggunakan kata-kata sangat kasar dan penuh penghinaan.

Selanjutnya, empat pekan kemudian, Anders Behring Breivik membantai 77 orang di Norwegia. Dalam manifesto yang ia tulis, Anders Breivik memuji-muji Belanda dan merujuk beberapa kali pada Geert Wilders. Dengan demikian, banyak orang mulai berpikir, mungkin kini tiba saatnya untuk meninjau ulang ketentuan mengenai kebebasan mengemukakan pendapat.

Ancaman Pembunuhan
Namun, kekhawatiran akan munculnya tindak kekerasan, tidak hanya datang dari satu sisi. Geert Wilders harus mendapat pengawalan ketat selama 24 jam. Tindakan pengamanan ini diambil menyusul peristiwa pembunuhan atas seorang tokoh lain, yang juga mengangkat topik kebebasan mengemukakan pendapat.

Yaitu, pembunuhan cineas Theo van Gogh pada tahun 2004. Mendiang merupakan salah seorang tokoh publik anti islam yang paling lantang berbicara. Ia dibunuh oleh seorang remaja muslim, yang mengaku melakukan hal tersebut demi agama. Dan pembunuhan Theo van Gogh oleh banyak kalangan dianggap sebagai serangan terhadap azas kebebasan berbicara.

Dan sejak saat itu, Geert Wilders dan mantan anggota parlemen Belanda, Ayaan Hirsi Ali, juga seorang tokoh anti islam, tetap menyuarakan pendapat anti islam mereka. Mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.

Azas Utama
Sejak kasus pembunuhan Theo van Gogh, Geert Wilders bersama para pengikutnya terus menerus berusaha memperluas batasan hak kebebasan berbicara. Hal itu antara lain berdampak pada pandangan publik Belanda, yang mulai menganggap kebebasan berbicara sebagai hak azasi paling utama.

Dengan demikian mengorbankan azas kebebasan beragama dan hak kaum minoritas. Dua azas penting lain, yang selama ini juga dinilai sebagai pilar penting bagi tradisi toleran masyarakat Belanda.

Beberapa pekan lagi, kalender kegiatan parlemen tahun mendatang sudah akan mulai digelar kembali. Geert Wilders akan berusaha memperluas batasan hak kebebasan berbicara. Sementara Tofik Dibi dan banyak orang lainnya justru mempersoalkan kebebasan berbicara yang tampaknya sudah tanpa kendali.

Dengan latar belakang peristiwa di Norwegia yang menggantung di udara sebagai awan hitam, debat mengenai hak kebebasan berbicara, tampaknya malah akan menjadi sumber pemecah belah.

Diskusi

Anonymus 3 September 2011 - 8:33am

Bineka tunggal ika itu hanya untuk keluarga Soeharto dan jenderalnya saja, tapi buat kita kita ini, ikat pinggang sampai mati tau ngga? Arti sesungguhnya dari bineka tunggal ika ialah mendesak, menindih dan menyerang sampai tak berdaya. Lihat contaoh yang dibuat oleh SBY dan Senayan menyangkut Papua barat. Hampir semua orang dijadikan mata mata TNI dan POLRI disana. SBY dan Senayan bermaksud agar Papua itu tetap berada dalam genggaman Indonesia, ini namanya orang gila dan kriminal international. SBY itu president gila tau ngga? Tidak hanya gila, tapi kriminail juga. Papua Barat itu bukannya bahagian dari Indonesia. Siapa yang bilang bahwa Papua itu bahagian dari Indonesia? Itu orang gila, perampok, serakah, kriminil dan penjahat perang. SBY president penjahat perang bila menguasai Papua Barat.

Anonymous 23 Agustus 2011 - 6:25pm / indonesia

kalau mayoritas kulit kuning di Belanda berkuasa banyak yang bikin kongsi biar cepat kaya

Neutral 23 Agustus 2011 - 6:28am / Indonesia

Orang - orang di Eropa kan berpendidikan tinggi, mestinya dapat berpikir secara luas dan memahami perbedaan. Bhineka Tunggal Ika.

Danny Lim 23 Agustus 2011 - 4:35pm / Nederland

Betul, Belanda/Eropa berpendidikan tinggi dan meski tidak gembar-gembor, sepenuhnya melaksanakan yang di Indonesia disebut Bhinneka Tunggal Ika. Namun problem dengan imigran hitam bukanlah Bhinneka Tunggal Ika, tapi mereka MENGGANGGU pribumi Belanda dan juga imigran yang lain. Kriminalitas, begitu. Memang, imigran hitam ada yang baik, demikian juga asli Belanda/imigran kuning ada yang kriminil, namun persentasenya terbalik. Asli Belanda/imigran kuning sedikit yang kriminil, sebaliknya imigran hitam sedikit yang baik. Mengenai pendidikan, Belanda (dan saya kira juga di Eropa) menyediakan fasilitas pendidikan gratis sampai universitas, termasuk bagi semua imigran (kuning, hitam, coklat), juga bagi yang bukan warganegara Belanda. Asal orang tuanya memiliki izin tinggal legal, anak-anak boleh sekolah gratis. Nah .... imigran kuning memanfaatkan maksimal fasilitas pendidikan yang disediakan gratis, resultatnya mengagumkan. Generasi ke-3 imigran kuning kini bahkan berprestasi lebih bagus dari bule Belanda sendiri. Namun tidak demikian dengan imigran hitam, di saat rekan-rekan sebayanya ke sekolah, mereka membolos. Di saat rekan-rekan sebayanya membuat pekerjaan rumah, mereka berkelahi di jalan, mengganggu gadis-gadis Belanda yang berpakaian sedikit terbuka (makiannya 'kanker pelacur), memukuli kaum homo dsb. Maka di saat rekan-rekan sebayanya meninggalkan sekolah mengantongi diploma, generasi muda imigran hitam itu tak punya diploma. Akibatnya sukar berkonkurensi dengan sebayanya yang punya diploma. Kalau sudah begini imigran hitam itu menuduh tuan rumah Belanda/Eropa mendiskriminasi mereka. Maka terjadi sedikit saja pemicu, dibakarlah seluruh kota, toko-toko dijarah, mobil-mobil dibakar, seperti di Paris dan London. Apakah ini yang dinamakan Bhinneka Tunggal Ika??? Tentu tidak. Karenanya Belanda/Eropa kini berkata, siapa bisa menerima norma-norma dan nilai-nilai Belanda 100% welcome, yang tidak mau ya silahkan kembali ke negara asal masing-masing. Melihat bahasa yang anda pakai di atas rapi sekali, saya yakin anda berpendidikan cukup tinggi, maka pasti dapat memahami penjelasan saya ini, terima kasih.

Mohamad Tua..... 21 Agustus 2011 - 10:21am / Indonesia

Apa salahnya yang kalian dapatkan sehubungan dengan Wilders? Dimana letak kesalahannya untuk dijadikan sebagai alat pemangsa manusia? Keterangan diatas ini, benar benar adalah provokatief yang sangat tidak pancasilais. Kenapa kita semudah itu menuduh orang yang tidak bersalah sehubungan dengan gagasan dibenak hati kita? Apakah itu ajaran agamamu? Apakah itu hidup yang berpendidikan? Orang Indonesia, banyak sekali yang hidupnya sangat hipokrif. Dibilang Muhadia salah semuanya mengaku seperti kambing mengembik meeee. Untung Mr. Wilders tidak tinggal di Indonesia, kalau tidak dia sudan mati dibunuh. Sementara para penjahat kaliber seperti ustat Jafar Umar Talib, Basir, dan para jenderal TNI dan POLRI semuanya bebas dari tuduhan. Orang Indonesia itu, semuanya hipokrif.

Dany lim 21 Agustus 2011 - 11:31am

Kamu sedang ngomong atau kentut ..hahahha ahahah ahha kasian orang sakit ngomongnya ngawur. Dari gaya TULISANMU Saya akui kamu otaknya hebat, pintar dan cerdas sampai sampai Brevick ragu dan tidak yakin menembak mati dikepalamu, karena otakmu tdk ada dikepala melainkan di Kaki. Hahhahaha jangan marah loch.. Kebebesan bicara, Tegakan kebebasan bicara. Kasian deh Loch.

Danny Lim 22 Agustus 2011 - 1:20pm / Nederland

Setelah beberapa hari tak sempat melongok situs Ranesi, hari ini saya kembali menemukan orang yang tetap 'rajin' memakai nama yang mirip nama saya, ck ck ck ..... Kebebasan berbicara adalah bagian dari kebebasan berpendapat. Mengemukakan pendapat bisa dengan demo diam, atau mengibarkan bendera/spanduk/, atau menulis karikatur, atau dengan menayangkan film dll. Di Belanda/Eropa, dilema kebebasan berpendapat menjadi rumit sebab banyaknya imigran yang membawa kultur asal yang bertentangan dengan norma-norma dan nilai-nilai Belanda. Melukai/membunuh orang yang berbeda pendapat adalah tindakan yang dilarang keras di Belanda, karenanya Geert Wilders dan 1,5 juta pendukungnya meski anti Islam, tak pernah mencabut selembar rambut muslim minoritas di Belanda. Juga membakar/menjarah kota seperti di Paris dan London dilakukan oleh imigran yang berlainan kultur itu. Sebaliknya bila imigran itu orang China atau Vietnam, Belanda sama sekali tidak punya problem/dilema. Belum lama ini Ranesi menayangkan artikel tentang prestasi imigran China yang bahkan lebih hebat dari pribumi Belanda sendiri. Sayangnya, imigran China/Vietnam bukan mayoritas di Belanda, yang mayoritas justru imigran Afrika/Timur Tengah yang gemar memakai kekerasan demi Allah-nya. Inilah dilema yang dihadapi Belanda sebenarnya, bukan persoalan kebebasan berpendapat itu sendiri. Seandainya mayoritas imigran di Belanda bermata sipit, pasti tidak ada problem dengan kebebasan berpendapat. Geert Wilders pun tidak akan memberi predikat 'istana kebencian' kepada kelenteng China, sebab kelenteng China tidak dipakai untuk menyebar kebencian, melainkan untuk minta berkah dari Atas agar keluarga bisa hidup tawakal dan sejahtera. Sekali lagi, sayang bahwa mayoritas imigran di Belanda bukan orang berkulit kuning.

Mohamad Tua..... 21 Agustus 2011 - 10:56pm

Anda adalah salah satunya dari hipokrif itu. Menggunakan nama orang lain dengan gaya bahasa dan pengetahuan ala istiqlal Jakarta itulah ciri khasmu. Makanya, jangan terlalu bergaul dengan turunan Arab Saudi, lama lama kepalamu nanti dipancung dan masuk nara sabilula.

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET