Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar KBR 68H
Map
Jakarta, Indonesia
Jakarta, Indonesia

Digembok di Panti Ahmadiyah

Diterbitkan : 13 Januari 2011 - 2:42pm | Oleh KBR 68H (Foto:KBR68H)
Diarsip dalam:

Sebulan lebih panti asuhan milik Ahmadiyah di Tasikmalaya, Jawa Barat, digembok. Belum ada tanda-tanda gembok akan segera dibuka.

Loncat Tembok
Panti ini digembok polisi dengan alasan 'menjaga ketertiban'. Berbatas tembok dan pagar yang dikunci, 10 anak Ahmadiyah masih tinggal di dalam panti. Reporter KBR68H Johana Purba meloncati tembok panti asuhan untuk bertemu kesepuluh anak itu.

Panti Khasanah Al Kautsar, panti milik Ahmadiyah digembok pihak kepolisian sejak 8 Desember lalu. Gembok tersebut mengunci dua pintu utama, sehingga anak-anak panti maupun pengurus harus melewati pintu samping. Panti ini berada di depan jalan utama Desa Cicaling, sehingga orang dengan mudah dapat mengakses tempat ini. Di dalam panti asuhan ini masih ada 10 anak Jamaah Ahmadiyah. Mereka tak hanya berasal dari Tasikmalaya, tapi juga berbagai daerah. Termasuk anak-anak yang terusir dari Lombok, NTB, karena Ahmadiyah.

Siang itu, di penghujung 2010. Anak-anak tampak sedang bercengkrama dengan pembimbing mereka, Shihab, di kamar nomor 2, dalam panti asuhan. Mereka bercerita soal penggembokan panti 8 Desember lalu. Seperti diceritakan Soleh, anak panti asal Mayang Cinde, Jawa Barat.

FPI
Penggembokan ini dipicu ulah Front Pembela Islam (FPI). Dalam pawai Tahun Baru Islam awal Desember lalu, FPI mengancam akan melakukan penyerangan ke panti. Alasannya, itu panti milik Ahmadiyah. Polisi lantas menggembok panti dengan dalih menghindari keributan. Anak-anak panti hanya mendengarkan kekacauan di luar sana, tanpa perlawanan. Amar Rahmad ada di dalam panti saat itu.

Menjadi seorang Ahmadiyah di Indonesia butuh mental baja. Cap sesat membuat mereka dimusuhi, dirusak rumahnya, diusir dari kampung halaman, dianiaya bahkan terancam jiwanya. Kini, mereka digembok dalam panti asuhan. Akibatnya, mereka tak bisa sekolah. Amar yang duduk dikelas 2 SMA Pancasila ketinggalan ujian.

AMAR: Enggak ujian dua hari, jadi ulangan susulan lima pelajaran. Enggak senang, enggak bareng teman. Sendirian, hening. Ya sehari hari, rasanya agak beda, biasanya kan luas, kemana-mana tinggal buka pintu. Enggak repot kayak sekarang, harus jalan alternatif.

Karenanya anak-anak ini lantas melatih ketangkasan baru: melompat pagar untuk keluar masuk panti. Butuh keterampilan supaya tidak terperosok ke jurang, kata Faisal, asal Manis Lor, Kuningan. Maklum saja, lokasi panti bersebelahan dengan jurang yang terhubung ke sungai.

FAISAL: Sebelum mah digembok bisa main keluar, sekolah enak nyaman. Sekarang udah digembok mah susah. Kalau mau keluar aja pakai panjat pagar. Terus bawahnya ada jurang, takut jatuh saja.

Reporter KBR68H Johana Purba ikut melompat pagar, untuk bisa masuk ke dalam panti asuhan. Ada alternatif lain lewat jalan lain yang lebih landai, tapi di sebelahnya langsung jurang. Jadi harus hati-hati sekali. Terbayang anak-anak ini harus melewati pagar ini untuk beraktivitas sehari-hari.

Amar mengaku banyak dapat dukungan dari teman sekolah di Madrasah dan masyarakat sekitar, yang justru bukan penganut Ahmadiyah.

AMAR: Malah kalau digembok pada nanyain. Tidak setuju sama FPI. Itu orangnya sirik. Orang nuduh ke jemaat yang enggak-enggak. Orang orang yang mendengarkan dari ustad-ustad yang tidak tahu tentang jemaat.

Meyakini akidah yang dianggap berbeda membuat mereka harus jadi korban berbagai teror. Agus Rony, anak asuh asal Lombok ini sudah 10 tahun tinggal di Panti Asuhan Al Kautsar. Ketika masih tinggal di Lombok Barat, keluarganya diusir. Ia lantas pindah ke Tasikmalaya , dikirim orang tuanya untuk bersekolah.

AGUS: Sudah terbiasa, jadi nganggapnya cuman, biasa. Jadi tidak terlalu menegangkan atau takut biasa. Cuek aja. Biarin aja. Karena sudah pengalaman dulu, waktu di Lombok. Waktu dibakar rumah itu, satu desa dibakar, jadi pas kesini sudah terbiasa, jadi tidak takut.

Hampir separuh anak-anak asuh memiliki latar belakang kekerasan karena keyakinan mereka. Agus Rony dan Rohman berasal dari Lombok, merasakan keluarga mereka diusir dari rumah sendiri sepuluh tahun lalu. Amar merasakan panasnya api membakar kampungnya di Sadasari, Majalengka sekitar setahun lalu, Sementara Faisal harus mendapatkan kabar dari jauh, ketika kampung halamannya Manis Lor di Kuningan, dibakar massa, 6 bulan silam.

FAISAL: Ngeri orang tua kena di sana. Takutnya ada apa apa. Barangkali orang tua diapa-apain. Saya enggak tahu. Alhamdulilah sehat. Sekarang sudah di rumah.

Sebulan sudah anak-anak Ahmadiyah ini digembok di dalam panti asuhan Al Kautsar. Dikunci karena keyakinan mereka. Upaya membuka gembok sebenarnya sudah dimulai sebelum kalender berganti 2011. Pengurus panti dan LSM pemerhati anak, SOS, menggagas pertemuan damai dengan pemerintah kabupaten, kepolisian dan kejaksaan negeri. Hasilnya nihil. Direktur Pelayanan Sosial Anak Harry Hikmat mengatakan, pilihannya mulai dari merelokasi anak ke panti lain atau mengembalikan mereka ke orangtua. Yang jelas, izin panti bakal dicek lagi.

HARRY: Artinya gembok harus dibuka, dengan catatan kembalikan ke fungsi panti yang sesungguhnya. Kalau digunakan untuk ibadah dan sebagainya, itu yang menjadi pertimbangan Baperkapam untuk kemudian dihentikan, untuk mengurangi resistensi perilaku anarki. Tetapi fungsi panti harus dikembalikan dulu, jika izin panti sah.

Apa dampak penggembokan itu bagi anak-anak? Profesor psikologi anak Sawitri Sadarjoen dari Universitas Padjadjaran Bandung.

SAWITRI: Mereka akan menjadi orang yang takut, tidak percaya diri, cemas, dan tidak tahu apa yang akan mereka lakukan melihat kegarangan dari orang orang dewasa yang ada disekitarnya. apalagi orang yang ada disekitarnya berulang kali mengecek kekuatan gembok dihadapan anak anak. Kita bisa bayangkan bagaimana ketakutan mereka, bagaimana sedihnya mereka.

Pemuka agama dari Jawa Barat Maman Imanulhaq menuding penggembokan ini sebagai bentuk perbuatan yang melanggar perintah agama maupun hukum. Lagipula, kata pemilik pesantren Al Mizan ini, permusuhan dan kekerasan terhadap warga Ahmadiyah sudah keterlaluan. Apalagi sampai melibatkan anak-anak.

MAMAN: Tidak ada alasan apapun, sekalipun atas nama Tuhan atas nama agama, untuk melakukan kekerasan, apalagi penggembokan, pembunuhan masa depan terhadap anak. Saya ingin bacakan surat Al Imron 31, Allah yang memberi rizki dan membimbing kepada anak. Dan kalimat terakhir sangat tajam, pembunuhan anak dengan cara apapun, termasuk penggembokan panti asuhan di Kawalu adalah kesalahan dan kekejaman yang besar.

Konstitusi menegaskan perlindungan anak dalam berbagai undang undang. Diantaranya Undang-undang tentang Konvensi Hak Sipil dan Politik, serta Undang-undang Perlindungan Anak. Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengecam keras semua tindak kekerasan terhadap anak. Sebab hukum sudah menjamin kebebasan mereka untuk beribadah.

SETO: Manusia dewasa saja memiliki hak asasi, apalagi anak-anak. Nah seolah anak-anak komunitas kelas bawah yang tidak memiliki hak asasi sama sekali. Kalau sekarang ada berita penggembokan, ini adalah satu kasus dari sekian banyak kasus. Seharusnya pemerintah bersikap lebih tegas. Apalagi tadi disampaikan sudah ada kementerian perlindungan korban dan perlindungan anak. Dimohon pemerintah tanggap.

Pengurus Ahmadiyah Shibab menekankan, prinsip dan akidah adalah masalah pribadi. Urusannya langsung dengan Tuhan.

SHIHAB: Akan kami buka kalau salah satunya hengkang, kemudian berbaur, dalam arti kata ibadah dan akidah. Itu tidak bisa ya. Itu prinsip masing-masing. Itu opsi yang mereka berikan. Maka kami bersikeras tidak bisa mengikuti. Karena keyakinan beda-beda. Anak anak juga memiliki keyakinan, dan itu tidak bisa dipaksakan.

Faisal dan sembilan temannya berusaha menjalani hidup sewajar mungkin. Mereka kompak dan saling memberi dukungan untuk tabah menghadapi semua ini. Satu tujuan mereka, menjadi warga negara dan warga Ahmadiyah yang baik. Ia memastikan, tak bakal meninggalkan akidah yang ia yakini, meski harus hidup dihadang kekerasan terus menerus.

FAISAL: Saya mah percaya diri saja sama aliran. Saya pegang teguh, tidak akan ke mana-mana.

Dengarkan laporan lengkap di sini:

  • © Foto:KBR68H
  • © Foto:KBR68H
Unduh

Diskusi

Akang 7 Februari 2011 - 4:12am / Indonesia

Semoga Allah, melidungi mereka yang ternaniaya dengan tangan-Nya yang ajaib serta menyelamatkan mereka, dan semoga Allah menghancurkan dan meleburkan penganiaya sehancur-hancurnya dan selebur-leburnyanya. Amiin.

wonglondo 14 Januari 2011 - 11:36pm / Londo

Lha sampeyan ini gimana sih. Kok Ahmadiyah ditindas. Mau Ahmadiyah kek, Muhammadiyah kek, BM Diyah kek. Terserah dong. Pis pis

Anonymous 14 Januari 2011 - 10:52am

kasihan...padahal mereka juga adalah manusia yang punya hak pribadi untuk menentukan agama apa yang ingin mereka anut.....

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET