Radio Netherlands Worldwide

SSO Login

More login possibilities:

Tutup
  • Facebook
  • Flickr
  • Twitter
  • Google
  • LinkedIn
Depan
Jumat 25 Mei RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET
Avatar Bari Muchtar
Map
Hilversum, Belanda
Hilversum, Belanda

Dari Anak Durhaka Menjadi Dosen di Solo

Diterbitkan : 20 Mei 2011 - 2:22pm | Oleh Bari Muchtar (flickr)
Diarsip dalam:

Lahir di Jerman, pindah ke Australia dan menjadi warga negara negeri Kangguru, dan sekarang tinggal di Indonesia. Itulah kisah Hans Peter Beuten Muller  seorang petualang asal Jerman.

Hans meninggalkan Jerman ketika berusia 17 tahun. Tanpa menyelesaikan sekolah lanjutan ia bertolak ke Negeri Kangguru. "Waktu di Jerman saya anak nakal dan durhaka" kelakarnya.

Namun setelah tinggal di Australia, Hans yang kala itu masih muda melanjutkan studi di perguruan tinggi. "Saya menyelesaikan kuliah di Australia," ceritanya.

Antara tahun 1980-an Hans tinggal di Broome, sebuah kota di Australia barat laut, yang warganya banyak pandai berbahasa Melayu dan Bahasa Indonesia. Kota itu juga dikenal sebagai kota mutiara. Dulu, cerita Hans, banyak orang dari Hindia Belanda, nama Indonesia di zaman Belanda, datang ke kota ini. Mereka bekerja sebagai penyelam dan bekerja di kapal mutiara.

Bahasa Melayu
"Di kota Broome itu bahasa Melayu pasar jadi bahasa pengantar. Antara orang semua bangsa Asia dan juga orang Aborigin setempat bahasa pengantarnya bahasa Melayu." Sampai sekarang masih banyak orang yang menguasai bahasa Indonesia di sana, tambah Hans. Ia mengaku pada saat itu ia mulai tertarik dengan bahasa Indonesia.

"Saya mulai tertarik dengan bahasa (Indonesia,red). Terus kemudian saya ingin memperdalam bahasa itu di Indonesia. Karena saya sudah punya dasar," katanya dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Belajar ke Indonesia
Setelah sempat kuliah dan jadi guru di Australia Hans ikut serta dalam darmasiswa atau beasiswa untuk belajar bahasa dan budaya Indonesia. "Entah itu karawitan, gamelan atau pedalangan, atau tari tradisional, bahasa, sastra dan sebagainya," katanya dalam bahasa Indonesia yang lancar.

Bukan karena bahasa dan budaya saja yang menyebabkan warga Australia asal Jerman ini tinggal di Jawa, tapi juga karena jodoh. "Terus di sini (Solo,red) saya dapat jodoh orang Jawa, " tuturnya.

Meski ia orang Jerman, di Solo ia mengajar bahasa Inggris di berbagai sekolah tinggi.  Tapi ia kadang-kadang juga mengajar bahasa Jerman. "Bahasa Jerman sudah mulai banyak diminati lagi," katanya.

Diskusi

Kirim komentar

Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.

Isi bagian ini tidak akan ditampilkan untuk umum.
  • Tag HTML yang dibolehkan: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd> <p> <br>
  • Baris dan paragraf baru akan dibuat otomatis.
  • Alamat web dan email otomatis akan diubah menjadi link.

Informasi lebih lanjut tentang opsi format tulisan

Video pilihan

Stedelijk Museum Amsterdam Dibuka untuk Pers
Stedelijk Museum di Amsterdam dibuka untuk pers Rabu (09/05), setelah...
Terapi Virtual untuk Korban Pelecehan Seksual
Tim psikolog Universitas Erasmus Rotterdam, Belanda, menggunakan...
RNW - INFORMASI, WARTA BERITA DAN ANALISA DALAM 10 BAHASA, 24 JAM SEHARI, MELALUI RADIO, TELEVISI DAN INTERNET