Mayoritas warga Indonesia pada prinsipnya setuju, bahwa kepercayaan dan agama orang lain harus dihargai. Tapi hal tersebut tidak secara konsisten diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian tulis The Jakarta Globe, koran online Indonesia yang berbahasa Inggris mengawali pemberitaannya.
Menurut survei yang diselenggarakan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) bekerjasama dengan Universitas Islam Negeri Jakarta, Syarif Hidayatullah itu 95,4% dari 2500 responden di seluruh Indonesia mendukung prinsip toleransi beragama.
Namun Eva Kusuma Sundari, anggota parlemen yang mengumumkan hasil survei tersebut menyatakan, kenyataan sehari-hari tidak mencerminkan konsensus luas ini. "Ini berarti toleransi terhadap perbedaan agama, hanya wacana intelektual atau komitmen moral belaka," katanya.
"Ini belum terjadi pada level tindakan atau komitmen politik," tambahnya.
Kesenjangan teori dan praktek
Empat puluh enam persen responden mengatakan, tidak setuju kalau ada keluarga terdekatnya melakukan pernikahan campur antar agama. Ini berarti ada kesenjangan antara praktek dan teori dalam hal toleransi beragama.
Eva mengatakan, hasil survei ini juga menunjukkan rendahnya penerapan Pancasila, yang menetapkan kesetaraan semua agama. Eva menambahkan, hasil survei ini harus dijadikan sebagai peringatan serius bagi MPR dan Pemerintah bahwa Pancasila makin kehilangan artinya sebagai ideologi bangsa.
Minggu kerukunan beragama
Sementara itu, ribuan umat dari enam agama resmi di Indonesia Ahad (12/02) berkumpul di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menghadiri Pekan Kerukunan Antar Umat Beragama Sedunia atau World Interfaith Harmony Week.
Acara itu antara lain dihadiri Din Syamsuddin, Ketua DPP Muhammadyiah, organisasi Islam nomor dua terbesar di Indonesia, Andreas Sewangu dari Wali Gereja Indonesia (KWI), I Nyoman Udayana dari Persatuan Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dan Wawan Wiratman dari Dewan Tinggi Konghucu.
"Dalam kesempatan ini, kami berjanji, tidak ada agama di Indonesia yang menolak perbedaan," kata Din Syamsuddin.
Peranan MPR
Ketua MPR Taufik Kiemas bertekad akan mendukung program apa pun yang mendorong toleransi antar agama. "Tiap tahun MPR akan mendukung kegiatan-kegiatan yang memperkuat kembali komitmen memelihara kerukunan beragama di Indonesia," katanya.
Hajriyanto Thohari, wakil ketua MPR, menambahkan, lembaga-lembaga negara harus bekerjasama dengan umat bergama untuk mendorong persatuan dalam keragaman dan mengakui karakter pluralis bangsa.
Namun ia juga setuju dengan pendapat yang mengatakan, meski mayoritas rakyat Indonesia mengakui Pancasila dan pluralisme, tapi ini hanya dalam teori, bukan dalam praktek. Demikian The Jakarta Globe.






















Resend ada koreksi:
Saya punya analisa sedikit berbeda. Dijaman reformasi ini, kelihatannya di Indonesia konsep "TOLERANSI" itu masih memakai PENGERTIAN sama rasa sama rata. Kaya ongkos angkot"JAUH DEKAT ONGKOS 2000 RUPIAH".Mustinya yang JAUH mbayar LEBIH 2000 yang DEKAT kurang dari 2000. Yang mayoritas mendapat porsi yang lebih banyak dari pada yang minoritas. Itu lebih Demokratis.
Coba pembaca lebih mengamati lebih teliti dan arif. Di Indonesia ini MINORITAS STATUS SOSIALNYA lebih MENONJOL dari Mayoritas. Coba lihat status sosial, ekonomi, lifestyle secara umum. Minoritas lebih menetukan.
Saya kira saatnya Indonesia harus lebih DEMOKRATIS. Kalau nggak yah STABILITAS selalu labil. Banyak Contoh lho, kalau anda mlihat status sosial, ekonomi dan gaya hidup, GNP dll.
Salam
Satrio Wibowo
Saya punya analisa sedikit berbeda. Dijaman reformasi ini, kelihatannya di Indonesia konsep "TOLERANSI" itu masih memakai PENGERTIAN sama rasa sama rata. Kaya ongkos angkot"JAUH DEKAT ONGKOS 2000 RUPIAH".Mustinya yang JAUH mbayar LEBIH 2000 yang DEKAT kurang dari 2000. Yang mayoritas mendapat porsi yang lebih banyak dari pada yang mayoritas. Itu lebih Demokratis.
Coba pembaca lebih mengamati lebih teliti dan arif. Di Indonesia ini MINORITAS lebih MENONJOL dari Mayoritas. Coba lihat status sosial, ekonomi, lifestyle secara umum. Minoritas lebih menetukan.
banyak, yang dekat yang bayar lebih Sedikit. Artinya Porsi Mayoritas harus diberi jatah yang lebih dari dan yang minoritas dapat jatah yang sebanding. Coba lihat di Indonesia itu banyak yang minoritas yang menentukan. Saya kira saatnya Indonesia harus lebih DEMOKRATIS. Kalau nggak yah STABILITAS selalu labil. Banyak Contoh lho, kalau anda mlihat status sosial, ekonomi dan gaya hidup, GNP dll.
Salam
Satrio Wibowo
Perayaan agama china menghiasi program TV lebih banyak sekarang. Mengkristenkan orang miskin. Mengubah ayat-ayat islam yang dipelintirkan. Membenarkan group wahibi(FPI/buatan juis) berprilaku lebih ganas. Itulah bedanya sekarang dari semasa saya masih kecil. Semuanya ada dasar uang dibelakangnya. Kebebasan itu adalah sesuatu memberika manusia Indonesia merasa nyaman bukan harus berpihak pada satu dan lainnya. Jika kita sudah berpihak dan merasa lebih baik dari yang lain, maka disitulah akan timbul masalah. Siapa yang mau menjadi budak.??? Janganlah membuat diri anda mempunyai perasaan seorang turis di negeri anda sendir. Prinsip turis, aku membawa uang dan aku bisa melaukan apa saja.!!!! Jika anda tidak mau aku cari tempat lain.(ATHEIS/kapitalis). Aku rasa perasaan ini tidak cocok jika kita tinggal di Indonesia dan mempunyai famili. Kita tidak bisa mencontoh karakter orang yang hanya tinggal 1 minggu saja. Mereka tentu akan berbicara lain yang akan membuat kacau tetapi sesudah itu mereka pergi dan tinggal kita yang mengkhayal dari bahasa mereka.!!!! Kita tidak harus menerima fikiran orang barat yang pilihan pertama mereka menjadi bintang film porno. Bagi mereka bekerja itu tidak menyenangkan, mereka lebih memilih menjadi bintang film porno kerena kesenangan dapat dan kaya lagi karena film-film mereka dibeli didunia. Orang ini sukanya traveling untuk menjual kaset-kaset mereka. Dan seorang 10temanku berprofesi berbeda yang tamatan universitas akan lebih memilih menjadi bintang film porno dari profesinya sekarang sebagai dokter,insinyur,advocat. Sebab untuk membuat uang dari profesi ini mereka harus bekerja setiap hari. SEdangbintang film porno akan traveling setiap hari dan membuat film di mana saja. Orang inilah yang paling berbahagia menurutku dari yang sujud setiap hari di rumah ibadah. Tidak ada yang bisa di interview dari mereka yang pernah pulang dari surga. Ada satu film dimana seorang pastor dari kecil hingga tua mengatakan, dia disana karena tidak tahu mau berbuat apa lagi karena tidak ada kepandaian lain. Disana akan menerima gaji tinggi dan hidup sehat karena makanan tersedia. Tetapi kemudian dia tidak percaya lagi dengan yang dilakukannya yaitu mencari Tuhan.!!! Sehingga dia menjadi liar di kehidupan sexualnya.!!!!
Pokoknya yang saya ingat, sewaktu antara tahun 1950 - 1963an, saya melihat dan mengalami, Agama tidak menjadi tema bagi kami2 di Yogya. Pandangan POLITIS juga TIDAK menjadi tema di masyarakat kami di Yogyakarta.
Agama bukan sebagai bahan pembicaraan di keluarga maupun teman2. Agama tidak dipermasalahkan. Satu keluarga ada yang memeluk Agama Katolik, Kristen Protestan, Islam Santri, Islam Abangan, Buda, Hindu, Kejawen OK....OK saja. Mereka RUKUN2 saja!!
Mau Natalan ayo, mau Lebaran ayo, mau Apeman OK, Waisyak ke Borobudur, mari. Sama sekali TIDAK menjadi TEMA, TIDAK menjadi PIKIRAN, AGAMA-MU apa!!!
Baru ketika situasi mulai memanas, 1964 - 1965 (pecahnya G30S)situasi berubah pelan2 tapi pasti menjadi panas. Menjadi tidak ada kedaimaian lagi. Mein armes Volk!!
Bahkan SAUDARA dan SAHABAT dan TETANGGA saling BUNUH!! Saya alami sendiri.
Setelah itu, tahun 68an zaman OrBa berjalan, maka tahun2 72-74an Agama mulai menjadi tema. Agama menjadi alat untuk TITIAN KARIER. Soeharto membutuhkan power Islam (untuk dijinakkan)agar dia tetap bisa bertahta.
Sampai hari ini Agama menjadi tema. Lihat saja kiprah2 FPI, kasus Yasmin Bogor, Ambon dlsbnya. Janganlah kita pura2 menutup mata, bahwa SARA adalah kelemahan bangsa kita. Terutama di A = Agama dan S = Suku.
Dikedua Faktor itulah terjadi selalu konflik2 antar kita sendiri. Konflik2 ini adalah dibuat, direkayasa (kunsmattig, kuenstlich, artificial). Ada Arsitek nya. Maka jelaslah lalu dikatakan, orang Indonesia TIDAK TOLERAN.
Tetapi jelas jelas saya menolak DIAGNOSA ini. Baik secara teori maupun praktek.
Rakyat negara Indonesia adalah manusia2 yang toleran. Tapi janganlah kami di adu domba. Tingkat pendidikan manusia Indonesia itu masih sangat heterogen. Sehingga mudah di provokasi.Makanan empuk bagiArsitekprovokator.
Maka himbauan saya kepada para Arsitekprovokator (saya tahu ini himbauan yang sia2) , janganlah adu domba kami. Biarkanlah kami hidup damai.
Melihat banyaknya kerusuhan di Indonesia maka bagi saya tidaklah lagi mengherankan hasil survei yg dicapai.Sayangnya persentase agama apa yg dipeluk responden yg bersangkutan tidak dinyatakan. Hasil ini menunjukan juga secara jelas bahwa golongan agama kurang memandang perlunya mendidik umatnya secara intensif bertoleransi keagamaan. Keberlakuannya syariat Islam di beberapa daerah adalah pernyataan dari besarnya minus kerukunan beragama.
Anda benar, artikel ini benar dalam arti; jika ada orang Indonesia menjunjung tinggi toleransi itu karena nilai2 asli sebagai bangsa Indonesia-nya muncul dengan sendirinya sebagai kultur Indonesia, TAPI semakin orang Indonesia mempelajari agamanya dengan lebih jauh justru sikap toleran itu akan memudar. Beberapa daerah berhasil yang muncul justru nilai asli Indonesia, ini mau dirubah oleh segelintir orang radikal.
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.