Arjen Onderdewijngaard adalah pria Belanda yang total jatuh cinta pada Indonesia. Itu terlihat dari intensitas kunjungannya ke Indonesia, setahun sekali untuk enam bulan.
Sejak tahun 1980-an ia hidup enam bulan di Indonesia dan enam bulan di Belanda, begitu seterusnya. “Aku cinta Indonesia, jadi coba sebanyak mungkin main ke sana.”
Hidup Hemat
Karena sudah 30 tahunan lebih sering pulang balik Indonesia-Belanda, dia punya banyak teman di berbagai kota Indonesia. Itu bukan berarti Arjen punya banyak uang, tapi karena hidup hemat. “Saya menabung sedikit demi sedikit untuk beli tiket pesawat. Di Indonesia menginap di rumah teman-teman, makan di warteg, naik kereta api non-AC.”
Jongkok di WC
Hidup sederhana adalah pilihannya. Sebagai penulis yang mendalami suku-suku pedalaman, adat dan seni budaya, ia pernah berkunjung dan mengikuti kehidupan tradisional suku Dayak, Badui dan lainnya.
Desember 2010 dia berkunjung ke Kampung Sauf di Maybrat Papua. Pengalamannya itu dituturkan dalam blog dalam Bahasa Belanda Onderweg. Dia terjun berkecimpung langsung dengan masyarakat yang dia kunjungi. Di Sauf Sorong dia tidak canggung jongkok di WC umum untuk komunitas bersama.
Bukan Koteka
Ia sempat terkejut menemukan kehidupan suku pedalaman di Sauf Papua yang ternyata lebih modern daripada suku pedalaman di Jawa dan Bali yang juga pernah ia kunjungi. Rumah orang di sana bukan gubuk, tapi sudah rumah tembok. Pakaiannya bukan lagi koteka tapi sudah pakai jeans dan juga kaos klub-klub besar sepak bola, Real Madrid, Manchester United dan Arsenal. Itu pengalaman baru bagi pria Belanda yang aktif pula di de Pindakaasfestival, organisasi Indo-Belanda-Indonesia yang punya ikatan batin dengan Indonesia.
Globalisasi
Baginya Indonesia zaman sekarang itu tidak jauh berbeda dengan Belanda. Pakaiannya sama, hobinya tidak berbeda, musiknya senada dan grafittynya juga serupa.
Kulit Putih
Sebesar apa pun cintanya pada Indonesia, tetap saja ada hambatan. Misalnya, ia tidak bisa sembarangan masuk ke wilayah adat tertentu. “Karena saya bule jadi hanya boleh masuk Badui Luar, tidak boleh ke suku Badui Dalam.”























"ITULAH KAMPUNG SAUF YANG TIDAK KALA DENGAN DUNIA GLOBAL" by.solossa.m
Kirim komentar
Komentar harus sesuai topik dan tidak boleh melebihi 150 kata. RNW berhak menghapus komentar di luar topik atau mengandung unsur penghinaan. Komentar merupakan tanggung jawab pribadi si pemberi komentar dan tidak mencerminkan sikap RNW, kecuali ditegaskan demikian.